No Hijab Day, Seruan Kebatilan

No Hijab Day, Seruan Kebatilan





Ulfatun Ni'mah SSi 
(Pemerhati Kebijakan Publik)


Viral Tagar atau hastag No Hijab Day memenuhi ranah sosial media Twitter. Kampanye hari tanpa hijab di pelopori oleh Yasmine Mohammad dan dirayakan setiap 1 Februari.


Beberapa alasan dikemukakan oleh Yasmine Mohammad berkaitan dengan kampanye hari tanpa hijab adalah:

(1) Hijabisasi baru marak tiga dekade terakhir; Niqabisasi marak satu dekade terakhir.


(2) Tidak semua ulama, tarekat dan sarjana Keislaman mendakwahkan dan bersetuju dengan Hijabisasi maupun Niqabisasi. Pandangan mengenai batasan aurat berbeda-beda


(3) Kita berdiam di rumah, berada di habitat, berkebutuhan, bekerja dan atau memiliki fisik, yang kesemuanya berbeda-beda.

(4) kebutuhan vitamin D, terutama yang mendesak (mysharing.co).


Yasmine Mohammad bersama komunitasnya Hijrah Indonesia menyerukan kepada perempuan muslim untuk meramaikan tagar No hijab Day, dengan mengirimkan foto-foto berbusana asli Indonesia tanpa penutup kepala atau hijab atau kerudung dan simbol hijab lainnya.


Strategi Barat Menderaskan Ide Kebebasan


Seruan melepas hijab adalah seruan maksiat. Pergerakan menyuarakan ide kebebasan berjalan masif terus terorganisir.


Dalam sistem kapitalis kemaksiatan di fasilitasi, atas nama ide feminisme yang diusung para pegiat feminis berbalut Islam, mendorong perempuan muslimah terperdaya dengan seruan seruan batil menyesatkan.


Mantra sesat kebebasan terus dihembuskan dalam rangka menjauhkan dari pemahaman Islam yang sebenarnya.


Upaya penolakan dan pelecehan terhadap ajaran Islam juga terus digulirkan ke tengah-tengah kaum muslimin. Dan justru para pembenci Islam berasal dari kalangan muslim yang pemikirannya telah terdegradasi oleh ide kapitalis sekular.


Terlebih Indonesia acapkali dipersonifikasikan sebagai negara muslim terbesar, demokratis, pluralis dan ramah gender. Kebebasan yang lahir dari ide kapitalis-liberalis di tujukan memang untuk menghancurkan syariat-syariat yang Allah tetapkan kepada para muslimah.
 

Strategi perusakan dilakukan melalui penikaman ajaran Islam seiring dengan penancapan ide-ide gender yang liberal. Mengarahkan muslimah pada sebuah islamofobia akut di negeri Islam sendiri.


Bercokolnya ide kebebasan kapitalis di tengah masyarakat, mendorong muslimah mendukung seruan kampanye hari tanpa hijab. Penerimaan yang baik ditengah masyarakat ini menunjukkan keberhasilan kapitalis menempatkan agama hanya sekedar ibadah ritual saja. 

Sementara pengaturan tentang urusan kehidupan mereka serahkan pada manusia yang mereka anggap layak mengatur kehidupan.


Kampanye hari tanpa hijab juga dianggap ekspresi kebebasan karena pengekangan atas perintah menutup aurat bagi muslimah. Musuh orientalis Islam sangat keras menanamkan kebencian penganut Islam terhadap Islam dan ajaranya beserta simbol-simbolnya.


Di sisi lain menjadikan 1 Februari sebagai day No hijab adalah sebuah kekacauan berpikir dan kesembronoan tingkah para pegiat Feminis, slogan hipokrit. Pasalnya, kaum feminis menuntut adanya UU yang melindungi perempuan tetapi disisi yang lain mereka menyuarakan ide 'membebaskan perempuan.


Ada kontradiksi antara himbauan menghormati perempuan dan pembiaran terhadap perkembangan industri iklan, bisnis dan hiburan yang mengeksploitasi perempuan. Seruan day No hijab menunjukkan seruan pembiaran yang mengarah pelecehan seksual ( baca: memicu pemerkosaan perempuan).


Sejatinya mereka tidak memahami bahwa berbagai persoalan yang menimpa perempuan sesungguhnya lahir dari ide kebebasan tanpa batas.


Lantas apakah seruan No Hijab Day akan kita biarkan begitu saja sebagai opini yang menggelinding menggerus umat sampai Islam tereduksi menjadi sebuah agama tanpa memiliki taring?


Islam Membebaskan Muslimah dari Paham Kebatilan


Islam adalah agama yang sempurna. Allah turunkan dengan segenap kelengkapan syariah untuk kebaikan manusia. Bukan hanya Muslimin tapi juga muslimah. Sejatinya Islam memuliakan, menjaga dan menghormati perempuan.


Muslimah perlu menyadari perannya sebagai komponen terpenting umat. Demikian juga posisi komunitas mereka. Muslimah adalah harapan untuk mewujudkan penerapan Islam Kaffah. Muslimah juga amat berpotensi untuk menghadang ide batil dengan segala tipudaya dalam agenda untuk melemahkan umat.


Muslimah harus mampu mengenali paham batil yang bakal menjerumuskan mereka dalam kesesatan. Mencerdaskan dirinya dengan pemahaman Islam kaffah seraya terus berproses menjadi khayru Ummah yang memiliki keyakinan dan pemahaman yang kokoh terhadap ajaran Islam.


Dengan modal pemahaman yang kuat akan Islam, muslimah mampu menentang dan menjelaskan kebatilan segala ide dan pandangan yang lahir dari akidah kufur seperti kapitalisme, sekularisme, sosialisme, liberalisme. 


Demikian juga menjelaskan kebatilan ide yang lahir darinya yaitu demokrasi, HAM, feminisme dan sebagainya secara gencar.
Muslimah akan mampu melakukan perlawanan melalui hujjah yang elegan dalam menghadapi dinamika strategi kufur.


Walhasil adanya No Hijab Day membuka mata kita muslimah shalihah untuk terus melakukan penyadaran masyarakat dan tidak membiarkan Islam tercerabut dari akarnya, hingga Islam terterapkan dalam sebuah negara.


Membiarkan diri larut dalam aktivitas pribadi bukanlah jalan yang dikehendaki Ilahi. Sebab muslimah yang shalihah adalah muslimah yang bersegera taat dan tunduk terhadap semua aturan-Nya tanpa menunda. Wallahu'alam Bish-showwab.
Previous Post
Next Post

post written by:

ibu rumah tangga yang ingin melejitkan potensi menulis, berbagi jariyah aksara demi kemuliaan diri dan kejayaan Islam

0 Comments: