Menyambut Bisyaroh Penaklukan Roma

Menyambut Bisyaroh Penaklukan Roma






Oleh: Nada Izzati
(Siswi HSG SMP Mutiara Umat Sidoarjo)


Ketika itu, salah seorang sahabat kepada Rasulullah : “ Di antara dua kota ini manakah yang akan ditakhlukan terlebih dahulu : Konstantinopel ataukah Roma? “ Beliau menjawab : “ kota Heraklius ditaklukan lebih dulu, yaitu Konstantinopel. “


Janji Nabi SAW itu ternyata memotivasi setiap khalifah kaum muslim untuk mewujudkannya. Upaya serius penaklukan Konstantinopel telah berlangsung sejak masa khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan (668-669 M).


Namun, karena kuatnya pertahanan musuh, pasukan yang dipimpin oleh Yazid bin Muawiyah saat itu belum mampu menaklukan kota tersebut.
Konstantinopel dikenal dengan benteng-bentengnya yang sangat kokoh. 


Kota itu juga memiliki benteng alam berupa tiga lautan yang mengelilinginya, yaitu : Selat Bosphorus, Laut Marmara, Selat Tanduk Emas. Ketiga lautan itu dikelilingi oleh rantai besar sehingga sulit dimasuki kapal musuh.
Daratannya pun dijaga oleh benteng kokoh yang terbentang dari Laut Marmara sampai ke Selat Tanduk Emas. 

Kota ini terhitung sebagai kota yang paling aman dan terlindungi. Sebab di dalamnya terdapat pagar – pagar tinggi menjulang, menara pengintai yang kokoh, serta serdadu Bizantium di segala penjuru kota. Wajar jika wilayah itu sangat sulit ditakhlukkan.


Meski begitu, cita – cita untuk membebaskan Konstantinopel tidak pernah berhenti. Perjuangan berikutnya terus dilanjutkan oleh Khilafah Abbasiyah. Saat itu Khalifah Al Mahdi mengirim sebuah ekspedisi musim panas yang dipimpin oleh putranya, Harun ar Rasyid. Tujuannya untuk mengepung Konstantinopel. 


Tahun 166 H/ 782 M, Harun ar Rasyid kembali memimpin ekspedisi musim panas. Ekspedisi ini tiba hingga di laut yang mengelilingi Konstantinopel. Sayangnya usaha mewujudkan bisyarah Nabi ini pun gagal.
Selanjutnya, setelah Baghdad jatuh di tahun 656 M, yang menjadi akhir Khilafah Abbasiyyah, usaha membebaskan tetap diteruskan sampai ke generasi Khilafah Utsmaniyah, yakni Bayazid I (795- 803 H/ 1393- 1401 M) dan Sultan Murad II (1422 M). Pada akhirnya usaha ini pun tetap menemui kegagalan.


Walaupun demikian, upaya pembebasan tetap berlanjut. Akhirnya, Allah SWT mengabulkan impian umat Islam tersebut melalui kepemimpinan Sultan Muhammad al Fatih, pemimpin ketujuh dari Khilafah Utsmaniyah. Ia adalah orang shalih. Setelah diangkat menjadi sultan, al Fatih langsung melanjutkan tradisi para pendahulunya untuk terjun dalam penaklukan Konstantinopel
Muhammad al Fatih bersungguh sungguh menjemput janji Nabi SAW dengan memperbanyak jumlah pasukannya. 


Ia memperkuat pelatihan pasukan dengan berbagai seni tempur dan ketangkasan bersenjata. Ia juga menanamkan nilai- nilai tauhid dan keislaman sehingga pasukannya benar benar memiliki ruh jihad yang kuat.


Hampir dua bulan pasukan Muhammad al Fatih melakukan pengepungan dan serangan ke Konstantinopel, yaitu dari 26 Rabiul Awal- 19 Jumadil Ula 857 H (6 April – 28 Mei 1453 M). Al Fatih mengerahkan berbagai strategi. Di antaranya memindahkan kapal melalui bukit, membuat terowongan – terowongan, dan mebuat benteng bergerak dari kayu. Akhirnya, pada 20 Jumadil Ula 857 H (29 Mei 1453) Konstantinopel berhasil dibebaskan oleh pasukan Islam.


Apa yang dilakukan umat Islam saat itu menunjukkan bahwa mereka percaya 100% dengan apa yang Nabi SAW sampaikan. Itu dibuktikan dengan kesungguhan mereka dalam upaya menakhlukan Konstantinopel. 


Walaupun berulang kali gagal, para khalifah terus berupaya membuktikan janji Beliau tersebut. Akhirnya, perjuangan mereka membuahkan hasil sempurna di tangan pemuda bernama Muhammad. Itulah sebabnya ia disebut al Fatih, yang berarti Sang Penakluk.


Begitulah sejatinya seorang muslim. Kemenangan tidak datang dengan sendirinya. Ia akan datang setelah melalui proses perjuangan yang panjang. Kadang kala, harus mengorbankan jiwa dan raga. 


Setelah pembebasan Konstantinopel tujuh abad lalu, hingga sekarang umat Islam belum berhasil menakhlukan Roma. Memang, Rasulullah tidak secara jelas menyebutkan kapan Roma takhluk dan siapa pelakunya, seperti halnya pembebasan Konstantinopel. Tapi yakinlah, Roma pasti akan takhluk, dan kita wajib mengupayakannya. Rasul tak pernah ingkar janji.


Namun, pembebasan Roma tidak akan terjadi kecuali umat Islam sudah memiliki kekuatan yang sangat besar, setara atau bahkan melebihi kekuatan umat Islam saat membebaskan Konstantinopel dulu. Sebagaimana takluknya Konstantinopel saat kekhilafahan Islam masih tegak berdiri, Roma pun hanya akan takhluk saat kekhilafahan tegak nanti.

 Itulah tugas kita. Yakni, memperjuangkan tegaknya kembali khilafah. Bukan diam. Apalagi menghalang-halanginya.
Khilafah itulah yang akan mempersatukan kekuatan kaum muslim di seluruh penjuru dunia yang hari ini tercerai-berai. Kemudian munculah kekuatan. Hingga kelak, takhluklah Roma di tangan kita semua. Aamiin. Wallahu alam bishowab.
Previous Post
Next Post

post written by:

ibu rumah tangga yang ingin melejitkan potensi menulis, berbagi jariyah aksara demi kemuliaan diri dan kejayaan Islam

0 Comments: