MASIH BERHARAP KEBAIKAN PADA ATURAN MANUSIA, ANDA SALAH BESAR

MASIH BERHARAP KEBAIKAN PADA ATURAN MANUSIA, ANDA SALAH BESAR




Oleh : Ummu Aqeela

Puluhan karyawan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk yang tergabung dalam Ikatan Awak Kabin Garuda (Ikagi) mendatangi Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Jakarta Pusat kemarin (9/12/2019). Kedatangan mereka untuk menyampaikan kondisi perusahaan terutama saat dipimpin oleh Ari Askhara. Ari sendiri baru saja dicopot dari jabatan sebagai Direktur Utama Garuda Indonesia karena terjerat skandal Harley Davidson.

Sekjen Ikagi Jacqueline Tuwanakotta mengatakan, kebijakan Ari saat menjadi Direktur Utama merugikan karyawan. Sebutnya, kebijakan itu seperti mutasi hingga larangan ikut terbang (grounded).
Bukan hanya itu, kebijakan lain salah satunya adalah jam terbang yang melewati batas. Ada pramugari dipaksa terbang 18 Jam PP Jakarta-Melbourne. Pengalaman terbang PP ke luar negeri salah satunya dirasakan Hersanti, pramugari yang telah mengabdi di Garuda lebih dari 30 tahun. Seharusnya, kata dia, pramugari mendapat waktu istirahat untuk penerbangan jauh. Sebagai contoh, ia belum lama terbang PP Jakarta-Melbourne-Jakarta. Penerbangan itu ia tempuh selama 18 jam tanpa istirahat. Sebagai pramugari pihaknya juga ingin diberlakukan sebagai manusia pada umumnya. Ia juga butuh waktu istirahat di sela jam kerjanya yang panjang. Dia berharap, Kementerian BUMN mau mendengarkan aspirasi dari para pekerja. ( detikfinance, Selasa 10/12/2019 )

Salah satu bukti bahwa segala sesuatu yang disandarkan pada aturan manusia pasti ketidakadilan yang dirasakannya. Karena sejatinya manusia adalah makhluk yang tidak akan mampu menentukan aturan yang membawa kemaslahatan bagi kehidupannya secara hakiki. Keterbatasan akal manusialah yang menjadi penyebabnya, apa yang dipandang baik saat ini belum tentu menjadi terus baik kedepannya. Sistem yang menjerat saat ini juga berperan aktif dalam menentukan kemslahatan bersama. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pemahaman kapitalisme dan sekulerisme saat ini menyebar seperti udara terhirup dengan sangat dalam, sehingga kita susah untuk menghindari tanpa menghirupnya. 

Kapitalisme itu sendiri adalah pemahaman, bahwa segala sesuatu tidak tanduk yang dilakukan bersandar kepada materi sebagai tujuan utamanya. Berbondong-bondong mencari keuntungan pribadi dengan cara apapun, termasuk menekan pihak lain untuk meraih keinginannya. Kapitalisme menjadi momok terbesar saat ini, layaknya seekor gurita raksasa yang tentakelnya membelit negara-negara miskin dan berkembang didunia. Tanpa sadar terus menerus dihisap, dieksploitasi, dan dikeruk kekayaannya. 

Banyak fakta dan fenomena yang menunjukkan bahwa pemikiran kapitalis sudah menjamur serta berkembang biak pada sistem perekonomian Indonesia. Dampak yang dirasakan secara real adalah kekayaan menumpuk pada segelintir orang atau perusahaan tertentu saja, persis seperti kejadian yang tertuang diatas. Begitupun dengan jumlah pengangguran yang semakin meningkat karena negara kehilangan sumber-sumber pendapatannya. Masyarakat bawah terbebani dengan harga-harga yang makin melambung, sumber daya alam milik rakyat banyak dikuasai oleh pihak swasta dan pihak asing. Lebih ironisnya lagi rakyat terhalang untuk memanfaatkan dan menikmati milik mereka sendiri. Bahkan rakyat dieksploitasi sedemikian rupa untuk membayar apapun yang seharusnya dapat dinikmati secara percuma.

Dengan melihat berbagai dampak negatif sistem buatan manusia ini masihkah kita sebagai manusia mempercayainya, yang sudah jelas hal tersebut dalam Islam tidak dibenarkan. Karena hanya Islamlah sistem yang sempurna, didalamnya mengatur segala bentuk interaksi antar sesama manusia agar tidak saling merugikan satu sama lain, sosialnya, politiknya, serta mencakup masalah ekonominya. Agar segala sesuatu berjalan semestinya, Islam menuntut  seluruh hukum syara’ dilaksanakan secara kaffah dan menyeluruh. Ketika kita berharap keadilan itu kita rasakan, maka berjuanglah untuk menegakkan syari’atNYA tanpa pengecualian. Karena hanya Allah lah yang memanusiakan manusia tanpa ada keraguan. 

Wallahu’Alam bi showab



Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: