Dilema Covid-19

Dilema Covid-19

Oleh : Nafisah Asma Mumtazah

(Penulis Ideologis - Gresik)

       Corona ( Covid 19 ) ini pertama kali muncul di kota Wuhan China. Dan kini keberadaannya telah menjalar ke seantero dunia termasuk negeri Indonesia. Begitu cepat gerakkanya hingga banyak korban berjatuhan membuat ketakutan masyarakat dan mempora-porandakan segala sendi kehidupan masyarakat dunia.

Berbagai upuaya dilakukan untuk mencegah  penularan wabah virus corona covid-19, sebagaimana dilansir dari VIVAnews (24/3/2020),bahwa Pemerintah, baik pusat maupun daerah, tengah menerapkan kebijakkan social distancing untuk mencegah penularan wabah corona covid-19, yang jumlah kasusnya terus meningkat sejak 2 Maret 2020. Dengan social distancing itu, warga diminta tetap dirumah, bekerja dan belajar dari tempat tinggal masing-masing.

Namun, ternyata praktek social distancing ini menimbulkan dilema. Social distancing ini, disatu sisi efektif bagi pekerja dengan gaji tetap. Namun, kebijakan ini sangat sulit diterapkan bagi warga yang bekerja setiap hari untuk menyambung hidup.

Tak pelak, social distancing ini menimbulkan pukulan bagi warga yang tidak memiliki penghasilan tetap. Sebagaimana yang disampaikan driver ojek online kepada Stasiun televisi tvONE diacara Kabar Siang 24 maret 2020,dia mengeluh bahwa pendapatan dia dan rekan-rekannya turun drastis setelah warga diminta bekerja dari rumah alias working from home. Begitu pula pedagang makanan atau warung yang mengaku omset mereka merosot tajam sejak tak dikunjungi para pekerja kantoran.

Miris melihat kondisi rakyat negeri ini, mereka harus berjuang sendiri tanpa hadirnya negara saat mereka menghadapi wabah yang mematikan. Mereka dilema bagai buah simalakama saat pemerintah menerapkan social distancing saat wabah corona hadir ditengah-tengah mereka. Kalau mereka tidak keluar bagaimana dengan semua kebutuhan hidup mereka, tapi jika keluar maka nyawa mereka jadi taruhannya.

Inilah fakta yang ada dinegara yang menerapkan sistem sekuler kapitalisme. Dalam sistem ini negara hanya sebagai regulator, segala yang terjadi diserahkan kepada pasar, rakyat akan kelimpungan saat diterapkan social distancing, tanpa memikirkan bagaimana pangan rakyat ke depan saat social distancing terjadi. 

Apakah mereka mampu bertahan hidup, ketika tidak bekerja? Siapakah yang akan menggaji rakyat ketika social distancing terjadi ? Lalu mereka akan mendapatkan uang untuk membeli makanan dari mana? Bagaimana memasok makanan saat social distancing terjadi?

Secara pemerintah tidak mampu memberi solusi untuk bertahan hidup jika sicial distancing dilakukan. Ada pernyataan lucu dari netizen yaitu, “kalau takut Corona, gak kerja, ya gak makan”, "lebih baik mati diluar rumah karena mencari nafkah untuk keluarga, daripada mati di dalam rumah tapi gak kerja", dan lain-lain.

Ini membuktikan bahwa masyarakat belum memahami pentingnya social distancing ketika suatu daerah terkena wabah pendemi. Selain itu, peran negara sebagai pelindung umat sangat diperlukan jika social distancingdilakukan untuk menekan angka korban wabah pendemi yaitu corona covid 19.


Lalu, bagaimana agar social distancing sukses dilaksanakan jika ekonomi negara melaksanakan sistem ekonomi Islam. Selain itu, syariah Islam diterapkan dalam segala aspek kehidupan.

Dalam sistem ekonomi Islam, sumber pendapatan negara adalah dari baitul mal. Salah satu sumber baitul mal adalah kekayaan sumber daya alam negara. Haram dalam Islam sumber daya alam dikelola oleh kapitalis/penguasa lebih-lebih kapitalis asing.

Dalam Islam, jelas pemerintah akan memberlakukan 'social distancing' secara tegas, disiplin, dan penuh tanggungjawab, sampai wabah dapat diatasi secara sempurna.

Pembatasan interaksi hingga jaminan kebutuhan hidup akan diupayakan secara maksimal oleh negara. Begitu pula dengan umat, umat juga turut membantu peran negara dalam mensukseskan program sicial distancing dengan patuh pada peraturan. Karena memang ini butuh kerjasama antara negara dan rakyat, demi kemaslahatan bersama.

Oleh karena itu, solusi dari segala permasalahan ini adalah taubat nasional, menerapkan syariat Islam secara paripurna dalam segala aspek kehidupan. Karena hanya dengan social distancing dapat menyelamatkan nyawa umat manusia.

Perombakan tatanan ekonomi dan sistem menuju Syariah kaffah dapat memberlakukan social distancing dengan maksimal. Inilah wujud taubat dan kepatuhan kepada Sang Khaliq yang telah Maha Kuasa atas segalanya. Semoga dengan cara ini mampu menyelamatkan nyawa umat manusia. Insya Allah.
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: