Antara Penghargaan dan Penyesatan

Antara Penghargaan dan Penyesatan



         Oleh: Asmi Istafa
          Pendidik Generasi

Bicara tentang ibu memang tidak akan ada habisnya. Beribu puisi dan lagu bertema senada telah diciptakan. Semuanya bertujuan untuk mengungkapakan rasa dalam hati. Sebagai wujud cinta dan pujian untuk bunda tercinta, atas perjuangannya dalam keluarga.

Bisa dikatakan pekerjaan yang paling mulai  dalam rumah tangga  adalah pekerjaan seorang Ibu.Pekerjaan ini tidak terbatas oleh waktu. Tiada jam yang pasti kapan ia harus memulai dan mengakhiri pekerjaannya. Tiada hari-hari tertentu kapan harus masuk dan libur. Ibu adalah sosok manusia tangguh yang bisa berperan ganda.

Sebagai wujud apresiasi dan dukungan kepada kaum perempuan khususnya Ibu, maka setiap tahun ada peringatan nyari ibu. Di Indonesia peringatan hari ibu jatuh pada bulan Desember. Sejarah ini diawali dari Kongres perempuan pertama pada tanggal 22 Desember 1928 di Jogjakarta. Momentum tersebut telah mengukuhkan tekad dan semangat bersama untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sejak saat itu setiap tanggal 22 Desember diperingati sebagai hari ibu.

Seperti yang diunggah dalam situs www.kemenppa.go.id, sesuai dengan pedoman penyelenggaraan hari ibu ke 91 tahun 2019 tema PHI ke-91 tahun 2019 ini adalah Perempuan Berdaya, Indonesia Maju yang dibangun dengan melihat situasi dan kondisi bangsa Indonesia yang masih mengalami kekerasan, perlakukan diskriminatif, dan lain-lain. Kondisi tersebut memerlukan berbagai strategi, pelibatan semua unsur masyarakat dan multistakeholder sangat diperlukan, termasuk peran laki-laki dalam kampanye-kampanye/gerakan yang mendukung pencegahan kekerasan, dan pencapaian kesetaraan gender. He for She menjadi salah satu komitmen global yang harus digelorakan sampai akar rumput.

Peringatan hari Ibu ke-91 Tahun 2019 ini dapat mendorong terciptanya kesetaraan perempuan dan laki-laki dalam setiap aspek kehidupan.

Bila kita cermati tema yang diangkat dalam peringatan tersebut masih seputar Feminisme dan kesetaraan gender. Isu ini masih terus diangkat dan dihembuskan diharapkan dengan adanya kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam semua aspek kehidupan bisa menjadikan perempuan lebih mulia dan sejahtera.

Hal ini hanyalah ilusi belaka karena diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan justru muncul dari penerapan sistem hidup sekuler yang memisahkan urusan kehidupan dengan agama. Sistem ini lahir dari ideologi kapitalisme yang menjadikan materi sebagai standar kebahagiaan.

Sedangkan pemberdayaan perempuan
diharapkan menjadi faktor pendorong kemajuan sebuah negara. Karena semakin banyak perempuan yang bekerja di ranah publik menjadi wanita kantoran, buruh pabrik, wirausaha, IRT atau lebih jauh lagi para TKW mereka akan menyumbang pundi pundi rupiah untuk negara, sehingga disebut pahlawan devisa.

Sedangkan menjadi  perempuan yang tidak bekerja dan hanya menjadi ibu, mengurus rumah tangga dan mendidik anak anaknya disebut tidak berdaya dan tidak ikut memajukan negaranya, atau bahkan hanya menjadi beban negara.

Begitu banyak program dilakukan oleh pemerintah seperti PEP (Pemberdayaan Ekonomi Perempuan) pada tahun 2010 namun apa hasilnya?) Angka perceraian semakin meningkat. Hal ini terjadi karena perempuan merasa sudah bisa mencukupi kebutuhan hidupnya tanpa butuh lagi nafkah dari suami.

Semakin banyak wanita bekerja diluar rumah maka akan semakin mengikis peran keibuannya. Peran utamanya sebagai pendidik generasi yang cerdas dan berahlak akan tersita karena pekerjaan.

Walhasil bukan semakin sejahtera kehidupan perempuan namun masalah baru akan muncul yaitu terabainya pendidikan anak anak dari ibunya, dan keretakan rumah tangga karena semakin tidak dihargainya peran suami. Bukan kemajuan negara yang didapat namun kesengsaraan.

Kebahagiaan dan kesejahteraan bisa didapat dengan mengembalikan peran dan fungsi perempuan yang sesungguhnya. Dalam Islam wanita dan laki laki sudah diciptakan Allah dengan ketentuan masing masing. Laki laki dan perempuan dipandang sama sebagai hamba Allah dan diciptakan untuk beribadah kepadaNya. Tidak perlu kesetaraan gender untuk mendapat kebahagiaan.  Laki-laki dan perempuan  sama-sama mencari rida Allah lewat taklif ( hukum yang berasal dari  Al-Qur'an dan Hadis) yang Allah berikan sesuai dengan fitrah mereka, bukan berkompetisi antar gender, namun berkolaborasi.

Peran utama perempuan dalam Islam adalah menjadi Ibu dan pengatur urusan rumah tangga suaminya. Dengan menjalankan peran ini secara maksimal maka akan tercipta keluarga yang harmonis dan sejahtera terbentuk generasi penerus bangsa yang cerdas dan unggul. Dengan penerapan Islam secara kaffah oleh negara akan membawa kemajuan dalam segala bidang insyaallah. Karena keberkahan akan tercurah dari langit dan bumi.
Wallahu a'lam bishshawab

Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: