Corona Menakar Kesiapan Ibu Pendidik

Corona Menakar Kesiapan Ibu Pendidik



Ditulis oleh: Faizul Firdaus, S.Si (analis politik dan kebijakan publik)


Pendemi Covid-19 sejak 2 bulan terakhir yang melanda dunia, akhirnya masuk juga ke Indoneaia. Sejak awal bulan lalu kondisi perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia semakin mengkhawatirkan maka dunia pendidikan pun harus mengambil sikap. Siswa dan seluruh kegiatan belajar mengajar di sekolah diliburkan. Pembelajaran diganti dengan daring. Aneka tugas dari semua mata pelajaran, pun setoran hafalan Al-Qur'an bagi siswa siswi sekolah berbasis Islam, dilakukan secara online.

Para ibu mendadak tidak lagi hanya sebagai pengatur menu makan di pagi hari, akan tetapi juga dituntut sebagai guru privat. Karena setiap tugas anak-anak yang diberikan oleh para guru sekolahnya secara daring mau tidak mau harus dikawal oleh para ibu. Mulai dari jadwal pelaksanaanya, penjelasan hingga jawaban soal dari setiap materi yang kemudian menjadi tanggung jawab ibu. Ibu kini layaknya guru kelas dan kepala sekolah sekaligus.

Tidak jarang ibu yang tergagap dengan tugas barunya tersebut. Yang apabila dalam Islam, demikian itu adalah tugas asal dari para ibu. Ya, dalam Islam ibu adalah pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya. Di dalam masyarakat yang Islami, jauh sebelum menjadi ibu, para muslimah akan dibekali berbagai pengetahuan dan kecakapan, berkaitan tentang hukum-hukum syariah yang berhubungan tentang mendidik anak dan juga sistem pendidikan dalam Islam. Sehingga ketika seorang muslimah memasuki fase kehidupan rumah tangga sudah banyak bekal pengetahuan dasar berkaitan tentang seputar tugas utamanya sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya.

Berbeda dengan kondisi ibu dewasa ini, setidaknya terlihat dalam 2 minggu ini, setelah diliburkannya sekolah akibat kasus covid-19. Betapa ternyata masih banyak ibu yang tidak memahami karakter dan pola berfikir sesuai usia putra putrinya sehingga pembelajaran di rumah berujung stres tidak hanya pada ibu tapi juga pada anak. Banyak ibu yang tidak mengikuti perkembangan materi belajar putra-putrinya di sekolah, sehingga dalam keadaan mendadak harus melanjutkan materi, tidak heran para ibu dilanda ketidak siapan.

Belum lagi para ibu juga tidak terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan baik yang biasa anak-anak lakukan di sekolah bersama gurunya, misalkan disiplin sholah dhuha, disiplin murojaah hafalan Al-qur'an. Para ibu tergagap untuk mengikuti dan memberikan teladan.

Tidak dipungkiri, para muslimah yang hari ini menjadi ibu. Diasuh dan dibesarkan dalam sistem pendidikan kapitalis sekuler. Yang telah mencetak para ibu yang tidak memiliki kecukupan bekal dasar dalam mendidik anak. Sistem pendidikan Kapitalis Sekuler ini juga menjadikan para ibu menempatkan agama hanya sebagai formalitas dan pengaturan dalam aspek ibadah saja. Bukan sebagai sebuah jalan hidup yang seluruh hukum syariat di dalamnya mengharuskan untuk bisa dijalankan oleh setiap muslim. Akhirnya dia pun mendidik putra-putrinya dengan cara berfikir sekuler.

Belum lagi ketika ibu adalah ibu bekerja. Karena dalam sistem kapitalistik ini, peran negara yang harusnya sebagai satu-satunya penjamin terpenuhinya kebutuhan dasar dari rakyat dihapus. Sehingga setiap individu rakyat harus bertanggung jawab sendiri terhadap pemenuhan kebutuhan-kebutuhannya. Inilah yang memaksa para ibu berangkat membantu meringankan tugas suami untuk mencari nafkah. Hal tersebut membuat para ibu tidak memiliki banyak waktu untuk membersamai anak-anaknya. Maka bisa dipastikan peran utamanya sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anak akan berat untuk dituntaskan.

Akhirnya kita sadari dengan kasus Covid-19 ini bahwa sistem hidup yang hari ini kita jalani yaitu kapitalis sekuler tidak menjadikan para ibu siap dan mampu menjadi ibu pendidik bagi generasi masa depan. Sudah seharusnya kita mewujudkan sistem kehidupan baru yang tidak lagi cacat. Dia adalah Sistem hidup Islam, sebuah sistem kehidupan yang bersumber dari Al-Qur'an dan Hadist. Sistem kehidupan yang menjamin terpenuhinya kebutuhan mendasar untuk hidup layak dan lebih jauh sistem hidup yang menjamin para ibu mampu menuntaskan tugas utamanya sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anak, sehingga hadirlah generasi-generasi cemerlang, penerus peradaban.
Wallahua'lam bisshowab
Previous Post
Next Post

post written by:

Cerdaskan Umat, Raih Kebangkitan!

0 Comments: