Virus Corona Mewabah, Rakyat Butuh Khilafah

Virus Corona Mewabah, Rakyat Butuh Khilafah





Dewi Sartika
(Penggiat Media Muslimah Kolaka)

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM -  Virus corona yang mewabah dari Wuhan, Hubei, China, hingga ke beberapa negara menjadi sorotan netizen. Mereka menggaungkan penolakan turis China yang akan bertandang ke RI.Bahkan, penolakan tersebut menjadi trending topic di Twitter pada Minggu (26/1) pagi. Tagar #TolakSementaraTurisChina viral dikarenakan banyaknya turis yang datang ke Indonesia.

Sementara, menurut Pemerintahan China korban meninggal dunia akibat virus corona sudah mencapai 56 orang dari nyaris 2.000 kasus.Netizen kemudian meminta Pemerintah Indonesia untuk mengisolasi Indonesia dari turis-turis asal China untuk mencegah wabah virus Corona. 

Netizen juga menyayangkan sikap Pemerintah Provinsi Sumatera Barat yang menerima 174 turis asal Kunming, China, di Bandara Internasional Minangkabau di Padang pada Minggu (26/1).
Ratusan turis tersebut disambut langsung oleh Gubernur Sumbar Irwan Prayitno dan Sekda Sumbar Alwis.Warganet juga protes kepada Pemprov Sulawesi Utara karena kedatangan tujuh turis di Manado yang terindikasi terjangkit virus Corona. Namun, pihak Lion Air selaku maskapai telah membantah indikasi tersebut.

Beberapa membagikan beberapa bentuk pencegahan yang bisa dilakukan agar tidak terjangkit virus corona. Misalnya, gunakan masker, hingga sering cuci tangan. Beberapa warganet malah sekongkol untuk menjadikan tagar #TolakSementaraTurisChina masuk ke jajaran trending topic di dunia.

Kapitalisme Menghilangkan Fungsi Negara

Disaat seluruh negara melarang masuknya turis China untuk menjaga negaranya dari wabah virus corona, Indonesia justru bersikap sebaliknya. Nampaknya pernyataan bahwa Indonesia dan China adalah “sahabat baik” ingin kembali dibuktikan. 

Mengutip dari situs yang sama, Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas I, Bandara Soekarno-Hatta, dr. Anas Ma'aruf di Gedung Kemenkes, Kuningan, Jakarta Selatan pada Rabu (22/1/2020) telah mengungkapkan bahwa,

 "Kita tidak melakukan restriksi, pembatasan perjalanan orang, karena bisnis bisa merugi, ekonomi bisa berhenti."

Pernyataan diatas secara jelas menunjukkan apa sebenarnya priorotas negara. Negara yang diharapkan saat ini mampu bersikap bijak menjadi tameng pelindung bagi rakyat nyatanya lebih memikirkan untung rugi dibanding keselamatan rakyatnya padahal Badan Kesehatan Dunia PBB, WHO, telah menetapkan status gawat darurat virus corona. 

Demokrasi Biang Kerok

Demokrasi yang berpihak pada rakyat hanyalah slogan kosong tanpa bukti nyata. Rezim sekarang layaknya orang yang berpenyakit kronis disebabkan berbagai virus sudah menyerang tubuhnya. Ya, virus kapitalisme yang telah melumpuhkan peran negara sehingga kehilangan fungsinya sebagai pelindung dan pengurus rakyat. Dalam sistem kapitalisme demokrasi, penguasa bisa melakukan apa saja untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya tanpa peduli dengan kondisi yang ada. Inilah buah dari sistem hari ini, ketika pengaturan urusan rakyat dikelola dalam bingkai kapitalisme dimana devisa wisatawan dan investasi membuat penguasa rela mengeluarkan kebijakan yang membahayakan rakyatnya. 

Kembali Kepada Islam

Penyakit adalah bagian dari musibah yang datang dariNya. Patut dijauhkan sikap mengatikan musibah wabah penyakit dengan kisah-kisah takhayul atau khurafat. Wabah penyakit adalah bagian dari kuasa Allah Azza wa Jalla

Dalam tulisannya, Iwan Januar, seorang jurnalis muslim mencatat bagaimana cara Islam menangani kondisi wabah penyakit yang menjadi epidemi.  Terlihat jelas Islam bukan hanya agama ruhiyah yang mengajarkan ibadah, tapi Islam adalah ideologi yang memberikan petunjuk kehidupan, termasuk penanganan bencana wabah penyakit.

Rasulullah bersabda, 

“Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kelian meninggalkan tempat itu,” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Inilah metode karantina yang diperintahkan Rasulullah agar wabah yang terjadi tidak menyerang negara lain
Untuk memastikan perintah tersebut dilaksanakan, Rasulullah mendirikan tembok di sekitar daerah yang terjangkit wabah dan menjanjikan bahwa mereka yang bersabar dan tinggal akan mendapatkan pahala sebagai mujahid di jalan Allah, sedangkan mereka yang melarikan diri dari daerah tersebut diancam malapetaka dan kebinasaan.

Dalam Islam setiap muslim diperintahkan untuk hidup sehat hal ni tidak lain untuk menghilangkan peluang datangnya agen penyakit yang menjangkiti manusia. Negara beserta seluruh warganya harus menghilangkan berbagai kebiasaan, makanan, minuman, dan lingkungan yang bisa menjadi penyebab munculnya agen-agen penyakit. Maka sanitasi menjadi wajib, baik di tingkat pribadi ataupun masyarakat.

Dalam kasus Virus Corona yang diduga datang dari kebiasaan menyantap hidangan dari kelelawar, maka kebiasaan mengkonsumsi jenis binatang ini harus dicegah. Bagi kaum muslimin, hukum memakan kelelawar adalah haram. 
Ketika kapitalisme menjadikan kesehatan dan nyawa sebagai barang dagangan, dengan makin mahalnya biaya layanan kesehatan, harga obat-obatan, Islam justru memerintahkan penguasa untuk berkhidmat melayani umat manusia. 

Nabi SAW. pernah diberi hadiah seorang dokter oleh Raja Mesir Muqauqis, lalu oleh Beliau dokter itu dipekerjakan untuk melayani kesehatan kaum muslimin. Ini menjadi dalil bahwa negara berkewajiban melayani kesehatan umat secara cuma-cuma.

Di masa Daulah Umayyah, pelayanan kesehatan meningkat pesat. Salah satu rumah sakit terkemuka bernama Rumah Sakit An-Nuri dibangun pada tahun 706 M oleh Khalifah Al-Walid bin Abdul Al-Malik dari Dinasti Umayyah. 

Khalifah Walid juga meminta tempat perawatan khusus untuk penderita lepra agar tidak menular. Saat kepemimpinan Khalifah Nuruddin Zinki pada tahun 1156 M, rumah sakit ini diperluas dan diperbesar. Ia dilengkapi dengan peralatan paling modern dan tenaga dokter serta perawat yang profesional. Pada masa berikutnya juga dibuat rumah sakit keliling yang bergerak dari satu wilayah ke wilayah lain untuk melayani masyarakat.

Tersedianya pelayanan kesehatan yang canggih, profesional dan memadai bagi warga menjadi amat penting untuk mencegah berkembangnya wabah penyakit dan mengobati warga. Wajar bila dikatakan  pemerintah Indonesia  gegabah karena  tetap mengizinkan warga asal Tiongkok masuk ke Tanah Air. Padahal negara-negara lain telah memberlakukan travel warning, serta melarang orang yang datang dari Cina memasuki negara mereka. 

Penguasa bersama aparaturnya, dan umat Muslim, telah diwajibkan untuk mencegah mudlarat dan menciptakan kemaslahatan bagi manusia, termasuk dalam bidang kesehatan. Semua itu dilakukan atas dorongan kemanusiaan (qimah al-insaniyyah), Begitulah Islam mengajarkan upaya – upaya preventif dan kuratif menghadapi wabah atau virus penyakit.
Hal yang demikian tentu tidak akan terwujud dalam sistem kufur hari ini.  Olehnya itu dibutuhkan penerapan Islam kaffah dalam seluruh sendi kehidupan.  Wallahu a'lam
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: