Peran Keluarga Dalam Islam

Peran Keluarga Dalam Islam




Oleh: Siratul Khasanah

Pada bulan november 2019, kita dikejutkan dengan pemberitaan seorang nelayan kelong apung di Kecamatan Gunung Kijang. Junaidi dilaporkan istri karena menyetubuhi dua anak kandungnya. Pria berusia 40 tahun itu meringkuk dijeruji besi Mapolsek Gunung Kijang, Jumat (15/11/2019).

Kapolsek Gunung Kijang, AKP Monang P Silalahi mengatakan pelaku telah menyetubuhi dua anak kandungnya sebanyak 3 kali. Kejadiannya pada awal Agustus serta awal dan pertengahan Oktober 2019. “Istri pelaku bekerja jualan ikan bilis. Jadi saat istrinya tak ada di rumah, pelaku menjalankan aksi bejatnya,” ujar Monang.

Dalam keluarga seharusnya peran ayah-lah yang menjadi tulang punggung keluarga mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan keluarga, bukanlah sebaliknya, menjadi tanggungjawab istri. Ayah jugalah yang menjamin keamanan, melindungi dan mengayomi keluarga. Ketika ayah bekerja, istri yang menjaga harta benda suami, melakukan pekerjaan rumah, merawat dan mendidik anak.

Begitu penting kebutuhan iman dan  ilmu dalam diri kita ketika membangun sebuah keluarga.  Dan seharusnya kita perlu tahu dan belajar bagaimana Islam -sebagai pedoman hidup kita- memandang peran keluarga. 

Islam memandang betapa pentingnya peran keluarga dalam menentukan kepribadian anak. Sebagaimana di dalam hadis Rasulullah saw. _“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi”_ (HR. Muttafaq ‘alaih).

Keluarga memiliki peran strategis dan pondasi utama dalam menjaga anggotanya agar terbebas dari api neraka. Sebagaimana yang termaktub di dalam Alquran surah At-Tahrim ayat 6: _“Peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka”._ 
Beberapa peran keluarga sebagai pemberi perlindungan terhadap anak, yakni: menanamkan keimanan yang kokoh kepada Allah Swt, membentuk kepribadian Islam sejak dini, melindungi akalnya dengan ilmu pengetahuan yang diperlukan dan disesuaikan dengan kebutuhan anak, melindungi hatinya dari segala penyakit hati, senantiasa mengingatkan anak untuk berdzikir kepada Allah swt. dimanapun dan kapanpun, melindungi tubuhnya dari segala yang membahayakan, termasuk menyediakan makanan dan minuman yang sehat, bergizi serta halal.

Untuk dapat mewujudkan semua hal tersebut dibutuhkan ilmu bagaimana mebangun keluarga didalam Islam. Sehingga anak mendapatkan haknya dengan baik, bukan malah terbengkalai atau bahkan menjadi korban nafsu birahi orang tua. _Na'udzubillahi min dzalik._ 
Berikutnya yang tak kalah penting juga adalah dibutuhkan peran negara berdasar Islam yang akan menjamin kebutuhan dasar tiap warganya. Sehingga peran masing-masing anggota keluarga dapat berjalan sebagaimana mestinya. Istri mnjadi pendidik dan pengatur rumah tangga, suami berkewajiban mencari nafkah. 
Negara menyediakan ketercukupan lapangan kerja yang diperuntukkan bagi laki-laki baligh. Bukan seperti hari ini yang justru membuka seluas-luasnya kesempatan kerja justru bagi perempuan. Negara juga akan mendorong setiap laki-laki baligh untuk giat memenuhi kebutuhan keluarganya. Negara pun memudahkan bagaimana setiap orang dapat memiliki barang-barang kebutuhan pokok sandang, pangan dan papan secara terjangkau. Termasuk menggratiskan pendidikan dan kesehatan sehingga tidak membebani warganya. 

Dengan sistem Islam, sudah dapat dipastikan bagaimana tumbuh kembang anak akan berjalan kondusif. Mulai dari lingkungan keluarga, masyarakat hingga negara menjadi tempat aman bagi perkembangan fisik dan mental mereka. 
Dalam Islam, anak adalah aset yang sangat berharga untuk kemajuan Islam dan penerus perjuangan Islam. Maka sistem Islam tidak akan memgorbankan mereka sebagai aset ekonomi seperti hari ini. Semoga kita menjadi orang tua yang selalu ingat peran penting keluarga di dalam Islam dan selalu memegang teguh keimanan agar setiap yang kita lakukan tidak bertentangan dengan apa yang Allah perintahkan.
 _Wallahu a'lam bish showab_
Previous Post
Next Post

post written by:

Cerdaskan Umat, Raih Kebangkitan!

0 Comments: