Kedudukan Perempuan Dalam Islam

Kedudukan Perempuan Dalam Islam



                      Oleh : Hj. Padliyati Siregar ST


Kesetaraan untuk perempuan tidak bisa dilepaskan dari faktor pendidikan yang dapat membuka wawasan serta pikiran. Pendidikan untuk perempuan telah diperjuangkan sejak lama di Indonesia. Raden Ajeng Kartini menjadi salah satu sosok perempuan yang dikenal gigih dalam memperjuangkan hal itu.

Namun kenyataannya, pendidikan untuk wanita belum merata di Indonesia. Karena kuatnya tradisi, banyak perempuan yang tidak dapat mengenyam pendidikan tinggi. Faktor ekonomi dan patriarki seolah menjadi hal yang tidak dapat dielakkan oleh kaum perempuan (cnnindonesia,08/03/2017)

Di Indonesia, Faktor ekonomi dan patriarki seolah menjadi hal yang tidak dapat dielakkan oleh kaum perempuan. Padahal, menurut psikolog Pendidikan Reky Martha, pendidikan dapat menjadi peluang perempuan menyejahterakan hidupnya. Meski secara global, sepanjang 25 tahun sejak BPFA 1995 sudah banyak kemajuan pada kondisi pendidikan perempuan, namun masalah2 kekerasan masih sangat rentan dialami perempuan.

Berkaca Pada Sejarah

Melihat sejarah peradaban kuno, seorang wanita dengan mudahnya dilecehkan. Di zaman Yunani seorang wanita menjadi komoditi untuk diperjual belikan. Di zaman Romawi, kedudukan seorang wanita tidak jauh berbeda dari Yunani, dimana kedudukannya sebanding dengan budak yang tugasnya menyenangkan dan menguntungkan tuannya. Di zaman Cina, kedudukan seorang wanita tidak mendapatkan haknya, justru mereka dijual sebagai budak.

Di zaman Arab, tidak jauh berbeda dengan peradapan kuno lainnya. Bahkan ketika lahir seorang bayi perempuan, maka akan dibunuh hidu-hidup. Melahirkan anak perempuan seakan-akan aib yang menimpa keluarganya. Kalaupun tidak dikubu, maka wanita tersebut tetap dipelihara tapi diperlakukan secara tidak manusiawi. Di zaman Eropa, disitulah ada pembantaian besar-besaran terhadap kaum wanita. Saat itu telah terjadi banyak kekacauan dalam masyarakat, salah satunya mengalami berbagai wabah penyakit. Sumber masalah yang terjadi dianggap dari kaum wanita. Karena wanita dianggap sebagai tempat penampung setan dan ruh jahat.

Peradaban dahulu telah membawa kaum wanita pada posisi yang sangat rendah. Kedudukan wanita tidak jauh dari penghinaan serta perbudakan, dimana tugas utamanya sebagai pemuas kaum laki-laki. Bagaimana agama Nasrani dan Yahudi telah menganggap wanita sebagai makhluk yang penuh dosa. Wanita dianggap penyebab dari dikeluarkannya Adam dari surga, bahkan wanita dianggap sebagai Ibu dari semua kesengsaraan. Sehingga hal ini membuat wanita mengalami diskriminasi dalam berbagai bidang kehidupan. Sehingga merasakan trauma karena terlalu banyak pressure dengan aturan-aturan yang sama sekali tidak menghargai kaum wanita. Kemudian muncullah ide feminisme yang mengusung  gagasan untuk menuntut kesetaraan.

Pandangan Kaum Feminis

Feminisme ingin menanyatakan bahwa keberadaan wanita bukan hanya sebagai pemuas pria, tugas wanita bukan bekerja dibelakang pria, namun, wanita juga bisa bekerja dan beraktivitas seperti pria. Ketika pria mampu bekerja, maka wanita pun juga harus mampu bekerja agar bisa menghasilkan uang. Dengan begitu mereka para wanita tidak tertindas. Dari gagasan tersebut akhirnya dapat mengubah alur sejarah.

Bagi kaum feminisme merasa bahwa pria lebih maju, kenapa wanita tidak bisa setara dengan pria? Sampai kapan wanita terus ditindas dan terkekang oleh pria? Kini telah hadir fakta yang ada disektar kita, bahwa wanita mulai menyuarakan isi hatinya. Dimana mereka merasa ketidak adilan dan diskriminasi yang tengah dirasakannya.

Masalah kekerasan yang berbasis gender menjadi polemik dunia saat ini. Kita, pernah dihadapkan setumpuk masalah bahwa wanita mengalami kekerasan fisik seperti pemukulan dan penyiksaan, kekerasan emosional atau psikologis seperti penghinaan dan pelecehan, kekerasan ekonomi seperti perdagangan wanita untuk tujuan eksploitasi seksual pornografi, maupun kekerasan seksual seperti pemerkosaan. Kasus seperti ini, begitu banyak yang terjadi apalagi di Indonesia.

Telah terlihat diskriminasi atau ketidaksetaraan wanita pada semua aspek kehidupan, baik itu budaya, sosial, ekonomi, maupun politik. Disektor ekonomi diskriminassi nampak ketika wanita dibatasi dengan pekerjaa stereotipe yang biasanya diberikan imbalan jasa rendah, atau sebagai pekerja dalam industri rumah tangga yang tidak diupah. Dalam gaji pun kini seorang  wanita mendapatkan upah atau gaji lebih rendah daripada seorang laki-laki. Mereka hanya dipaksa untuk merasa puas berkutat dilingkungan dapur, kasur, sumur.

Alhasil kisah ini mengundang simpati publik terutama kaum wanita dari berbagai kalangan. Simpati ini kemudian dikenal sebagai kesadaran untuk memperjuangkan nasib wanita dunia agar setara dengan pria. Sehingga berawal dari gerakan kesadaran inilah yang kemudian dikenal sebagai feminisme. Feminisme merupakan sebuah gerakan dari kaum wanita atau pria untuk menghapuskan perilaku bias gender dan menyamaratakan antara pria dan wanita.

Mereka menuntut kalau pria boleh, wanita juga boleh. Kalau pria bisa, wanita juga bisa harus bisa. Pria dan wanita seharusnya punya hak yang sama. Maka ia butuh kesetaraan. Gerakan feminisme ini terbentuk dari kesadaran bahwa wanita ditindas dan dieksploitasi. Feminisme sering disebut sebagai kesadaran akan eksploitasi dan penindasan wanita, baik itu dalam keluarga, lingkungan kerja, maupun didalam lingkungan  masyarakat.

Dari sisi sejarah, feminisme ini awalnya lahir akibat frustasi dan dendam terhadap sejarah (Barat) yang dianggap tidak memihak kaum wanita. Perjuangan kaum wanita menuntut kesetaraan itu pun dimulai. Menurut kaum feminis, dominasi paling besar lelaki datang dari politik dan ekonomi. Maka dua bidang itulah yang dikejar.

Islam Memuliakan Perempuan

Ketika Rasulullah mengemban risalah Islamnya, maka nikmatnya Islam telah kita rasakan hingga detik ini. Tanpa ada dakwah dari Rasulullah, tentu kita tidak akan merasakan manisnya Islam. Islam sebagai solusi yang paripurna dan sesuai dengan fitrahnya. Artinya laki-laki dan perempuan memiliki hak masing-masing atau telah Allah tentukan sesuai dengan porsi mereka. Islam telah mengangkat derajat kemuliaan seorang wanita yang direndahkan oleh sistem kehidupan yang ada sebelum Islam. Islam memberikan kebahagiaan yang berbeda dengan sistem hari yang standartnya materi sebagai puncak pencapaian. Sedangkan standart kebahagiaan dalam Islam yaitu rida Allah swt.
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (TQS. An-Nisa’ : 32)[

Wallahua'lam Bish Shawab

Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: