Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

India Membara

Senin, 02 Maret 2020
Oleh: Rindoe Arrayah

       Beberapa hari ini suasana di India sedang membara.  Kerusuhan yang pecah di Delhi Timur dan sekitarnya pekan ini dipicu oleh ucapan Kapil Mishra (39), seorang politikus setempat dari partai nasionalis Hindu. Dia baru saja mengalami kekalahan dalam pemilihan. Sebuah sumber menyebutkan jika dia tengah berusaha bangkit kembali dari kekalahannya.

Kapil Mishra dikenal karena kerap blak-blakan saat menyampaikan pandangannya. Dia berasal dari kasta tinggi masyarakat Hindu dan keturunan politikus yang pernah bekerja di Amnesty International dan Greenpeace. Kemudian, naik pangkat di salah satu organisasi politik paling progresif di India.

Beberapa tahun lalu, dia terjun ke politik dan menjadi anggota Partai Bharatiya Janata (BJP) yang berkuasa di India saat ini. Partai ini memiliki akar yang kuat dalam ideologi supremasi Hindu (Merdeka.com, 28/02/2020).

Hari Minggu yang lalu (23/02/2020), Kapil Mishra muncul dalam sebuah kampanye melawan pengunjuk rasa (didominasi perempuan) yang menentang UU Kewarganegaraan Baru India yang dinilai diskriminasi terhadap Muslim. Di kesempatan itu, dia menumpahkan kemarahannya dalam pidato berapi-api dengan mengeluarkan ultimatum kepada polisi agar membubarkan pengunjuk rasa yang memblokir jalan utama, atau dia dan para pengikutnya akan melakukannya sendiri.

Hanya beberapa jam, kekerasan terburuk Muslim-Hindu di India dalam beberapa tahun ini pecah. Terjadi saling serang antara kelompok Hindu dan Muslim dengan golok dan pentungan. Banyak toko terbakar, pecahan batu bata melayang di udara, dan gerombolan massa mengeroyok orang-orang yang terpojok.

Banyak warga India, termasuk Hindu meyakini Mishra dan pendukung nasionalis Hindunya menyulut api kebencian. Di negara mayoritas Hindu itu, dengan pemerintahan nasionalis Hindu yang mengizinkan pembunuh Muslim tak dihukum. Hal ini menumbuhkan ketakutan bahwa ekstremis Hindu yang kejam dapat lepas kendali

Bangunan milik warga Hindu ada yang dibakar. Namun, kerusakan jauh lebih berat dirasakan oleh masyarakat Muslim. Di wilayah Muslim, toko-toko dirusak dan pasar dibakar. Puluhan penduduk Muslim menuding polisi hanya berdiri tanpa tindakan saat terjadi perusakan.

"Secara keseluruhan, kerusuhan Delhi pekan ini mulai terlihat seperti pogrom (serangan besar-besaran terhadap kelompok tertentu), seperti kerusuhan Gujarat 2002 dan Delhi 1984," kata Ashutosh Varshney, Direktur Pusat Asia Selatan Kontemporer Universitas Brown.

"Gerombolan massa memulai kekerasan biadab, sementara polisi memalingkan muka atau bergabung dengan gerombolan, bukannya secara netral mengintervensi untuk menghalau kerusuhan," sesalnya (Merdeka.com, 29/02/2020).

UU kontroversial yang mengundang pro kontra itu mengizinkan India untuk memberi status kewarganegaraan terhadap imigran yang menerima persekusi di negara asal seperti Bangladesh, Pakistan, dan Afghanistan. UU itu hanya berlaku bagi imigran pemeluk agama Hindu, Kristen, dan agama minoritas lainnya selain Islam.

Para kritikus menilai undang-undang ini dimanfaatkan oleh rezim Nahrendra Modi untuk mendorong India yang sekuler menjadi negara Hindu (CNN Indonesia, 28/02/2020).

Sungguh, sebuah kedholiman yang luar biasa ditimpakan kepada umat Islam. Tidak hanya di India. Namun, tragedi berdarah seperti ini juga menimpa umat Islam di berbagai wilayah di dunia. Hal ini, dikarenakan umat Islam tidak memiliki kekuatan untuk melawan kedholiman itu. Mengapa demikian? Karena umat Islam saat ini tidak memiliki pelindung yang bisa menyatukan dan memberi keamanan.

Islam adalah agama yang mulia. Sudah pasti, umatnya juga mulia, bermartabat, terhormat, dan berwibawa. Sebagaimana bunyi dalam suatu hadits, "Islam itu tinggi dan tidak ada yang menandinginya." (HR. Ad-Daru Quthni dan Al-Baihaqi)

Begitu juga dalam ayat 110 Surat Ali-Imran, Allah Ta'ala menyebut kaum muslimin dengan gelar "khairu ummah" (umat terbaik).

"Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kalian) menyuruh (berbuat) yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik." 

Hanya saja, saat ini kemuliaan umat Islam tidaklah nampak. Hal ini dikarenakan, umat Islam masih berada di bawah bayang-bayang orang kafir. Masih banyak yang dijajah melalui ekonomi, pendidikan dan politik. Mengapa bisa demikian? Apakah karena jumlah umat Islam sedikit? Jawabnya tentu tidak. Mereka banyak, tapi tidak bisa memimpin. Bahkan menjadi rebutan.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam suatu hadits, "Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, sepertu halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring." Seseorang berkata, "Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?" Beliau berkata, "Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kalian seperti buih di lautan. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatinya penyakit wahn." Seseorang bertanya, "Apakah wahn itu?" Beliau menjawab, "Cinta dunia dan takut mati." (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud)

Untuk itu, kita butuh suatu kekuatan dalam kepemimpinan secara universal yang bisa mempersatukan seluruh umat Islam di dunia, yaitu Khilafah. Keberadaan Khilafah tidak hanya untuk umat Islam saja. Non muslim pun bisa hidup di dalamnya. Hal ini telah dibuktikan selama ribuan tahun yang lalu dengan diterapkan syariat-Nya dalam naungan Khilafah. Hingga keruntuhannya pada tanggal 3 Maret 1924 yang dilakukan oleh seorang pengkhianat, yaitu Mustafa Kemal Attaturk.

Hilangnya perisai (junnah), yaitu Khilafah menjadikan umat Islam tidak lagi memiliki institusi yang mampu melindungi dan memberikan rasa aman. Kekerasan demi kekerasan terus menimpa umat Islam. Darah umat Islam teramat murah untuk ditumpahkan. 

Dunia bungkam begitu pun para penguasa muslim. Entah, berapa banyak lagi umat Islam yang akan menjadi korban kejahatan dan kebiadaban dunia barat beserta anteknya yang telah mencengkeram di berbagai negeri.

Ambigunya sikap dunia Islam terhadap kekerasan yang dialami umat Islam semakin memperpanjang derita umat Islam di berbagai belahan dunia. Umat Islam hingga saat ini menanggung penderitaan yang menahun.

Tidak bisa disangkal lagi, umat Islam butuh kekuatan nyata yang mampu menyelamatkan dan melindungi mereka. Sebuah institusi politik independen yang tidak terpengaruh tekanan asing. Karenanya, tegaknya Khilafah yang akan menerapkan syariat Islam secara kaffah akan berperan sebagai perisai (junnah) sudah sangat mendesak.

Derita umat Islam yang mendera di seluruh wilayah di dunia semoga bisa menyadarkan kita semua, bahwa Khilafah harus segera ditegakkan kembali di muka bumi ini.

Wallahu a'alam bishowab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar