Kerajaan-Kerajaan Baru Manusia Stress

Kerajaan-Kerajaan Baru Manusia Stress



Oleh: Neng Ipeh 
(aktivis BMI Community Cirebon)


Setelah ramai pemberitaan tentang Kerajaan Ubur-ubur di tahun lalu, belakangan ini telah muncul sejumlah kerajaan baru yang senada seperti Keraton Agung Sejagat, Keraton Jipang, Keraton Pajang, Sunda Empire-Earth Empire hingga King of The King. 

Sosiolog dari Universitas Nasional (Unas) Jakarta, Nia Elvina mengatakan maraknya fenomena kerajaan yang muncul di Tanah Air beberapa waktu terakhir dikarenakan minimnya kesejahteraan sosial dari masyarakat itu sendiri. 

"Saya kira maraknya fenomena munculnya kerajaan-kerajaan akhir-akhir ini merupakan salah satu respon masyarakat terhadap masih minimnya pemenuhan harapan masyarakat dari pemerintah. Ketika ada tawaran tentang harapan mengenai kehidupan sosial ekonomi yang lebih baik dari kerajaan ini, masyarakat akan segera mempercayai," katanya. (m.detik.com/12/02/2020)

Beberapa pengamat lain juga memandang bahwa munculnya berbagai kerajaan baru ini dilatarbelakangi berbagai motif, baik motif ekonomi, guna mencari keuntungan dari setiap pengikutnya. Adanya motif politik, guna mengumpulkan basis massa untuk pemilihan umum. Serta mencari alternatif di tengah ketidakpastian hidup.

Banyak orang tertarik dan bergabung dalam kerajaan baru karena sedang alami kebuntuan mencari jalan keluar persoalan hidup, yang akhirnya gampang tergiur tawaran tidak rasional. Hingga dimanfaatkan oleh kalangan tertentu untuk mencari untung materi dari para pengikutnya.

Sungguh sangat disayangkan karena ditengah kesulitan hidup akibat penerapan sistem Kapitalisme ini sebenarnya tak ada yang lebih diharapkan oleh rakyat kecuali satu, hidup sejahtera. Bergantinya pemimpin baik di tingkat pusat maupun daerah, berubahnya kebijakan dengan berubahnya berbagai aturan dan UU, semuanya selalu ditunggu rakyat dengan penuh harapan agar sejahtera itu mewujud. Namum semua itu ternyata hanyalah mimpi yang tak pernah usai.

Berbagai kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah bukan membuat hidup rakyat semakin membaik. Melonjaknya harga pangan dan komoditi pokok lainnya, menjamurnya pengangguran, susahnya mengakses pendidikan dan kesehatan, dan taraf hidup yang kian rendah harus ditanggung oleh rakyat ditengah ketidakberdayaan mereka. Padahal dalam Islam, Penguasa yang menjalankan roda pemerintahan dituntut untuk benar-benar mengurus dan memenuhi semua kebutuhan rakyat.

Sehingga tak akan ada yang namanya bualan dan janji-janji palsu dari sang pemimpin, karena ia menyadari sepenuhnya bahwa kepemimpinan ini adalah amanah berat yang akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah Subhanahu wata'ala sebagaimana yang juga terukir dalam sebuah hadist:

مَامِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيْهِ اللهُ رَعِيَّةً يَمُوْتُ يَوْمَ يَمُوْتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلاَّ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

 “Tidaklah seorang hamba yang ditetapkan oleh Allah untuk mengurus rakyat, lalu mati dalam keadaan menipu mereka, kecuali Allah akan mengharamkan dirinya masuk ke dalam surga.” (HR al-Bukhari dan Muslim dari Ma’qil bin Yasar ra.).

Jika telah terbukti sistem sekuler kapitalisme gagal menyejahterakan, memberi keadilan serta mewujudkan masyarakat yang ‘sehat’, lawan dari masyarakat stres dan tidak waras. Maka sudah seharusnya, kita mengarahkan solusi pada sistem Islam (Khilafah) yang telah terbukti selama 1.300 tahun menyejahterakan, memberikan keadilan serta mewujudkan masyarakat yang bertakwa dan beriman.
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: