Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Ekonomi Stagnan, Bukan Kufur Nikmat

Jumat, 06 Maret 2020


Oleh: Umi Rizkyi(Komunitas Setajam Pena)

Ekonomi di negeri tercinta kita Indonesia, sungguh sangat memilukan. Dari beberapa tahun terakhir ini telah terjadi penurunan. Namun pemerintah menganggap ini bukan suatu masalah besar.
Bahkan, seperti dilansir detik.com (09/02/2020), presiden jokowi menilai pertumbuhan ekonomi 5,2 % patut disyukuri alias jangan kufur nikmat. Menurutnya, capaian indonesia lebih baik dari pada negara - negara yang lainnya. Hal ini menunjukkan adanya therminologi islam tentang kufur nikmat yang bertujuan untuk meredam gejolak public terhadap kegagalan pembangunan ekonomi oleh rezim.
Sungguh ini pernyataan yang konyol, ketika menghadapi pertumbuhan ekonomi yang stagnan, pemerintah meminta masyarakat untuk tidak kufur nikmat. Namun berkebalikan dengan meningkatnya hutang dan pengelolaan SDA yang di dominasi asing dan aseng, kenapa dalam kondisi seperti itu tidak menyatakan "jangan kufur nikmat" sehingga tidak menambah hutang negara dan mengelola SDA dengan kemampuan anak negeri? Sungguh pernyataan itu hanya alibi untuk menyembunyikan keadaan ekonomi yang carut marut di negeri ini.
Direktor eksekutif riset core indonesia Piter Abdullah menyampaikan, "persoaalannya bukan kufur nikmat atau tidak, melainkan ancaman yang ditimbulkan jika ekonomi tumbuhnya segitu - gitu saja alias stagnan. Memang kita membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Bukan kufur nikmat, tapi kalau pertumbuhan ekonomi kita terus 5 % kita itu menunda masalah (detik.com, 9/2/2020).
Dengan pertumbuhan ekonomi 5 % artinya lapangan kerja yang tercipta tidak cukup untuk menyerap tenaga kerja yang bertambah 3juta per tahun. Kalau kita hanya bisa tumbuh sekitar  5 % maka kita hanya bisa menyerap tenaga kerja 1.250.000 jiwa per tahun. Dengan asumsi bahwa setiap 1 % dari pertumbuhan ekonomi mampu menyerap tenaga kerja 250.000, jelasnya. Artinya jika pertumbuhan ekonomi dibiarkan berkisar 5 % ada 1.750.000 pengangguran baru per tahun." nah sekarang masih nggak apa apa, bagaimana dengan 10 tahun ke depan? Pasti akan terjadi penumpukkan pengangguran ya!"  sektor informal sudak nggak sanggup, gojek nggak sanggup, menyerap tenaga kerja. Yang terjadi adalah gejolak sosial" tambah Piter.
Penurunan daya beli dan investasi diyakini sebagai penyebab terjadi rendahnya pertumbuhan ekonomi indonesia. Berdasarkan catatan badan pusat statistik (BPS) pertumbuhan ekonomi tercatat 5.02 % sepanjang 2019 lebih rendah dibanding 2018 5,17 %.
Catatan BPS, konsumsi rumah tangga di triwulan IV 2019 tumbuh 5,6 % menurut Piter, memang ada pertumbuhan daya beli di masyarakat khususnya kelas menengah ke bawah. Sementara untuk tingkatan menengah ke atas lebih cenderung untuk menahan konsumsi. Jadi secara keseluruhan terjadi penurunan konsumsi rumah tangga.
Masalahnya kenapa perekonomian kita melambat, dikarenakan inkonsistensi regulasi, upah minimum yang diberikan setiap daerah berbeda, fluktasi bahan pokok dan energi, pungutan liar, korupsi, dan juga kerusakkan infrastuktur.
Adanya kemandegan ekonomi yang terjadi di negeri tercinta kita, Indonesia ini, tidak lain tidak bukan karena diterapkannya sistem kapitalisme. Hal ini menunjukkan bagaimana bobroknya sistem kapitalisme ini, tidak akan menyelesaikan permasalahan ekonomi yang terus menurun, tapi pemerintah justru menbajak terminologi islam mengenai kufur nikmat. Menempatkan kata yang tak seharusnya digunakkan, karena dengan tujuan tertentu yaitu meredam gejolak public dengan penuruna pertumbuhan ekonomi yang terjadi di negara tercinta kita, Indonesia.
Padahal semua aspek menunjukkan bahwa indonesia tidak perlu mengalami stagnansi ekonomi. Indonesia memiliki sumber daya alam yang memadahi dan melimpah ruah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Apalagi dalam Islam Rasulullah bersabda,
"Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api", (HR Abu Dawud dan Ahmad).
Jadi seharusnya SDA dikelola maksimal oleh negara untuk kepentingan rakyat. Sehingga beban rakyat berkurang, kehidupan rakyat terjamin dan perekonomian semakin membaik.
 Begitu pula dengan pemberlakuan sistem ekonomi islam. Penggunaan dinar dan dirham yang anti inflasi akan mendukung perekonomian negeri. Hal ini hanya akan terwujud jika negara menerapkan islam sebagai aturannya. Allahu'alam bishowab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar