Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Malak ya Tetap Malak, Pajak ya Tetap Pajak

Selasa, 03 Maret 2020



         Oleh: Andi Qurratu Aini
                Siswi SMA

Dengan alasan demi kesehatan rakyat pemerintah membuat kebijakan baru atas dasar kesehatan. Padahal jika dilihat faktanya kebijakan itu cukup aneh. Tapi kalau kita membahas soal ini kembali yang namanya pajak ya tetap pajak, gimanapun pajak itu ujungnya nyakitin. Jadi nggak ada tuh  istilah pajak sama kesehatan rakyat itu saling sodaraan. Obati ya obati, sakiti ya sakiti. Ini yang ada malah ngambil jalan tengah. Dimana kalau kita tau , jalan tengah itu tidak benar adanya. Dalam satu kondisi badan kita sehat, tapi disaat yang bersamaan juga terus diporoti kantong dan tenaga sampe kritis, sampai benar-benar tidak ada uang untuk makan, ya sama saja dia akan sakit.

Perumpamaan simpelnya lagi, positif dikali ama positif hasilnya akan positif. Tujuan yang benar dengan cara yang benar akan baik hasilnya. Tapi coba kemudian modusnya positif banget alias bagus banget didengar, “demi kesehatan rakyat” wiss.. bagus banget yak kedengarannya, tapi kemudian dikalikan sama negatif alias pakai dipungut biaya (pajak), ya anak SD juga tahu kalau hasilnya bakal negatif. Kesehatan kok pakai malak (pajak). Apa Kata Dunia?

Jadi begini “cukai minuman manis bakal diterapkan di Indonesia, efektifkah untuk tekan konsumsi” (www.merdeka.com). Wiss.. kata-kata apik banget, tapi Jelas banget modusnya, kelihatan kan? Tidak kelihatan?? Simak lagi aja “Sri Mulyani akan tarik cukai minuman konsumen yang tanggung” (www.cncbindonesia.com) , “ Sri Mulyani kejar setoran receh cukai yang manis dan kotor” (www.vivanews.com) .

Simak dengan jelas, dengan hati yang lapang dan pikiran yang jernih. Kita mendapat kesimpulan yang clear bahwa Pemerintah kejar target pendapatan pajak untuk memperbesar pendapatan negara. Salah satunya dengan memberi alasan kesehatan  untuk menarik cukai dari produk yang banyak dikonsumsi dan menjadi Sumber pendapatan masyarakat  kecil (minuman sachet yang manis dan kotor katanya).
Sama halnya memecahkan masalah dengan masalah.
Ya lucu saja, bukan membuat sehat justru makin melarat karena menarik cukai dari minuman manis yang artinya menaikkan harga jual. Selain menurunkan daya beli masyarakat, mengurangi konsumsi juga akan mengurangi bahkan menghilangkan pendapatan masyarakat pedagang asongan. Jelas sekali rezim kapitalis berosientasikan pada pemasukan pajak yang mencekik rakyat kecil. Yang kaya makin adem, yang miskin makin melarat, kesenjangan sosial dong yah. Padahal pelajaran ekonomi di SMA telah membahas kesenjangan sosial yang tidak boleh dianut. Kurikulum dari mereka, yang berbuat juga mereka. Ya Allah.. makin aneh saja.

Ingat yah! Kita kadang merasa wajib dan mendewakan pajak untuk kelangsungan hidup negara,  sebenarnya tidak dibenarkan karena dalam Islam negaralah yang justru wajib memberikan fasilitas kesehatan yang memadai. Malah sekarang kita makin diresahkan oleh pemungutan pajak untuk hal-hal yang tidak masuk akal. Bahkan makan diwarung pun dipajakin.

Ya Allah,  kami ingin hidup dibawah naungan negara yang tidak berani memungut sepeser pun dari rakyatnya karena sumber penghasilannya adalah sumber daya alamnya sendiri. Pajak atau memalak rakyat itu dosa , apalagi untuk kesehatan dan pendidikan, yang jelas wajib negara untuk menanggung dan membiayainya.

Ya Allah, kami sudah susah bergerak, daya beli menurun, penyakit terus muncul bahkan tidak ada  obatnya Kami ketakutan, tapi yang menaungi kami sungguh lemah, yang mereka lakukan hanya untuk kepentingan mereka dan kalangannnya saja. Kami tidak terurus, fasilitas harus dibayar, uang kami habis hanya untuk makan, bagaimana ini akan  berlanjut.

Tapi tidaklah boleh kita berputus asa dari rahmat Allah Swt, pertolongan akan  semakin dekat ketika kondisi sudah sangat terpuruk dan mencekik. Bukankah sudah ada janji dari-Nya bahwa negara Islam akan kembali sebelum akhir dunia sebagai fase terakhir, khilafah ala manhaj nubuwah alias kepemimpinan islam yang sungguh terdapat kemiripan dengan metode kenabian.

Rindu itu akan segera sirna, karena tak lama lagi kita akan bersua dengan kepemimpinan itu, Insya Allah. Mari beristiqomah bro and sis, buat yang belum masuk dalam barisan perjuangan. Kuy join segera, jangan nonton aja  Insya Allahpahalanya beda loh. Kita hidup buat pahala kan, nah ini ada pahala yang membuat iri para sahabat Baginda Rasulullah saat itu. Pahala bagi orang yang istiqomah akan Islam yang kaffah dan berusaha mengembalikan kejayaan Islam disaat sudah tidak bersama Rasulullah.

Hebatkan barisan ini
By the way Negara Islam tidak berpajak loh, ajaib. Gratis tis tis, karena apa? hukum jelas dari Allah, pemimpin takut kepada Allah sehingga tidak ada korupsi, uang bisa terus mengalir untuk fasilitas rakyat, SDM dikelola oleh kita sendiri jadi tidak ada pengangguran, karena kita tau didalam Islam lelaki beristri wajib bekerja untuk nafkah dan digaji dengan semestinya. Bukannya malah membawa pekerja asing masuk. Pokoknya nanti sejahtera deh..

Ini bukan copas visi misi capres yah..
sebagai seorang rakyat yang tidak menerima bisikan dari siapapun dan benar-benar hanya melihat realitas yang ada ini, saya akan terus speak up sejujurnya tentang apa yang saya lihat, saya dengar dan rasakan. Memang tidak ada untungnya melainkan hanya sebuah bukti akan rasa cinta kepada saudara saudari muslimku, ana berusaha semaksimal mungkin untuk selalu hadir dengan sebuah opini singkat yang  Insya Allah bermanfaat, utamanya untuk teman-teman pemuda pemudi sesama pejuang. Tetap semangat ya bro and sist !!

Wallahu A'lam Bishshawab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar