Ironi Negeri 'Santuy'

Ironi Negeri 'Santuy'



          Oleh : Ummul Asminingrum

Akhir Januari ini jagad digegerkan dengan mewabahnya Virus corona. Virus corona baru atau dikenal dengan istilah Novel 201 coronavirus (2019 n-Cov) mulai terdeteksi di Kota Wuhan pada Desember 2019. Sejumlah warga di sana tiba-tiba menderita penyakit pneumonia misterius.

Presiden Cina Xi Jinping menyatakan bahwa negaranya dalam kondisi genting. Pada Sabtu (25/1), Xi mengadakan pertemuan politbiro guna membahas langkah-langkah penanganan wabah. Cina telah mengisolasi Wuhan. Hal itu dilakukan guna mencegah virus kian mewabah. Otoritas kesehatan pun sedang membangun dua rumah sakit baru di kota tersebut.

Informasi yang dihimpun, virus corona ini berasal dari sebuah pasar hewan di kota Wuhan, di mana hewan-hewan eksotik dan daging hewan liar diperdagangkan. Virus corona baru asal Wuhan ini dinyatakan bisa menular dari manusia ke manusia.
Diketahui bahwa virus corona pada umumnya hanya menyebar antar hewan atau dari hewan ke manusia.

Seperti diberitakan REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Jumlah kematian akibat virus corona di Cina terus meningkat. Hingga kini, sebanyak 56 orang meninggal. Hal tersebut dilaporkan Cina Central Televison (CCTV) dan dilansir Reuters pada Ahad (26/1). Saat ini jumlah warga Cina yang terinfeksi virus corona mencapai 1.975 orang.

Merebaknya wabah virus Virus corona 2019-nCoV membuat sejumlah negara was was. Apalagi, virus yang disebut mirip sindrom pernapasan akut berat (SARS) itu telah menyebar di 12 negara. Termasuk, negara tetangga Indonesia seperti Malaysia.

Pada sabtu 25/1, Prancis berencana untuk mengevakuasi warganya dari kota Wuhan di Cina, pusat epidemi virus corona yang mematikan. Begitu pula dengan negara lain seperti Amerika Serikat merencanakan penerbangan carter pada Minggu (26/1/2020) untuk membawa warga negara dan diplomatnya kembali dari kota Wuhan di Cina.

Menyikapi hal ini, Rusia juga sedang berkonsultasi dengan Cina untuk membahas kemungkinan mengevakuasi warga negara Rusia dari kota Wuhan dan provinsi Hubei, pusat merebaknya virus baru mirip flu, kata kantor berita RIA mengutip kedutaan besar Rusia.

Disaat beberapa negara besar sedang melakukan evakuasi terhadap warganya agar tidak terjangkiti virus mematikan ini. Hal yang ironis justru dilakukan pemerintah Indonesia. Negeri ini tetap 'santuy' menghadapi coronaV.

Dikutip dari Harianjogja.com, JAKARTA - Mewabahnya virus corona di Cina tidak membuat Pemerintah Indonesia membatasi warga negara Indonesia melakukan perjalanan ke negeri panda tersebut.

Hingga Kamis (23/1/2020), Kementerian Kesehatan tidak akan menutup akses atau melakukan pembatasan perjalanan dari dan ke Daratan Cina melalui jalur udara, laut dan darat.

"Kita tidak melakukan restriksi, pembatasan perjalanan orang, karena bisnis bisa merugi, ekonomi bisa berhenti," kata Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas I, Bandara Soekarno-Hatta, dr. Anas Ma'aruf di Gedung Kemenkes, Kuningan, Jakarta Selatan pada Rabu (22/1/2020) malam.

Hal ini, senada dengan yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat yang menerima 174 turis asal Kunming, Cina, di Bandara Internasional Minangkabau di Padang pada Minggu (26/1). Ratusan turis tersebut disambut langsung oleh Gubernur Sumbar Irwan Prayitno dan Sekda Sumbar Alwis.

Begitulah beberapa pejabat negeri ini mengabaikan keselamatan yang akan mengancam kesehatan warganya demi meraup keuntungan materi semata. Sepertinya mereka memang bukan terjangkiti virus corona, namun lebih parah terjangkiti virus 'cinta dunia'. Hal ini sudah alamiyah terjadi pada negeri yang menganut sistem kapitalisme. Perlindungan kepada masyarakat bukan menjadi prioritas.

Berbeda dengan Islam, dalam negara Islam masyarakat mendapat pelayanan dan perlindungan terbaik dari pemimpinnya. Adapun untuk penanggulangan saat wabah menyerang suatu wilayah, Islam memiliki mekanisme khas berupa upaya rehabilitatif seperti yang diungkapkan Rasulullah sebagaimana yang dijelaskan dari Abdurrahman bin Auf ra bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda, "Apabila kalian mendengar wabah tengah mendera suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Dan jika menyerang wilayah kalian, maka janganlah engkau melarikan diri." (HR. Bukhari).

Hal ini terungkap saat Syam khususnya di daerah Amwas diserang wabah Tha'un. Umar lalu mengumpulkan beberapa sahabat dan meminta pendapat mereka. Saat itu, Gubernur Syam Abu Ubaidah berkata kepada Umar: “Apakah engkau akan lari dari takdir Allah?” Umar menjawab:

لَوْ غَيْرُكَ -يَا أَبَا عُبْيَدَةَ- قَالَهَا! نَعَمْ، فِرَارًا مِنْ قَدَرِ اللَّهِ إِلَى قَدَرِ اللَّهِ

“Seandainya bukan dirimu yang mengatakannya wahai Abu Ubaidah! Benar, aku lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain.” (Muttafaqun ‘alaih)

Abdurrahman bin Auf saat itu tidak ada, ia tidak tahu musyawarah dan dialog antara Umar dan Abu Ubaidah. Ketika dikabarkan kepadanya, ia berkata, “Saya memiliki ilmu tentang hal ini. Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ

“Jika kalian mendengar suatu negeri dilanda wabah, maka jangan kalian memasukinya. Jika wabah itu terjadi di negeri yang kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar darinya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Ketika Umar radhiyallahu ‘anhu mendengar sabda nabi ﷺ, ia merasa tenang, dan bertahmid memuji Allah ta’ala. Kemudian bersama kafilah kembali ke Madinah, sedangkan gubernur Syam, Abu Ubaidah kembali ke Syam.

Dari hadis Rasulullah di atas jelas bahwa upaya rehabilitasi adalah dengan tidak memasuki wilayah wabah dan bagi yang berada di wilayah terdampak, diupayakan untuk tidak keluar karena dikhawatirkan akan menularkan wabah tersebut pada kelompok yang masih sehat.

Selain itu Islam akan membawa rahmat bagi seluruh alam apabila syariatnya diterapkan secara kaffah. Hal sekecil apapun telah ada aturannya dalam Islam. Mulai dari aturan ketika bangun tidur hingga bangun negara. Islam mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri, hal ini meliputi makanan minuman, pakaian dan akhlak.

Dalam hal makanan dan minuman Islam mengajarkan untuk memilih yang halal dan thoyibah. Diharamkan memakan binatang tanpa disembelih dengan nama Allah, memakan binatang bertaring dan berkuku tajam atau binatang yang menjijikkan. Dalam memakan yang halal dan thoyib saja diatur dengan rinci ada adab-adap ketika makan seperti duduk, menggunakan tangan kanan, tidak meniup makanan panas, membaca basmalah dan lain sebagainya.

Begitulah Islam dengan seperangkat aturannya akan membawa maslahat bagi pemeluknya. Setiap ajaran islam baik perintah maupun larangannya pasti mengandung hikmah dan kebaikan bagi manusia. Baik diketahui maupun tersembunyi.

Sedangkan orang yang tidak mengambil Islam sebagai petunjuk hanya mengandalkan akal dan nafsu mereka dengan rakus menyantap segala macam makanan tanpa mempertimbangkan efeknya. Akhirnya binatang buas dan tidak lazim pun dikonsumsi dan mereka sendiri yang merasakan akibatnya.

Wallahu'alam bishawab.

Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: