Membincang Penanganan Islam Menghadapi Wabah Corona

Membincang Penanganan Islam Menghadapi Wabah Corona



(Oleh : Ummu Hanif, Anggota Lingkar Penulis Ideologis) 

Dunia dikejutkan dengan wabah inveksi virus corona. Jumlah korban meninggal dunia akibat virus corona tipe baru atau novel coronavirus (2019-nCov) Wuhan atau 2019-nCoV masih terus bertambah. Pihak otoritas Cina mengumumkan pada Kamis (30/1/2020), tidak kurang dari 170 orang meninggal dunia karena terinfeksi virus corona dengan kenaikan sebesar 29 persen dari hari sebelumnya.
Akibat virus ini, akses menuju Wuhan dan 16 kota di sekitarnya telah ditutup, sehingga membuat 50 juta orang terisolasi.
Sejak pertama kali diumumkan pada 31 Desember 2019, berdasarkan data terakhir yang dilansir dari CNN hari ini Kamis (30/1/2020) penyebaran terus bertambah ke 20 negara dengan 100 kasus yang dikonfirmasi. India dan Filipina untuk kasus terbaru.
Kasus infeksi Corona yang ditemukan di sejumlah negara ASEAN lain, juga Australia, semua merujuk pada turis asal Cina.
Meski Badan Kesehatan Dunia (WHO) mendeklarasikan wabah virus corona novel kini berstatus gawat darurat dan menjadi perhatian dunia pada Jumat (31/1/2020), akan tetapi WHO menyatakan sampai saat ini belum diperlukan larangan bepergian ke Cina akibat merebaknya wabah virus corona.
Beberapa negara terus melakukan usaha evakuasi warganya dari Wuhan. Sejauh ini, Jepang, Amerika Serikat, hingga Perancis, telah memulangkan secara massal warganya dengan mengirim pesawat-pesawat sewaan.
Sementara itu, pemerintah Indonesia cenderung lamban. Hingga Rabu (29/1/2020), baru memiliki opsi untuk mengevakuasi WNI di Provinsi Hubei yang berjumlah 243 orang itu. Begitu pula untuk urusan logistik baru akan dicarikan solusi 4-5 hari setelahnya.
Adapun Menteri Kesehatan Terawan Agung Putranto, hanya mengimbau WNI, terutama yang berada di Wuhan tidak stres. Dia menyebut virus corona bersifat swasirna. Artinya, pasien terjangkit corona bisa sembuh sendiri bila kondisi tubuhnya cukup baik. Artinya, menurut pemerintah Indonesia, kasus virus corona ini bukanlah hal yang berbahaya. Hal ini juga tercermin dari kebijakan pemerintah untuk tidak melakukan pembatasan wisatawan Cina ke Indonesia. Terbukti, pemerintah hanya penutup penerbangan langsung ke Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei, kota pertama yang terjangkit virus corona. Sementara di luar Kota Wuhan, Pemerintah Indonesia hanya mengeluarkan travel advisory. 
Demikian juga, untuk jalur perdagangan dengan pihak Cina. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menegaskan bahwa pemerintah tetap tidak menutup seluruh produk impor pertanian dari Cina. Pemerintah hanya melakukan pengetatan impor dengan pengawasan di pintu-pintu masuk barang impor seperti bandara dan pelabuhan.
Menanggapi kasus virus corona, Islam sebagai agama sekaligus sebuah ideologi, telah memberikan panduan yang jelas. Dalam sebuah hadist, rosulullah bersabda :
“Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu.” (HR Bukhari dan Muslim)
Ini merupakan metode karantina yang telah diperintahkan Nabi Muhammad saw. untuk mencegah wabah tersebut menjalar ke wilayah lain. Untuk memastikan perintah tersebut dilaksanakan, Rasul saw. membangun tembok di sekitar daerah yang terjangkit wabah dan menjanjikan bahwa mereka yang bersabar dan tinggal akan mendapatkan pahala sebagai mujahid di jalan Allah, sedangkan mereka yang melarikan diri dari daerah tersebut diancam malapetaka dan kebinasaan.
Peringatan kehati-hatian pada penyakit lepra juga dikenal luas pada masa hidup Nabi saw. Rasulullah menasihati masyarakat agar menghindari penyakit lepra. Dari hadis Abu Hurairah, Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Jauhilah orang yang terkena lepra, seperti kamu menjauhi singa.”
Begitu pun masyarakat yang terkena wabah tersebut untuk tidak meninggalkan atau keluar dari wilayahnya. Ini merupakan cara mengisolasi agar wabah penyakit tersebut tidak menular ke daerah lain.
Karena itu, jika ada wabah khilafah akan mengarantina tempat itu dan mengirim ob

at-obatan dan kebutuhan kesehatan, logistik lainnya segera.
Para ilmuwan di bawah khilafah akan didorong untuk menemukan obat dan perawatan baru melalui penelitian dan pengembangan. Inisiatif cepat akan diambil untuk menemukan obat tanpa mencari keuntungan.
Negara Khilafah akan memastikan perawatan kesehatan terbaik dan gratis untuk setiap warga negara terlepas dari kaya dan miskin, ras atau agama, mereka menikmati perawatan kesehatan berstandar tinggi bersama.
Maka demikianlah sebenarnya islam menjamin hak hidup bagi seluruh rakyatnya. Baik muslim maupun non muslim. 

Wallahu a;lam bi ash showab.
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: