Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

PHK Massal Menghadapi Era Disrupsi (bagian 1)

Kamis, 27 Februari 2020


Oleh : Sopiyah, S. Pd.
(Pengajar dan Aktivis Dakwah)



Berbagai permasalahan negeri ini tak kunjung usai, bahkan semakin menjadi-jadi. Dan permasalahan ini tidak hanya menyangkut politik-pemerintahan, sosial kemasyarakatan, hukum dan perundang-undangan, pendidikan dan layanan kesehatan, bahkan yang lebih serius lagi adalah permasalahan perekonomian mengenai PHK massal dan pengangguran yang terus meningkat.

Jumat minggu lalu (14/2), PT Indosat Tbk mengakui telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada 677 karyawannya. Perusahaan menyebut PHK tersebut merupakan langkah dari upaya transformasi perusahaan untuk bertahan di era disrupsi.(mediaindonesia.com,17/2/2020)

Platform iklan baris OLX Indonesia jadi perhatian netizen Twitter pada Selasa, 4 Februari 2020. Startup yang berdiri sejak 2005 ini diduga melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sejumlah pegawainya. (kumparan.com, 12/2/2020). Tidak hanya OLX, startup BUKALAPAK pun melakukan hal yang serupa dengan melakukan PHK kepada seratus orang karyawannya. (Detik.com).

Tak hanya itu, PHK pun terjadi di beberapa perusahaan besar lainnya, seperti Krakatau Steel yang beberapa waktu lalu merumahkan ribuan pegawainya. Perusahaan mobil asal Jepang, Nissan, juga memangkas karyawannya sebanyak 830 pekerja. Bahkan stasiun TV swasta, NET TV, dikabarkan mem-PHK massal karyawannya. (www.muslimahnews.com)

Beberapa fakta PHK di atas.memang tidak bisa dilepaskan dari era disrupsi yang kini tengah dihadapai oleh setiap negara. Disrupsi adalah sebuah inovasi yang akan menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara baru.

Mengutip pernyataan Professor Clayton Christensen dari Harvard Business School, “Disruption menggantikan ‘pasar lama’ industri, dan teknologi, yang mengahasilkan suatu kebaruan yang lebih efisien dan menyeluruh. Ia bersifat destruktif dan kreatif!”. (kumparan.com). Dalam konteks dunia kerja, era disrupsi bisa diartikan sebagai peralihan dari tenaga kerja manusia ke mesin/robot (artificial intelligence)

Di Jepang dan China serta negara-negara maju di dunia telah mengoperasikan mesin robotik ini. Rumornya, setiap 10 robot dengan kecerdasan buatan mampu mem-PHK 10.000 buruh pekerja. Sebuah terobosan luar biasa sistem kapitalis untuk menekan biaya produksi.


Lantas kemana para bapak mencari nafkah? Pengangguran menjadi daftar panjang yang menyeramkan. Selain itu perusahaan pun bergerak gesit untuk survive menghadapi perubahan zaman. Contoh sederhana yang telah kita saksikan ialah tumbangnya Nokia dan Blackberry ketika Android gencar dipasarkan perusahaan pesaingnya.


Warkop menjadi "legend" setelah outlet Starbuck menjamur. Es lilin tersingkir setelah muncul Ice Kepal Milo si pendatang baru. Orang-orang zaman now makan sesuatu bukan lagi karena sesuatu itu kebutuhan dasar, tetapi sebab tengah viral. Begitulah siklus disrupsi. Memangsa yang lemah, dalam tanda kutip.

Ekonomi Kapitalisme Biang Keladi
PHK massal yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar tentu akan menghantui para pekerja. PHK massal ini sudah diprediksi sebagai dampak dari era disrupsi dan tren digitalisasi. Namun, pemerintah tidak antisipatif terhadap hal ini.

Terlihat, dalam lima tahun kepemimpinan presiden Jokowi, gelombang PHK massal masih terjadi. Mulai dari lembaga perbankan, retail, hingga start-up tidak lepas dari PHK massal. Kondisi ekonomi yang tidak stabil menjadi alasan klasik untuk melakukan rasionalisasi para pekerja.

Selain itu, perkembangan Industri 4.0 telah menjadikan tenaga manusia tergantikan dengan tenaga mesin. Seluruh badan usaha harus mampu berevolusi dan benar-benar berinovasi, membentuk kembali model bisnis dengan cara-cara baru agar tidak ketinggalan zaman.

Juga wajah rimba sangat begitu kentara dalam sistem ekonomi kapitalis, yakni pemodal besar akan mengalahkan pemodal kecil. Sehingga kekayaan dan kepemilikan berbagai sektor industri akan berputar hanya pada pemilik modal besar saja.

Selama negeri ini menganut konsep Freedom of Ownership alias kebebasan berpemilikan dalam ekonomi kapitalis, problem perburuhan tidak akan pernah selesai. Konsep yang diadopsi dari ideologi kapitalisme ini meniscayakan adanya rekrutmen tenaga kerja dalam jumlah besar dan mengeksploitasinya di berbagai sektor strategis.

Prinsipnya adalah para pemilik perusahaan mengeluarkan modal sekecil–kecilnya dan memperoleh keuntungan sebesar–besarnya. Rakyat hanya akan menjadi korban dari rezim yang latah mengikuti tren global. Tentu ini semakin menegaskan bahwa negara lemah secara kedaulatan politik dan ekonominya.

Gelombang PHK yang terjadi saat ini tidak lain merupakan dampak dari penerapan sistem ekonomi kapitalis karena lemahnya struktur ekonomi pasar yang dianut. Akhirnya, perekonomian dunia melemah, perusahaan mengalami kerugian triliunan dolar dan kas negara pun habis terkuras.

Dalam sistem ekonomi pasar Kapitalisme, lembaga perbankan dan keuangan merupakan pintu utama arus permodalan ke berbagai sektor perekonomian. Namun, dana tersebut lenyap begitu saja di sektor non-riil. Lembaga perbankan dan keuangan pun akhirnya lumpuh.

Kelumpuhan tersebut mengakibatkan terhentinya proses produksi dan sekaligus mematikan daya beli perusahaan-perusahaan, khususnya di negara maju, termasuk terhadap barang-barang impor. Pertumbuhan ekonomi pun terus merosot sampai ke titik nol.


Bersambung ke bagian 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar