Harbolnas dan Budaya Konsumtif

Harbolnas dan Budaya Konsumtif



Oleh: Neng Ipeh 
(Pemerhati Sosial dan Politik) 


Sejak 2014, 12 Desember ditandai sebagai Hari Belanja Online Nasional atau biasa disingkat dengan Harbolnas. Para pengguna telepon pintar atau kaum milenial pasti sudah tahu tentang ini. Apalagi, dalam beberapa hari terakhir, melalui iklan-iklan yang ditayangkan, situs-situs toko online seakan tak ingin lupa mengingatkan kita, betapa pentingnya hari ini untuk dicatat.

Tentu saja hari ini layak disambut dengan gembira. Toko-toko online akan menyediakan diskon besar-besaran sehingga peluang kita untuk membeli barang dengan harga lebih murah menjadi lebih besar. Barang idaman yang mungkin selama ini tidak terjangkau kita, mudah-mudahan bisa kita miliki dengan lebih murah berkat potongan harga yang ditawarkan.

Memang, dengan adanya Hari Belanja Online Nasional memberi peluang bagi para industri e-commerce dalam berlomba-lomba menjual berbagai macam produk mereka, meningkatkan jumlah konsumen, dan tentunya meningkatkan keuntungan meskipun pada prakteknya mereka (e-commerce) memberi potongan harga serta cashback secara besar-besaran. Namun, semua adalah salah satu dari sekian banyak bentuk strategi marketing. Dan dari konsumen, Harbolnas adalah kesempatan besar untuk berbelanja dengan berbagai diskon dan tawaran menarik lainnya.

Sayangnya belakangan ini, seiring dengan menjamurnya toko-toko online, kita menjadi semakin sering mendapat tawaran atau melihat iklan dengan promo diskon yang tampak menggiurkan. Ini merupakan salah satu hal yang patut kita waspadai.

Filsuf kontemporer asal Prancis, Jean Baudrillard memaparkan bahwa dalam masyarakat konsumen (modern), orang cenderung tidak memiliki independensi mengenai apa yang ia butuhkan. Kehidupan masyarakat modern tidak lagi digerakkan oleh kebutuhan atau tuntutan personalnya, melainkan oleh kode signifikasi yang dibuat sedemikian rupa oleh sebuah tatanan sosial sehingga menjadi semacam patokan kebutuhan yang diakui bersama. Kode-kode inilah yang kemudian menjadi acuan masyarakat di dalam menentukan pilihannya, dan inilah yang harus kita hindari karena menjadikan kita berprilaku konsumtif.

Padahal sebagai seorang muslim haruslah senantiasa mengkonsumsi sesuatu yang pasti membawa manfaat dan mashlahat, sehingga jauh dari kesia-siaan karena kesia-siaan adalah kemubadziran. Sehingga Allah Subhanahu Wata'ala pun mencela prilaku tersebut sebagaimana yang tertuang dalam:

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

Artinya: Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (TQS. Al-Isra 27)

Semoga Allah memudahkan kita untuk mengisi waktu kita di setiap tempat dengan hal-hal yang bermanfaat dan berguna bagi orang lain terutama dalam masalah agama dan akhirat.
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: