Pentingnya Literasi Digital Pada Anak

Pentingnya Literasi Digital Pada Anak



Oleh: Neng Ipeh
 (aktivis BMI Community Cirebon)



Dewasa ini, kemajuan teknologi memang bukan hal yang tabu lagi di masyarakat. Orang tua pun harus mengikuti alur dari kemajuan teknologi tersebut agar tidak di cap “ketinggalan zaman”. Beberapa dari orang tua mampu mengikuti, beberapa lainnya justru merasa kesulitan dan tidak acuh terhadap teknologi yang kian melesat jauh dari masa sebelumnya.

Berbeda dengan para orang tua, anak-anak serta remaja justru merasa bahagia akan kemajuan teknologi saat ini, jika dahulu handphone hanya digunakan untuk berkirim pesan singkat dan menelepon sanak keluarga atau orang lain, di era millenial ini telepon genggam justru sebagai media hiburan bagi setiap orang. 

Kita menyadari kalau media digital bagi anak dan remaja memberikan kesempatan untuk akses informasi global, sumber edukasi, jaringan sosial antar teman, tempat untuk mendapatkan hiburan, games, dan partisipasi dalam komunitas online. Sayangnya era internet ini pun memunculkan sejumlah persoalan khusus yang berdampak terutama pada anak-anak karena pola pikir mereka yang masih banyak ingin tahu.

Ditambah lagi internet sering memberi informasi user-generated content, yakni informasi yang didapat tanpa melalui edit dan saringan. Saat isu-isu berita bohong dan hoax semakin marak, anak-anak perlu dididik untuk semakin waspada dalam menerima dan menggunakan informasi yang mereka dapatkan. 

Banyak kejahatan siber yang bisa menimpa mereka seperti, pelaku video pornografi, sexting (chat bermuatan konten pornografi), terlibat dalam grup-grup pornografi, grooming (proses untuk membangun komunikasi dengan seorang anak melalui internet dengan tujuan memikat, memanipulasi, atau menghasut anak tersebut agar terlibat dalam aktivitas seksual). Selain itu, ada juga sextortion (pacaran daring berujung pemerasan), cyber bully,  perjudian  online, live streaming video, trafficking, dan penipuan online.

Belum lama ini berdasarkan data yang diperoleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga mengatakan, jumlah kasus pengaduan anak terkait pornografi dan kejahatan online (korban dan pelaku) mencapai angka 1.940 anak dari 2017 hingga 2019. (m.cnnindonesia.com/12/02/2020)

Sudah menjadi fitrahnya anak-anak dan remaja merasa penasaran terhadap hal baru yang sebelumnya tidak mereka ketahui, untuk itu bukan hal aneh jika dalam penggunaan internet para anak dan remaja coba-coba mengakses situs pornografi, iklan yang bernuansa vulgar, atau konten lainnya yang kerap tanpa sengaja terbuka di internet. Selanjutnya setelah rasa penasaran itu terpecahkan, tidak langsung anak-anak dan remaja meninggalkan situs pornografi tersebut, mereka akan terus mencari hal lain yang mungkin belum mereka dapati di konten sebelumnya, mereka akan lebih berani.

Masih banyak orang yang belum mengetahui bahwa kecanduan pada pornografi lebih berbahaya dari pada narkoba. Pornografi dapat menyebabkan kerusakan pada lima bagian otak, terutama pada bagian otak yang tepat berada di belakang dahi, sedangkan kecanduan narkoba menyebabkan kerusakan pada tiga bagian otak. Sungguh ironis, jika negeri ini begitu peduli pada para pecandu narkoba, mengapa seakan tidak acuh pada para generasi penerus yang kecanduan pornografi?

Melihat ancaman bahaya tersebut walaupun peran orang tua sangat di butuhkan untuk mengajarkan kepada anak betapa pentingnya literasi digital dan sebagai parental kontrol dan filter bagi anak-anaknya. Namun tidak semestinya tugas melindungi anak itu tidak  dibebankan pada orang tua dan masyarakat saja tetapi juga pada pemerintah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ، فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدَلَ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ، وَإِنْ يَأْمُرْ بِغَيْرِهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ

“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya. Jika seorang imam (Khalifah) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ’azza wajalla dan berlaku adil, maka dia (khalifah) mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad).
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: