Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Otak-atik Ucapan "Assalamualaikum", Untuk Apa?

Jumat, 21 Februari 2020



By: Messy

Ketua BPIP menyarankan perlunya Salam Pancasila di tempat umum sebagai titik temu di antara salam masing-masing agama di Indonesia.
 
“Kalau kita salam setidaknya harus ada lima sesuai agama-agama. Ini masalah baru kalau begitu. Kini sudah ditemukan oleh Yudi Latif atau siapa dengan Salam Pancasila. Saya sependapat,” kata Ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi dalam wawancara di detik.com beberapa waktu lalu.

Menurut Yudian, sebelum reformasi sangat nyaman dengan salam nasional. “Sejak reformasi diganti Assalamu’alaikum di mana-mana tidak peduli, ada orang Kristen, Hindu hajar saja dengan Assalamu’alaikum,” ungkapnya.

Kata Yudian, salam itu maksudnya mohon ijin terhadap seseorang sekaligus mendoakan selamat. Kalau bahasa arabnya Assalamu’alaikum warahmatulloh wabarakatuh. 

“Ada hadits kalau anda jalan, ada orang duduk, maka Anda harus mengucapkan salam. Itu maksudnya adaptasi sosial. Itu jaman agraris. Sekarang jaman industri digital lagi. Misalnya mau menyalip pakai mobil salamnya gimana? Pakai lampu atau klakson,” paparnya.

Kata Yudian, salam di tempat umum harus menggunakan salam yang sudah disepakati secara nasional. “Dengan kesepakatan nasional misalnya salam Pancasila daripada ulama ribut kalau pakai shalom bisa jadi kristen. Padahal mendoakan orang itu boleh-boleh saja. Sebenarnya kita ngomong shalom kepada orang kristen tidak ada masalah dengan teologis,” pungkasnya.
(https://suaranasional.com/2020/02/20/ketua-bpip-usulkan-ganti-assalamualaikum-dengan-salam-pancasila/)

Bukan hal yang baru lagi, mengenai pernyataan kontroversial  yang di lontarkan oleh Yudian Wahyudi selaku kepala BPIP. Yang mengundang pro dan kontra dari kalangan masyarakat.

Jika sebelumnya mengatakan bahwa Musuh terbesar PANCASILA adalah AGAMA, KONSTITUSI  di atas KITAB SUCI, Konsensus adalah hukum tertinggi Allah, bukan Al Quran dan hadist dan kini menyarankan Assalamu'alaikum diganti dengan SALAM PANCASILA. (Baca FB Steven Suteki)

//Sistem 'Akal' Melahirkan Pemikiran Dangkal//

Hati umat Muslim kembali di cabik-cabik oleh mereka yang menyandang stempel Islam. Tapi, pemikiran dan perbuatannya tak mencerminkan nilai-nilai Islam sama sekali. Malah, menjauhkan umat dari pemikiran Islam yang sebenarnya (kaffah). 

Kali ini, ucapan salam khas umat muslim yang menjadi target selanjutnya yang akan di otak-atik. Untuk di ubah menjadi "Salam Pancasila" dengan berbagai dalih agar saran yang diberikan oleh Ketua BPIP tersebut di aminkan. Anehnya, penyataan nyeleneh tersebut muncul dari mulut mereka yang berpendidikan tinggi.

Ternyata pendidikan tinggi tak menjamin seseorang memiliki taraf pemikiran yang tinggi pula. Karena pendidikan hanya di pakai sebagai sarana "Transfer of knowledge" bukan "Transfer of Value". Maka tak salah, munculnya sarjana yang memiliki pemikiran dangkal dan jauh dari nilai karakter yang di harapkan.

Iya, pernyataan dangkal tersebut hanya muncul dari mereka yang lahir dari sistem yang bersumber dari produk akal. Menuhankan "Sekularisme" yaitu pemisahan agama dari kehidupan. Agama hanya berhak mengatur dalam aspek individu saja. Sedangkan dalam kehidupan sehari-hari manusia bebas membuat aturan sesuai dengan "isi perut" masing-masing.

Sehingga berkembang narasi "Tuhan hanya ada di tempat ibadah saja". Sedangkan di luar tempat tersebut manusia bebas berpikir, berbicara bdan berbuat apa saja dalam kehidupan. Dengan syarat tak menganggu "HAM" manusia lainnya.

Lantas, apakah sistem seperti ini yang kita harapkan mampu melindungi kehidupan umat beragama beserta ajarannya? Tak cukupkah pernyataan-pernyataan nyeleneh yang keluar dari mulut mereka sebagai bukti bahwa sistem ini tak pernah berpihak pada rakyat biasa.

Allah berfirman:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS Al-Maidah:50)

//Makna Salam Yang Sesungguhnya//

Menyapa adalah salah satu bentuk kepedulian, penghargaan, bahkan mungkin penghormatan seseorang yang dilakukan untuk saudara, teman, sahabat, atau hanya sekadar kenalan. Tujuannya agar mereka merasa dihargai dan karena itu mereka pun menjadi semakin erat dan akrab. Cara serta ekspresi orang ketika menyapa pasti berbeda-beda.

Perbedaan itu didasarkan perbedaan ajaran yang tertanam, baik ajaran agama, kepercayaan, maupun budaya yang dikembangkan dalam suatu komunitas. Islam mengajarkan bentuk sapaan itu dengan ucapan salam yang bagi kaum Muslimin. Salam itu bukan hanya berfungsi sebagai alat sapaan, melainkan sebuah syariat, doa, sekaligus penghormatan, yang dalam bahasa Alquran disebut tahiyyah (QS an-Nisa [4]: 86).

Bukti bahwa salam merupakan bagian dari syariah, Rasulullah mengajarkan ucapan salam itu secara pasti, yaitu "Assalaa mua laikum warahmatullahi wabarakaatuh". Salam dianjurkan untuk diamalkan, dihidupkan, disebarkan, dan dibiasakan oleh umatnya. Anjuran ini bahkan dijelaskan secara perinci kepada siapa, kapan, bagaimana, dan siapa yang seharusnya memulai memberi salam serta keuntungan yang bakal didapat dari mengucapkan salam.

Karena sebagai sebuah syariat, insya Allah orang yang mengamalkan anjurannya mendapat pahala dan digolongkan sebagai amalan ibadah. Karena sebagai sebuah syariat pula, seyogianya ucapan salam itu tidak perlu diubah, baik dengan pengurangan maupun penambahan dari yang dianjurkan oleh Rasulullah. Apa yang dianjurkan oleh Rasulullah insya Allah merupakan yang terbaik untuk umatnya.

Salam juga adalah doa. Ucapan salam yang diajarkan Rasulullah itu memiliki arti "Semoga keselamatan, rahmat, dan berkah dianugerahkan Allah kepada kalian." Ada tiga permintaan yang langsung dialamatkan kepada Allah untuk setiap orang yang disapa, yaitu keselamatan, kasih sayang (rahmat), dan keberkahan Allah. Berkah, dalam kacamata para ulama, terutama Imam Nawawi, Imam Ghazali, dan Imam Qurthubi adalah tumbuh dan berkembangnya kebaikan.

Dalam lantunan sebuah salam, setidaknya berisi doa agar Allah melimpahkan keselamatan dan rahmat-Nya, kemudian menambahkan kebaikan-Nya pula dari keselamatan dan rahmat yang diberikan tersebut. Dalam salam, terkandung doa yang tidak mungkin orang tidak mau menerimanya. Semua orang mukmin pasti berkeinginan mendapatkan keselamatan, kasih sayang Allah, dan keberkahan itu, tanpa kecuali.

Dalam surah an-Nisa ayat 86, Allah SWT berfirman "Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu." Hampir keseluruhan mufasir memaknai kata tahiyyah dalam ayat ini dengan penghormatan yang di antara bentuknya adalah ucapan salam itu. Artinya, ketika seseorang mengucapkan salam kepada mitranya, sesungguhnya ia sedang memberikan penghormatan.

Penghormatan dalam bentuk jaminan bahwa ia akan menjunjung tinggi nilai-nilai keselamatan dan kedamaian dengan mitranya sesuai dengan makna salam sebagaimana diungkapkan oleh Sayyid Qutb dalam Fi Zhilalal Qur'an atau juga makna tahiyyah sebagaimana dikemukakan oleh Qurais Shihab yang mengatakan bahwa kata ini digunakan untuk menggambarkan segala macam penghormatan, baik dalam bentuk ucapan maupun selainnya.

Tidaklah pantas seseorang mengucapkan salam kepada mitranya, tetapi ia tetap berdusta, berbuat licik, menyakiti hatinya, baik dengan lisan, perbuatannya, maupun aktivitas lainnya yang menyebabkan terenggutnya rasa aman, kenyamanan, ketenteraman, dan kedamaian hidup mitra yang diberi salam itu.

Ketika seseorang mengucapkan salam kepada mitranya harus dipahami bahwa ketika itu ia sudah memberikan jaminan kepada yang diberi salam bahwa ia tak mungkin melakukan hal-hal yang menjadikannya tidak merasa selamat, tidak aman, dan tidak nyaman. Inilah barangkali hakikat tahiyyah (penghormatan) dalam salam. Pantas sekali mengapa Allah menyuruh membalas setiap lantunan salam yang didengar.

Dan syariat Islam akan mudah di jalankan dengan adanya institusi yang menaungi itu semua. Satu-satunya institusi yang mampu mewujudkan itu dengan berdiri Daulah Islam. Mari kita bersama-sama berjuang untuk membumikan kalimat Allah di seluruh pelosok negeri. Allahu Akbar!

22/02/20

Tidak ada komentar:

Posting Komentar