Entah apa yang merasuki, Propaganda Maksiat Kian Meningkat

Entah apa yang merasuki, Propaganda Maksiat Kian Meningkat




Oleh : Nurahma Febi Aulia, SH

Propaganda kemaksiatan nampaknya telah menjadi santapan bagi dunia perfilman khususnya di Indonesia saat ini.

Film merupakan salah satu sarana media yang digunakan untuk mempropagandakan nilai-nilai kehidupan yang sering kali menjadi tuntunan masyarakat meski itu pro atau kontra terhadap kebudayaan atau nilai-nilai kehidupan masyarakat. Tak memperhatikan apakah hal yang disajikan itu mampu membawa kemaslahatan atau kemudharatan dalam kehidupan. 

Hal ini yang menjadi bukti setelah suksesnya film Dua Garis Biru dan The Santri, meskipun telah mendapat penolakan dari berbagai kalangan. Namun dibalik suksesnya film berbau kontroversi tersebut, nampaknya industry perfilman Indonesia semakin ketagihan memproduksi film-film berbau kontroversi.

Sebut saja film keluaran terbaru SIN, dalam sajian film SIN yang bergenre drama romantic yang tema dalam film ini kontroversial karena bercerita tentang kakak beradik yang saling jatuh. (viva.co.id). Film SIN adalah film yang di adaptasi dari novel best seller tahun 2017 dengan judul yang sama, hingga dibintangi banyak aktor top hingga dirilis di bioskop pada tanggal 10 oktober 2019. 
Dibalik produksi sajian seperti ini adalah keuntungan materi yang sebenarnya yang hendak di capai berbasis bisnis dan komoditas industrialisasi, sehingga film ini dibuat dengan semenarik mungkin yang nantinya mampu diterima diseluruh khalayak. Ketika hal ini dianggap biasa saja akan menjadikan akhlak generasi bangsa ini semakin terkikis jauh dari nilai Islam, yang semakin bebas tanpa aturan.

Sekulerisasi Penyebab Rusak Generasi

Adanya paham sekulerisme dan liberalisme di Indonesia tidak hanya merusak generasi saja tapi juga merusak kehidupan dan struktur sosial kaum muslim. Lebih jauh dari itu keduanya juga mengubah mainstream berpikir mayoritas umat Islam. Awalnya mereka memandang agama Islam sebagai sesuatu yang suci dan harus dilindungi. Namun kemudian, cara pandang mereka berubah, yakni justru ingin melepaskan diri dari kendali agama.

Pelan namun pasti, sebagian besar umat Islam mulai masuk kedalam perangkap berpikir pragmatis-sekular-liberal dan mulai melupakan sudut pandang hakiki mereka, yakni akidah Islam. Akibatnya, umat mulai lengah dan teledor dalam menjaga akidahnya. Bahkan sebagian mereka tidak lagi memandang akidah Islam sebagai perkara penting yang harus dijaga dan dilindungi. Mereka telah hanyut diterjang derasnya arus sekulerisme dan liberalisme.

Islam Solusi Kerusakan Generasi

Akhlak generasi masyarakat sangat menentukan kemajuan generasi hal ini menjadi faktor terpenting dalam membina suatu umat dan membangun suatu negara.

Tiga pilar pembentuk masyarakat berakhlak mulia yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain diantaranya:

1. Menanamkan akidah Islam. Akidah Islam merupakan harta yang tak ternilai harganya bagi seorang muslim. Sebab, ia adalah pangkal dari seluruh keluhuran dan kebajikan. Tanpa iman, manusia laksana bangkai hidup yang tak memiliki nilai dan harga sedikitpun. Atas dasar itu, Allah dan Rasul-Nya telah mewajibkan seorang muslim harus menjaga akidahnya dengan sungguh-sungguh dalam keadaan dan kondisi bagaimanapun.

2. Adanya peran keluarga. Walaupun keluarga dianggap entitas terkecil dari masyarakat, peran dan andilnya dalam menjaga akidah tidak bisa dianggap remeh. Bahkan saat ini, pada saat umat Islam tidak bisa berharap banyak kepada masyarakat dan negaranya, keluarga adalah benteng pertahanan yang bisa dihandalkan untuk melindungi akidah generasi muslim. Pasalnya, keluarga adalah tempat seorang anak pertama kali bersinggungan dengan pengetahuan, kebiasaan dan perilaku tertentu yang kelak sangat menentukan cara pandang. Kebiasaan dan perilakunya di tengah-tengah masyarakat.

3. Peran Negara. Syariah Islam telah menetapkan negara sebagai institusi yang bertanggung jawab sepenuhnya dalam menjaga akidah umat, melaksanakan hukum-hukum syariah dan menyebarkan Islam keseluruh penjuru dunia. Ketentuan ini didasarkan pada sabda Nabi saw:

Artinya : pemimpin itu adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya (HR al-Bukhari).

Tugas pengurusan rakyat tidak akan sempurna jika pemimpin negara tidak ikut campur dalam mengelola dan mengatur urusan-urusan rakyat, termasuk didalamnya urusan menjaga akidah umat. Campur tangan negara dalam melindungi akidah umat adalah mutlak demi menjaga individu dan masyarakat secara keseluruhan. 
Dalam Islam pembuatan film seharusnya memperhatikan hal-hal seperti isi film yang tidak bertentangan dengan norma agama, tidak ada adegan berduaan yang keduanya bukan mahrom, mengumbar aurat dan aturan lainya.

Sehingga film tersebut dapat menjadi sarana dakwah yang mampu membimbing umat hingga menjadi tuntunan sesuai syariat, yang akan mewujudkan masyarakat yang berakhlakul kharimah dan mewujudkan peradaban generasi unggu dan mulia.

Previous Post
Next Post

post written by:

Cerdaskan Umat, Raih Kebangkitan!

0 Comments: