Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Feminisme Merendahkan Martabat Perempuan

Minggu, 15 Maret 2020




Penulis Opini Bela Islam, Pengurus BKMT Kab.Jember 


Potret keluarga di Indonesia, sungguh memprihatinkan. Keluarga rentan, disebabkan oleh akidah yang lemah. Sehingga tidak mempunyai  visi-misi hidup yang jelas. Fatalnya diperparah, karena tidak mengenal aturan-aturan atau syariat Islam. Akibatnya mudah sekali dipengaruhi oleh faktor eksternal. Dengan adanya gerakan feminisme yang mengusung kesetaraan gender, sangat berpengaruh terhadap kerentanan keluarga dan bisa bubrah. Jika hal ini dibiarkan akan menimbulkan potensi kerusakan bagi suatu bangsa dan negara.

Profil kerentanan dan kehancuran keluarga di Indonesia, sebagaimana dilansir dari detik.com.
website Mahkamah Agung (MA), disebutkan bahwa, perceraian yang terjadi tahun 2018 total 419.268 kasus. Dari jumlah tersebut, 307.778 kasus adalah gugat cerai dari pihak perempuan berbanding dengan 111.490 kasus talak cerai dari pihak laki-laki. Jumlah KDRT pada tahun 2019 tercatat 6.574 kasus.

Belum lagi masalah narkoba dan HIV/AIDS. Adapun seks bebas merupakan masalah serius, karena jumlah remaja tergolong besar yakni 26,7 persen dari total penduduk. 
Hasilnya, sebanyak 35,9 persen remaja punya teman yang sudah pernah melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Bahkan, 6,9 persen responden telah melakukan hubungan seksual pranikah.
(sumber: www.metrotvnews.com.28/11/2019)

Kaum feminis memperjuangkan keselamatan keluarga rentan berharap agar selamat. Dengan mempropagandakan kebebasan dan kesetaraan gender. Bukannya solusi yang didapat, justru malah memperparah kerentanan keluarga.

Hal ini disebabkan karena liberalisasi atau kebebasan merupakan pilar demokrasi. Setiap individu diberikan hak kebebasan dalam berakidah, berpendapat, berperilaku dan berkepemilikan. 

Kebebasan inilah yang mendorong mereka berani melakukan perbuatan di luar norma dan agama. Wajar jika mereka melakukan pergaulan dan seks bebas. Tidak takut hamil di luar nikah, toh aborsi diperbolehkan. Para perempuannya berlomba, berjuang untuk berkarir dan bersaing dengan para lelaki. Tanpa disadari sesungguhnya telah menjauhkan diri dari   kehangatan dan keharmonisan sebuah keluarga. Anak dan keluarga menjadi korban. Wajar jika anak-anaknya bermasalah terjebak kenakalan remaja, karena kurang mendapat perhatian.

Kaum pegiat feminisme secara masif mempropagandakan ide-ide kebebasan dan kesetaraan gender. Ide ini lahir karena adanya diskriminasi dan penindasan terhadap perempuan, adanya budaya patriarki di masa lampau di negara-negara Barat. Budaya patriarki merupakan sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial dan penguasaan properti. Dalam domain keluarga, sosok yang disebut ayah memiliki otoritas terhadap perempuan, anak-anak dan harta benda.

Sistem patriarki inilah yang dipakai alasan dan pijakan pejuang feminis, dalam menuntut keadilan dan kesetaraan perempuan. Ingin bebas dan mandiri dalam menentukan sikap. Bebas mengelola hak milik kekayaan maupun tubuh, bebas dari tugas domestik termasuk pengasuhan, pengurusan dan pendidikan anak. Pekerjaan domestik dinilai tidak penting, malah dianggap merendahkan perempuan.

Dampaknya sungguh luar biasa, terjadi alineasi, depresi dan gangguan psikologi pada perempuan, karena bertentangan dengan fitrah dan naluri manusia.

Ironisnya, ide feminis dan kesetaraan gender yang sesat dan merusak, justru diperjuangkan oleh aktivis muslimah di negeri-negeri muslim, untuk melindungi hak perempuan. Mereka tidak paham dengan agamanya, maka siap jadi pejuangnya. 

Masalah KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) disebabkan akibat salah memaknai pandangan hidup. Dalam sistem kapitalisme, makna kebahagiaan adalah   dengan banyaknya materi dan kepuasan tubuh yang diraih. 

Dalam sistem demokrasi kapitalisme, kemiskinan adalah sesuatu keniscayaan. Kemiskinan akan berpengaruh tehadap kerentanan keluarga. Jika keluarga tersebut miskin, maka mendorong kaum perempuan mencari kerja. Mereka harus berangkat pagi-pagi hingga sore hari atau bahkan pada malam hari baru sampai rumah, dan itu terus berulang.
Ketika perempuan  mandiri, lebih rentan dari sisi perlindungan.

Lihatlah TKW (Tenaga Kerja Wanita) yang bekerja di luar negeri tanpa suami/ mahramnya, atau pekerja di dalam negeri. Sungguh keamanan mereka tidak mendapatkan jaminan penjagaan, perlindungan kehormatan. Pelecehan seksual sering menimpa perempuan pekerja. Tanpa disadari telah berbuat maksiat dengan ikhtilat (campur baur), berkhalwat (berdua-duaan), tabarruj (memamerkan kecantikannya pada orang asing/ nonmahram dan membuka aurat. Ide feminisme berhasil merusak ketaatan perempuan pada syariatnya. 

Kemudian, apa sesungguhnya yang didapat? Dalam sistem demokrasi kapitalisme, pekerja perempuan hanya dijadikan pendulang untuk meraup pundi-pundi karena tenaganya murah. 

Di samping itu, tentu didera rasa capek yang berlebihan. Hal ini bisa mendorong emosi sebagai pemicu pertengkaran dan kekerasan dalam rumah tangga, karena tidak bisa mengontrol emosinya. Ujung-ujungnya perempuan minta gugat cerai. Lagi-lagi anak yang menjadi korban.

Selain itu, perempuan yang mandiri umumnya punya baqa' (harga diri) yang tinggi, tidak mau diatur, tidak mau bekerja di ranah sumur, dapur dan kasur. Mereka merasa derajatnya lebih tinggi. Dengan begitu ide feminisme telah berhasil melepaskan ketaatan kaum muslimin terhadap syariatnya.  

Gerakan dan ide feminisme pada dasarnya menolak syariat dalam tatanan pribadi, keluarga, masyarakat dan negara. 
Terbukti bahwa ide feminisme tidak bisa dipakai sebagai solusi kerentanan keluarga. Justru ide feminisme menghancurkan kaum perempuan dan generasi akan datang. Saatnya kita buang sekularisme, pluralisme, liberalisme, feminisme, nasionalisme dan isme-isme lainnya.

Islam Memuliakan Perempuan

Islam tidak menghendaki perbudakan. Penghambaan hanya kepada Allah Swt. semata. Oleh sebab itu semua umat Islam diwajibkan beriman dan takwallah.

Islam membenci ketidakadilan,  memandang sama antara perempuan dan laki-laki. Yang membedakan adalah ketakwaannya. Sebagaimana firman Allah QS al-Hujurat: 13

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. al-Hujurat: 13)

Islam datang untuk memuliakan perempuan. Relasi antara laki-laki dan perempuan, bukan seperti direktur dengan karyawannya, bukan seperti juragan dengan pembantunya, akan tetapi hubungan persahabatan saling melengkapi dan menguatkan, berdasarkan keimanan dan ketakwaan. Laki-laki sebagai imam atau pemimpin dalam rumah tangganya.

Islam mewajibkan perempuan  menaati suami, selama tidak melanggar syara'.

Islam mewajibkan fungsi perempuan sebagai ummun warrabbatul bait (ibu dan mengatur rumah tangga). Yaitu ibu pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya, untuk  mencetak generasi cemerlang, dan ibu mengatur rumah tangganya.

Dalam urusan publik Islam mewajibkan perempuan beramar ma'ruf nahi mungkar. Juga diperbolehkan bekerja, menuntut ilmu, dengan syarat tidak meninggalkan kewajibannya sebagai ummun warrabbatul bait.

Nafkah perempuan di jalur walinya, jika tidak ada, negara yang mengambil alih. Oleh sebab itu Islam mewajibkan negara menyediakan lapangan kerja untuk yang membutuhkannya.

Aturan-aturan tersebut tertuang dalam firman Allah Swt.

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ وَبِمَآ أَنفَقُواْ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡۚ فَٱلصَّٰلِحَٰتُ قَٰنِتَٰتٌ حَٰفِظَٰتٞ لِّلۡغَيۡبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُۚ وَٱلَّٰتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَٱهۡجُرُوهُنَّ فِي ٱلۡمَضَاجِعِ وَٱضۡرِبُوهُنَّۖ فَإِنۡ أَطَعۡنَكُمۡ فَلَا تَبۡغُواْ عَلَيۡهِنَّ سَبِيلًاۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيّٗا كَبِيرٗا ٣٤

“Kaum pria adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (pria) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (pria) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Maka dari itu, wanita yang salihah ialah yang taat kepada Allah Swt. lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kalian khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka, dan jauhilah mereka di tempat tidur, dan pukullah mereka. Jika mereka menaati kalian, janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (QS an-Nisa: 34)

Juga tidak kalah pentingnya yaitu negara diwajibkan menerapkan sanksi   (uqubat) yang tegas bagi siapa saja yang melanggar.

Sejatinya penyebab dari kerentanan keluarga juga kerusakan-kerusakan yang ada di muka bumi, karena tidak diterapkannya aturan-aturan yang berasal dari Allah. Islam adalah agama sekaligus mabda' sebagai pedoman dan petunjuk hidup. Dengan Islam kaffah bisa mengatasi semua masalah, dan hanya bisa diterapkan dalam institusi khilafah.
Wallahu a'lam bishshawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar