Virus Corona Berjangkit, Siapa Melindungi Rakyat?

Virus Corona Berjangkit, Siapa Melindungi Rakyat?





Ummu Zhafran
(Pegiat Opini, member Akademi Menulis Kreatif)

Jika kita dapat menyelamatkan diri kita sendiri, para Nabi tidak perlu ada untuk keselamatan kita_Buya Hamka

Ngeri.  Orang-orang terkapar di jalan-jalan raya. Ada pula yang duduk sambil tangan menekan dada menahan nyeri.  Bagai adegan dalam film horor penuh misteri.  Siapa sangka pemandangan tersebut nyata terjadi di Wuhan, China.  

Mencekam. Data terbaru, korban tewas akibat wabah virus corona di China telah melonjak menjadi 213 orang dan total 9692 kasus terjangkit  telah dikonfirmasi di seluruh China daratan. (tempo.com, 31/1/2020)

Upaya Antisipasi

Alarm kesehatan mayoritas negara di dunia seolah berbunyi nyaring.  Waspada jangan sampai wabah tersebut menjangkit warganya.  Prancis misalnya.  Sebagai negara Eropa pertama yang warganya terkena virus ini,  telah mengevakuasi ratusan warganya dari wilayah Wuhan di China.  Tak berselang lama, Jerman pun menyusul melakukan hal yang sama.  

Tetangga China, Hongkong juga berjaga.  Tak tanggung-tanggung  semua pintu perbatasannya dengan China ditutup rapat.  Lain halnya  Pemerintah Korea Utara,  mereka  mengharuskan orang asing dari China untuk melalui program karantina selama sebulan.
Di sini tampak otoritas kesehatan di masing-masing negara seakan berlomba untuk mencegah pandemi setelah lebih dari 9816 orang terinfeksi di seluruh dunia. (tempo.com, 31/1/2020)

Apa kabar negeri tercinta? Sebanyak 135 thermo scanner telah diaktifkan di 135 pintu masuk negara baik darat, laut, maupun udara.  Tidak hanya itu, pemerintah juga menyiapkan 100 rumah sakit rujukan dengan fasilitas ruang isolasi terhadap pasien dengan gejala penyakit paru-paru dan saluran pernapasan lain, seperti RSPI Sulianto Saroso di Jakarta dan rumah sakit lainnya. (cnbcindonesia.com, 27/1/2020)

Problemnya seberapa efektif   scanner suhu badan bekerja memindai terduga pasien? Menyoal itu, Menteri Kesehatan Perancis, Agnes Buzyn di suatu kesempatan justru menolak perlunya pemindaian suhu penumpang pesawat dari China.
Dia mengatakan pemindaian memberikan kesan aman, tetapi tidak ada gunanya karena gejala dapat muncul kemudian dan obat aspirin dapat menurunkan suhu tubuh untuk sementara waktu.

"Buktinya adalah bahwa tiga pasien dengan virus Corona yang dikonfirmasi di Prancis tidak terdeteksi dengan pemindaian suhu. Mereka semua tiba di sini tanpa demam dan menunjukkan gejala penyakit kemudian," lanjut Buzyn. (tempo.co, 27/1/2020)

Belakangan tersiar kabar, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto  belum tahu  cara untuk mengevakuasi  243 Warga Negara Indonesia (WNI) yang diisolasi otoritas China di Wuhan,  China. Sebab siapa pun tidak bisa masuk ataupun keluar dari kota itu, termasuk pemerintah.

"Caranya evakuasi gimana? Kita harus tahu bahwa kota itu sudah di lock down, enggak boleh ada yang masuk enggak boleh ada yang keluar," kata Menkes  di Kementerian Perhubungan, Jakarta. (vivanews.com, 27/1/2020)

Korban terus berjatuhan, pandemik jelas sudah di depan mata.  Menukil dari wikipedia, pandemik adalah  penyakit yang menyebar di wilayah yang luas, benua, atau bahkan di seluruh dunia.

Menurut World Health Organization (WHO), pandemik terjadi jika telah memenuhi tiga kondisi, merupakan penyakit baru, menginfeksi manusia dan menyebar dengan mudah dari manusia ke manusia.

Terlihat, ketiga syarat tersebut  telah menggejala.  Menggelitik tanya, mengapa sampai tulisan ini diturunkan belum ada rilis penetapan  pandemik?  Minimal wabah darurat yang butuh penanganan serius.  Sangat disayangkan bila  karena kepentingan ekonomi maupun diplomatik kemudian menempatkan rakyat dalam posisi cemas.  Seperti yang diungkap Menkumham ketika ditanyakan perihal pencabutan bebas visa yang selama ini berlaku untuk China, menurutnya pemerintah juga harus mempertimbangkan hubungan diplomatik dengan China. (liputan6.com, 28/1/2020)

Maha Besar Allah!

Keberadaan endemi yang disebabkan virus 2019-nCoV saat ini harusnya membuka mata  betapa tak berdayanya kita  di hadapan Allah.  Hanya hitungan hari, makhluk yang hanya terlihat di bawah mikroskop – hal itu pun harus dengan pembesaran berkali-kali- mampu mengobrak-abrik tubuh ribuan manusia.  Asli bikin merinding.  Mengingat Oktober tahun lalu Presiden China Xi Jinping, pada peringatan ulang tahun negara itu masih mengatakan dalam pidatonya bahwa tidak ada kekuatan yang dapat menghentikan perkembangan Tiongkok. (liputan6.com, 1/10/2020)

Innalilahi.  Sungguh tak ada alasan makhluk lemah ini menyombongkan diri.  Apalagi berdiri congkak membuat aturan sendiri.  Bukankah tegas Allah nyatakan di penggalan surah Yusuf ayat 40, 

“Tidak ada hukum kecuali hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Andai Islam yang jadi pedoman tentu apa yang disabdakan  Rasulullah jadi tuntunan. 

“Imam/Khalifah adalah pemelihara urusan rakyat; ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap urusan rakyatnya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Seperti yang dilakukan Khalifah  Harun al Rasyid ketika mendirikan Bimaristan (rumah sakit) di Baghdad.  Beliau menugaskan Ar Razi, muslim yang juga polymath ( ilmuwan aneka ilmu).  Menariknya, sebelum menentukan lokasi Bimaristan, Ar Razi meletakkan beberapa potong daging segar di sejumlah titik.  Lokasi di mana daging paling lama membusuk, itu yang dipilih. Karena menandakan tempat yang paling bersih dan udaranya segar.  (Kitab Uyun Al-Anba, Ibnu Abu Usaybah)

Rumah sakit yang didirikannya pun  dirancang memisahkan ruangan untuk pasien dengan penyakit menular.  Keuletan pemimpin dan tenaga medis termasuk jajaran dokter Muslim saat berjuang melawan wabah penyakit tak perlu diragukan. Militansi mereka menyelamatkan pasien tak ubahnya  mujahid yang bertempur di medan jihad.  Rasa ragu, cemas, bingung dan kawatir?  Ke laut saja.  Mengapa?  Karena teguh keyakinan dalam hati mereka. Mustahil penyakit  bisa menular kecuali atas izin Allah Azza wa jalla.  

Demikianlah kokohnya keimanan individu bersanding dengan penerapan syariah secara kaffah terbukti mewujudkan hidup penuh berkah dan rahmatan Lil 'alamiin.  Sebagaimana janji Allah,  

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan  itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al A’raaf: 96)
Wallaahu a'lam.



Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: