Torehkan Cinta Allah di Kertas Putih

Torehkan Cinta Allah di Kertas Putih






Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Muslimah Penulis Sidoarjo


Memiliki anak, adalah anugerah. Baik anak laki-laki maupun perempuan, menuntut kita sebagai orangtua untuk mendidiknya dengan penuh cinta. Tak sekedar memberinya kebutuhan jasadiyah, namun juga ruhiyah. Allah dan Rasul sudah memberi panduan, yaitu kenalkanlah dengan Allah dan Rasul sehingga mereka takut dan patuh. Sebab memiliki anak ibarat menorehkan tulisan di atas kertas putih dan torehan itu cinta kepada Allah dan RasulNya.



Rasulullah saw. memberikan contoh bagaimana mengajarkan untaian kalimat yang sangat berharga untuk keimanan anak di masa mendatang. Kepada Ibnu ‘Abbas yang ketika itu masih kecil, Rasulullah saw. berpesan:

Wahai anakku, sesungguhnya aku akan mengajarkanmu beberapa kata ini sebagai nasehat buatmu. Jagalah hak-hak Allah, niscaya Allah pasti akan menjagamu. Jagalah dirimu dari berbuat dosa terhadap Allah, niscaya Allah akan berada di hadapanmu. Apabila engkau menginginkan sesuatu, mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau menginginkan pertolongan, mintalah pertolongan pada Allah. Ketahuilah bahwa apabila seluruh ummat manusia berkumpul untuk memberi manfaat padamu, mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali apa yang telah dituliskan oleh Allah di dalam takdirmu itu.Juga sebaliknya, apabila mereka berkumpul untuk mencelakai dirimu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakaimu sedikit pun kecuali atas kehendak Allah. Pena telah diangkat dan lembaran takdir telah kering.” (HR. At-Tirmidzi).


Salah satu pendidikan yang wajib kita pahamkan sejak dini adalah menutup aurat. Kadang prihatin juga jika melihat anak- anak bermain di luar rumah hanya dengan berpakaian dalam. Alasan orangtuanya beragam, masih kecil, lucu, panas dan sebagainya. Namun sebenarnya mereka sedang memutus kesempatan emas anak paham fitrahnya.


Ingatan anak seperti spons, mampu menyerap ribuan informasi. Dan akan terbawa hingga ia dewasa kelak. Jika sejak kecil ia sudah kita perkenalkan dengan hak dan kewajiban sebagai hamba Allah, kelak ia akan tumbuh menjadi pribadi yang luar biasa.


Memiliki anak perempuan terutama, menjadi godaan bagi orangtuanya untuk memperkenalkan dengan fashion yang sepertinya syar'i tapi sebenarnya tak cocok dengan usianya. Maka pemahaman tentang bagaimana jilbab syar'i itu mutlak dimiliki oleh para orangtua dan pendidik.


Miris juga, beberapa waktu lalu, disekolah ada yang namanya Javanese Day, dimana anak sehari itu diwajibkan mengenakan pakaian adat Jawa. Sebagai bentuk pemahaman budaya lokal. Padahal kita semua tahu, pakaian Jawa yang dimaksud adalah kebaya dengan kutubaru, rambut disanggul dan bawahan bahan bermotif batik, yang biasa disebut jarik / sewek ( Jawa).


Lantas bagaimana dengan yang muslim? akhirnya dimodifikasilah baju Jawa itu dengan menambahkan kerudung, bahan brokat kebayanya dilapisi kaos, bawahannya dibuat agak lebaran dan lain-lain, malahan ada yang ditambahi dengan make up. Sudah betulkah itu?


Fakta di lapangan kemudian menjawab, ternyata dengan pemahaman yang beragam, tidak distandarkan pada satu pemahaman yang baku muncul persoalan, bullying dan pelecehan. Secara mereka memang anak-anak ABG, Anak Baru Gede, akhirnya dikeluarkan aturan baru, dilarang memakai celana jeans , sangat dianjurkan memakai baju berbahan katun, siswi memakai rok panjang, kulot atau celana panjang longgar dan dilarang memakai celana panjang ketat.


Apapun itu jika diserahkan kepada manusia memang akan banyak menimbulkan pertentangan. Maka tidak ada cara lain untuk mengenalkan bagaimana menutup aurat dengan sempurna adalah dengan membiasakan sejak kecil. Paham mana auratnya dan paham mengapa harus ditutup, kapan dan kepada siapa. Sebab anak secara sadar mengenakan penutup aurat adalah investasi akhirat orangtuanya.


Bahkan itu juga dikatakan sebagai ungkapan rasa syukur, kita dipercaya memiliki anak, meski lebih berat namun artinya juga kita dipercaya mampu menjadikan anak-anak kita sebagai pengantar kebaikan, amal jariyah ketika kita telah berkalang tanah kelak. Dan sungguh Allah akan menambah nikmat kita baik di dunia maupun di akhirat.


Allah berfirman dalam Quran surat Ibrahim 7:8 yang artinya:

"Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. Dan Musa berkata: “Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” Wallahu a' lam bish-showab.
Previous Post
Next Post

post written by:

ibu rumah tangga yang ingin melejitkan potensi menulis, berbagi jariyah aksara demi kemuliaan diri dan kejayaan Islam

0 Comments: