Corona dan Syariat yang Terlupakan

Corona dan Syariat yang Terlupakan






Oleh : Eli Marlina


Saat ini jagad raya sedang tertuju pada satu makhluk Allah yang tidak terlihat. Ia begitu mampu menyedot perhatian manusia di seluruh dunia. Pasalnya makhluk Allah yang tidak nampak ini membuktikan bahwa sesuatu yang tidak terlihat bukan berarti tidak ada.


Ia ada dan ia adalah salah satu makhluk Allah yang menyerang sistem imun tubuh manusia. Ia mampu menyebabkan banyak manusia meregang nyawa, meskipun ada juga yang sembuh dari serangan virus ini. Akan tetapi total jumlah korban lebih banyak di banding dengan yang sembuh.


Setiap negara yang sudah terserang virus ini masif dan serentak melakukan lockdown kepada seluruh warganya guna menghentikan penyebaran virus ini agar tidak menyebar lebih luas lagi. Penyebaran wabah virus ini bagaikan api yang membakar kertas dan bahan bakar virus ini yaitu banyaknya interaksi atau kerumunan manusia.


Kita lihat dampak dari virus ini mampu menghentikan seluruh aktivitas duniawi, hingga seolah terhenti dan menanti sesuatu yang tidak pasti kapan semua ini akan berakhir. Manusia hanya bisa memprediksi kapan semua ini akan berlalu. Kita menyaksikan ancaman virus ini merupakan tanda tanda kematian yang semakin dekat. Yang mengintai kita menunggu giliran kapan tiba waktunya. Kita tidak tahu kapan malaikat izroil mengambil nyawa melalui virus ini. Dengan kejadian ini seolah Allah ingin menunjukan kepada manusia keMaha BesaranNya dan keMaha KuasaanNya, yang sudah lama di lupakan dan bahkan di ingkari oleh manusia.


Bagi kita selaku mu'min sudah cukup membuat kita sadar bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas kehendakNya kita mampu selamat dari ancaman virus ini. Harus kita sadari meskipun kita mampu melewati ancaman virus ini bahwa masih banyak ancaman-ancaman kematian yang akan selalu mengintai kita kalaupun tidak dari serangan virus ini.


Sudah semestinya kita senantiasa mempersiapkan kematian kita yang selalu mengintai ini dengan berbagai amalan sholeh dan ibadah taqorub kepada Allah baik dengan amalan wajib dan sunahnya.


Yang harus menjadi perhatian kita bukan dengan cara apa kematian itu datang tapi bagaimana kita mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai peristiwa-peristiwa besar yang akan kita hadapi setelah kematian. Maka dengan mengistiqomahkan diri kita di jalan Allah dalam melaksanakan seluruh syariatNya, mudah-mudahan itu bisa menjadi jalan Allah wafatkan kita dalam ke adaan husnul khotimah. Aamiin. Wallahu 'lam bish showwab
Previous Post
Next Post

post written by:

ibu rumah tangga yang ingin melejitkan potensi menulis, berbagi jariyah aksara demi kemuliaan diri dan kejayaan Islam

0 Comments: