Islam Kaffah itu Solusi, Benarkah Butuh Moderasi?

Islam Kaffah itu Solusi, Benarkah Butuh Moderasi?


ilustrasi : google


Ummu Zhafran
(Pegiat Opini, member Akademi Menulis Kreatif)

Setiap berkah yang tidak kita hiraukan berubah menjadi kutukan (Paulo Coelho, novelis Brazil)

Seluruh materi ujian di madrasah yang mengandung konten khilafah dan  jihad telah diperintahkan untuk ditarik dan diganti. Hal ini sesuai ketentuan regulasi penilaian yang diatur pada SK Dirjen Pendidikan Islam Nomor 3751, Nomor 5162 dan Nomor 5161 Tahun 2018 tentang Juknis Penilaian Hasil Belajar pada MA, MTs, dan MI.

Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah pada Kementerian Agama (Kemenag), Umar, menjelaskan  setiap materi ajaran yang berbau tidak mengedepankan kedamaian, keutuhan dan toleransi juga dihilangkan. 

"Karena kita mengedepankan pada Islam wasathiyah." (republika.co.id, 7/12/2019)

Kontan saja hal tersebut menuai kritikan.  Salah satunya datang dari Ketua Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PAN, Yandri Susanto, mempertanyakan kebijakan Kementerian Agama (Kemenag) yang akan menghilangkan materi pembelajaran maupun ujian di madrasah yang memiliki kandungan khilafah dan  jihad. Yandri menyebut pemerintah, dalam hal ini Kemenag, memiliki ketakutan luar biasa atau fobia terhadap sejarah Islam. (republika.co.id, 9/12/2019)

Akibat hujan kritik, tak sampai hitungan hari,  jihad dan khilafah batal dihapus dari materi pelajaran.  Hanya saja kedua materi tersebut bakal ditempatkan dalam konteks sejarah Islam.  Tidak seperti sebelumnya, jihad dan khilafah merupakan bahasan fikih Islam.  

"Itu hanya dipindahkan dari tadinya itu masuk ke (mata pelajaran) fikih dipindahkan ke sejarah ya. Sejarah enggak boleh hilang, tapi (materi khilafah dan jihad) di fikih tidak ada lagi," kata Menag di Kemenag, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, (kumparan.com, 9/12/2019)

Memprihatinkan.  Keberadaan materi jihad dan khilafah dalam kurikulum bukti keduanya memang ajaran Islam.  Termasuk kekayaan khazanah fikih yang sifatnya amaliyah, untuk diamalkan.  Namun mengapa sebelumnya kedua materi tersebut ingin dihapus dengan dalih mewujudkan Islam wasathiyah alias moderasi?  
Bahkan terkesan ingin dianggap sekedar bagian dari sejarah masa lalu yang ditelan zaman?  Sayang untuk yang satu ini, rumput bergoyang pun tak kuasa memberi jawaban.

Moderasi, Bukti  Islam Fobia?

Kamus KBBI mencatat definisi moderasi, 1 pengurangan kekerasan; 2 penghindaran keekstreman.  Dari pengertian ini tak heran oleh publik dinilai meresahkan.  Pasalnya mendorong  wujudnya moderasi dalam Islam sama halnya menganggap Islam mengajarkan kekerasan.  Luar biasa bukan?  Sungguh di luar logika orang yang beriman.

Harus diakui kekerasan, terorisme dan radikalisme merupakan stigma buruk menyerang Islam.  Tujuannya tak lain menciptakan suasana takut, cemas dan kawatir terhadap Islam dan simbol-simbol Islam.  Ujung-ujungnya bukan mustahil mengalienasi Islam dari penganutnya sendiri. 

Jujur saja, pasca penyerangan World Trade Centre, 11 /9/2001 dunia seolah terbagi dengan narasi “Either you are with us or you are with terrorists.” Yang mengatakannya siapa lagi kalau bukan orang nomor satu Amerika saat itu, George Bush Jr.  Saat itu Amerika Serikat merespons serangan terhadap WTC dengan meluncurkan Perang Melawan Teror (war on terror).  Tanpa pembuktian di persidangan menuding Al Qaidah sebagai pelaku.  Lantas  menyerang negeri muslim Afghanistan.  Dengan dalih ingin menggulingkan Taliban yang melindungi anggota-anggota Al- Qaidah.  Selanjutnya satu persatu  negara mulai memperkuat undang-undang anti-terorisme mereka dan memperluas kekuatan penegak hukumnya. (wikipedia)

 Sejak itu istilah teroris dan radikal yang harusnya berkonteks umum, lambat laun disematkan hanya  pada muslim dan simbol Islam.  Tak heran bila di dalam negeri, seorang pegiat media sosial sampai lantang berujar hal kontroversial, bahwa teroris itu ada dan agamanya Islam. (gelora.co, 1/12/2019)

Berkah dengan Syariah Kaffah

Maha Benar Allah yang telah menurunkan Islam melalui Rasulullah saw. dengan tak ada keraguan di dalamnya.  Layaknya kompas, Islam memandu umat manusia  mengarungi bahtera kehidupan.  Badai masalah tentu tak terhindarkan.  Namun Islam selalu hadir dengan jawaban. 

Allah swt. berfirman,

“(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (TQS An Nahl :89)

Sayangnya Islam tak sempurna tanpa khilafah.  Mengapa?  Sebab Islam dan khilafah tak terpisahkan adanya.  Jika Islam sebagai kompas, maka khilafah  bagai bahtera.  Tak guna kompas tanpa bahtera, sebaliknya dapatkah perahu berlayar tanpa kompasnya?

Sungguh tercatat dengan tinta emas sejarah kemuliaan dan berkahnya khilafah. Bagaimana tidak, kehidupan berjalan harmonis dengan diliputi suasana keimanan.

Seorang ulama dari Imam Mahzab Syafi’i bernama Al-Qarafiy berkata,

 “Sesungguhnya di antara kewajiban tiap Muslim terhadap kafir dzimmi (non muslim yang dilindungi dalam khilafah) adalah berbuat lembut kepada kaum lemah mereka, menutup kebutuhan kefakiran mereka, memberi makan orang yang kelaparan dari kalangan mereka, memberi pakaian kepada mereka yang telanjang, mengajak mereka bicara dengan kata-kata yang lembut, menanggung penderitaan tetangga dari mereka semampunya, bersikap lembut pada mereka bukan dengan cara menakuti, bukan pula dengan cara penghormatan yang berlebihan. Ikhlas memberi nasihat kepada mereka dalam semua urusannya, melawan orang yang hendak menyerang dan mengganggu mereka, menjaga harta, keluarga, kehormatan, dan seluruh hak serta kepentingan mereka. Setiap Muslim bergaul dengan mereka sebaik mungkin dengan akhlak mulia yang dapat dia lakukan.”

Jelaslah Islam itu solusi.  Tegaknya mendatangkan harmoni. Asalkan kaffah, syariahnya tentu tak butuh moderasi. Apalagi deradikalisasi. Tambahan lagi, menerapkan Islam merupakan konsekuensi iman sejati.  Tidakkah kita rindu   berkah dari Yang Maha Menepati Janji?

 “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (TQS Al A’raaf :96) Wallaahu a’lam.





Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: