Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Menjauhkan Transportasi Udara dari Kapitalisasi, Mungkinkah?

Selasa, 10 Maret 2020





Oleh: Eqhalifha Murad
(Pengamat penerbangan, eks pramugari)

Bisakah transportasi udara dijauhkan dari praktek bisnis? Dan apakah anda pernah membayangkan naik pesawat gratis, selamanya seumur hidup? Berarti kalau mau berangkat haji tidak usah bayar ongkos pesawat ya, enak betul.


Zaman sekarang jangankan naik pesawat gratis, parkir kendaraan atau buang hajat saja bayar, cuma buang angin saja yang gratis. Boro-boro tiket pesawat gratis, dapat tiket murah saja, luar biasa susah. Bagaimana? Beberapa uraian berikut bisa menjadi argumentasi. Pertama, dulu ketika terbang diudara itu masih angan-angan sekarang keluar angkasapun sudah bisa dilakukan.


Maka menggratiskan biaya naik pesawatpun bisa dilakukan, dengan cara merubah mind set. Teknologi diciptakan untuk memudahkan manusia bukan untuk menyusahkan. Contoh: dengan pesawat udara perjalanan ke tempat jauh jadi mudah dan cepat. Tapi kemudahan yang harus dibayar mahal, tetap susah bukan?


Ilmuwan mendedikasikan ilmunya untuk manusia dan diadopsi negara, kemudian terciptalah sebuah kereta api. Yang menakjubkan, rakyat tidak dipungut biaya mempergunakannya. Nama negara adidaya pada zamannya itu adalah Turki Ustmani dan Khalifahnya yang terkenal dermawan.


Apa negara tidak rugi, dari mana mendapatkan biaya untuk penggantian pengadaan kereta api itu? Bukankah teknologi seharusnya menambah pemasukan negara? Jawabannya adalah karena negara Turki Usmani adalah negara yang mengambil syari'ah Islam dalam meletakkan segala kebijakannya.


Syari'ah Islam memerintahkan seorang pemimpin harus mengurusi dan melayani rakyatnya. Menyediakan fasilitas umum tanpa mengambil keuntungan dari rakyat. Menjadikan Sumber Daya Alam yang melimpah sebagai salah satu modal untuk mensejahterakan rakyat.


SDA tidak boleh dikelola oleh perorangan atau swasta bahkan asing, tapi mutlak dikelola negara dan rakyat bersama-sama. Lalu mempekerjakan seluruh warga negara laki-laki, karena merekalah yang wajib menafkahi keluarganya.


Sehingga hasilnya maksimal masuk ke kas negara tidak harus bagi hasil dengan pihak lain. Kemudian dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan rakyat dan menyediakan fasilitas umum yang berkualitas. Logikanya, kalau semuanya mesti bayar bahkan mahal, lalu buat apa kita punya negara dan punya pemimpin?


Kedua, Mentri BUMN Erick Tohir akan melikuidasi 5 anak cucu perusahaan Garuda. Dari 26 anak cucu perusahaan, yakni 7 anak usaha dan 19 cucu usaha. Karena dinilai tidak sehat, tidak memberikan keuntungan dan terus merugi.


Ini membuktikan rakyat ditempatkan sebagai konsumen bukan sesuatu yang harus diurus oleh negara. Badan Usaha Milik Negara harusnya sebagai jembatan menfasilitasi kebutuhan rakyat bukan dijadikan alat untuk berbisnis jual beli dengan rakyat.


Perusahaan-perusahaan ini bergerak di berbagai lini bisnis penerbangan, seperti Low Cost Carrier (LCC), ground handling, katering di pesawat, fasilitas perawatan pesawat. Kemudian jasa teknologi informasi, reservasi, perhotelan, transportasi bandara di darat, e-commerce dan market place, ekspedisi kargo, tour, dan travel ( Cnnindonesia, 20/02/2020).



Semua harusnya gratis? Ya, belajar dari negara adidaya peradaban Islam dan para khalifahnya yang meri'ayah umat hingga menjadi rahmat hampir disepertiga dunia. Jangankan manusia, burung-burung di bukit-bukitpun diberi makan dan binatang buas seperti serigala tidak mau memangsa kambing yang ada didepan matanya. Artinya mereka tidak pernah dibiarkan benar-benar dalam keadaan lapar.


Intinya Islam menghendaki seorang pemimpin harus memenuhi seluruh kebutuhan pokok rakyatnya. Yakni sandang pangan dan papan, tidak terkecuali kesehatan, pendidikan dan keamanan.


Semuanya tidak diukur dengan untung rugi, semata tunduk pada aturan Ilahi. Banyak rumah sakit dibangun dengan fasilitas sangat lengkap dengan teknologi paling mutakhir saat itu. Semua disediakan cuma-cuma tanpa dipungut biaya. Dokter dan perawat digaji oleh negara bukan dari uang rakyat.


Ketiga, pajak bukanlah satu-satunya pemasukan bagi negara dalam Islam. Sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya pajak bandara (airport tax). Pajak menjadi andalan bagi negara beraliran kapitalis saat ini, termasuk Indonesia.


Tidak ada satupun yang luput dari pajak. Sekali lagi Islam mengajarkan, pajak bukan untuk memeras rakyat, tapi hanya dijalankan untuk membantu negara ketika darurat. Seperti kekosongan kas negara akibat perang, itupun hanya dipungut dari kalangan orang kaya. Dan setelah kas terpenuhi, otomatis pajak dihentikan.


Lantas bagaimana merealisasikan itu semua? Sepertinya sulit. Karena negara saat ini tidak menginginkan syari'ah mengatur negara. Sekulerisasi malah terus ditingkatkan, karena agama sejatinya menurut mereka hanya mengurus sektor privat. Sedangkan jika dibawa ke dalam sistem akan menimbulkan kekacauan.


Untuk itu upaya mengkritisi ide kapitalis sekuler harus terus digencarkan. Sedangkan upaya membangunkan dan membangkitkan umat dengan ketinggian berfikir agar mempunyai visi misi yang jauh kedepan harus terus disuarakan. Visi misi yang melampaui zamannya seperti ketika Islam pernah diterapkan secara kaffah dalam kehidupan lebih dari 1300 tahun.


Teknologi apabila dikuasai oleh orang yang tidak menginginkan diatur agama, maka akan menjajah dan teknologi apabila tidak dikuasai oleh orang Islam maka akan terjajah. Jauh sebelum Wright bersaudara menciptakan pesawat terbang, beberapa abad sebelumnya ilmuwan muslim Abbas Ibn Firnas telah berhasil melakukan uji terbang dengan alat sederhana.


Saatnya mengembalikan teknologi kedalam pemikiran yang ideologis. InsyaAllah keberkahan menyelimuti bumi, Islam rahmatan lil a'alamin, biidznillah. Wallahu a' lam bish Showab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar