Solusi Ketahanan Keluarga untuk Wabah Global LGBT, Bisakah?

Solusi Ketahanan Keluarga untuk Wabah Global LGBT, Bisakah?




Oleh Nuriya Fakih



Nama Reynhard Tambos Maruli Tua Sinaga atau Reynhard Sinaga (36) mendadak menjadi perbincangan publik setelah pengadilan Manchester Inggris menyatakan dirinya bersalah atas kasus pemerkosaan terhadap 136 laki-laki.  Warga Negara Indonesia (WNI) ini terbukti melakukan 159 pelanggaran, termasuk 136 perkosaan yang difilmkan di dua ponselnya.
Reynhard yang ditangkap tahun 2017 dan sudah divonis hukuman seumur hidup ini kini menjadi pelaku kasus pemerkosaan dan kekerasan seksual terbesar dalam sejarah Inggris bahkan disebut-sebut pelaku pemerkosaan terbesar di dunia.
Bagi Indonesia, kasus Reynhard ini tentu saja menjadi aib yang mencoreng wajah bangsa, yang mengklaim menjunjung tinggi nilai-nilai adat ketimuran dengan sikap keramah tamahannya, nilai kesopanannya dan  tutur katanya yang lemah lembut.  Sehingga kebiasaan untuk menjaga tali silaturahmi antar sesama, pekerja keras, tingkat keagamaan atau religiusitas yang tinggi menjadi sesuatu hal yang lumrah di masyarakat Indonesia sebagai warisan leluhur yang diteruskan generasi berikutnya.
Namun keniscayaan globalisasi saat ini, telah mengikis sedikit demi sedikit nilai-nilai adat ketimuran yang diwariskan para leluhur karena generasi milineal lebih memilih berkiblat pada nilai-nilai barat. Dan dari kasus Reinhard ini akhirnya memicu berbagai kebijakan agar mengarahkan generasi kembali pada nilai-nilai ketimuran.
Salah satunya dengan memperkuat pendidikan keluarga yang dianggap akan menanamkan nilai-nilai ketimuran yang diharapkan.  Aliansi Cinta Keluarga (Aila) Indonesia mengimbau pemerintah untuk memperkuat ketahanan keluarga,  dengan strategi ini diharapkan generasi penerus bangsa akan terbentengi dari kasus predator seksual semacam Reynhard Sinaga. 
“Keluarga yang dapat memenuhi kebutuhannya, berwawasan luas, dan memiliki keimanan yang kuat, adalah suatu keharusan,” kata Ketua Aila, Rita Soebagyo, dalam keterangan tertulisnya.  Dia menjelaskan, keluarga yang seperti itu berarti memiliki ketahanan. Di dalamnya terdapat kemampuan untuk mengelola sumber daya dan masalah yang dihadapi agar keluarga sejahtera. Dengan begitu, suami, istri, dan anak-anak, mendapat asupan gizi, berpengetahuan, dan berprilaku mulia. Mereka melestarikan nilai kehidupan sehingga menginspirasi masyarakat sekitarnya (https//www.republika.co.id).
Setiap keluarga pasti menginginkan anggota keluarga dalam kondisi terpenuhi kebutuhan hidupnya baik materi maupun non materi, mengharap anak-anak mereka sebagai penyejuk mata yang membanggakan keluarga. Sehingga penanaman nilai agama menjadi pilihan orang tua agar anak-anak terhindar dari perbuatan menyimpang.
Menengok sosok Reynhard, secara religiusitasnya,  sang ibu menggambarkannya sebagai "anak yang baik dan rajin beribadah" namun sekarang dijuluki sebagai pelaku kejahatan seksual terbesar di Inggris bahkan bisa jadi dunia. Apakah akhirnya pendidikan keluarga lewat agama yang disalahkan? Tentu tidak, karena sesungguhnya setiap agama pasti tidak akan mentolerir adanya penyimpangan.
Berkaca dari kehidupan Reinhard, dia lebih betah tinggal d Inggris daripada negerinya sendiri. Hampir 10 tahun menetap di Inggris sebelum akhirnya ditangkap tahun 2017.  Di Indonesia,  kelompok homoseksual sering kali dianggap sebagai aib bagi keluarga dan masyarakat sehingga tidak sedikit kaum homoseksual terpaksa harus merepresentasikan dorongan seksual dirinya sebagai heteroseksual agar tidak mendapat stigma negatif dan bisa diterima oleh masyarakat. 
Berbeda dengan di Inggris,  ruang gerak bagi kelompok homoseksual sangatlah terbuka dan tidak banyak orang yang mempersoalkan orientasi seksual seseorang.  Inggris sebagai negara demokrasi menjunjung tinggi kebebasan berperilaku, melegalkan aktivitas kaum lesbian, gay, biseksual dan transjender (LGBT).  Pada 17 Juli 2013,  Ratu Elizabeth II memberikan persetujuan kerajaan terhadap pernikahan sesama jenis di Inggris. Sebelumnya, Rancangan Undang-Undang (RUU) untuk mengesahkan pernikahan gay di wilayah England dan Wales telah mendapat persetujuan parlemen. RUU ini memungkinkan pasangan gay untuk menikah dalam seremoni agama dan sipil di England dan Wales (detik.com, 18/7/2013).
Konsep kebebasan yang dianut Inggris lah yang membuat Reynhard memilih menetap sembari menyelesaikan studi S3 nya di Inggris, bertahun-tahun menikmati pengalaman seksual menyimpang yang akhirnya membuat dia terperosok menjadi predator seksual kelas dunia
Seseorang yang terjerumus dalam seks bebas dan menyimpang akan berpotensi menjadi predator seksual karena mereka telah kehilangan rasionalitas dan kesadaran moral yang membimbing manusia untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah.  
Apalagi kemudian mereka yang menyimpang orientasi seksual nya telah difasilitasi oleh negara lewat undang-undang,   jadilah akhirnya sistem demokrasi ini sebagai surga bagi pemilik orientasi seksual menyimpang.
Jadi, apapun upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi generasi agar terhindar dari penyimpangan orientasi seksual termasuk dengan kebijakan ketahanan keluarga selama berada di dalam sistem demokrasi yang mengagungkan kebebasan berperilaku, upaya yang dilakukan bagai menegakkan benang basah. 
Bisa dibilang, sebaik atau sesholeh apapun seseorang ketika masyarakat tempat mereka tinggal bersikap bebas, hedonis dan individualis ditambah negara  memberikan ruang bagi suburnya perilaku LGBT maka mereka akan terbawa arus dan lebih menurutkan hawa nafsu.  Kasus Reynhard telah membuktikannya.
Masalah LGBT ini adalah permasalahan sistemik karena penerapan sistem demokrasi pemuja kebebasan yang bersumber dari kecerdasan manusia sehingga solusi tuntas untuk menyelesaikan problem ini hanya dengan menghadirkan Islam sebagai sistem aturan yang bersumber dari pencipta manusia.
Dalam sistem  Islam, negara harus hadir untuk menanamkan akidah yang kuat bagi individu rakyat sehingga mampu menuntun individu menjaga dirinya dengan landasan taqwa dan mengarahkan pendidikan keluarga yang sejalan dengan fitrah manusia.  Sehingga pendidikan didalam Islam baik itu berbasis keluarga atau negara akan memunculkan individu-individu dengan derajat ketaqwaan yang tinggi yang berimbas pada adanya  kontrol masyarakat yang kuat. 
Negara juga akan senantiasa mengontrol apa yang terindera oleh rakyat sehingga setiap informasi, pemikiran dan juga budaya yang merusak tidak akan pernah sampai ke individu rakyat.  
Dengan ketaqwaan yang tinggi, kontrol masyarakat yang kuat serta negara yang senantiasa hadir maka akan tertutup akses bagi individu rakyat untuk berbuat maksiat yang memperturutkan hawa nafsu. Ketika kemudian ditemukan pelanggaran, negara dengan tegas akan memberi hukuman tegas yang menjerakan, termasuk bagi pelaku liwath (LGBT).
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: