Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Murahnya Darah Muslim dalam Kapitalisme

Rabu, 11 Maret 2020



Oleh : Laela Komalasari



Lagi, terjadi tragedi yang menyebabkan umat muslim menjadi korban. Dipertengahan bulan februari ini umat muslim diusik lagi ketenangannya. Kali ini di Hindustan India tepatnya New Delhi, melakukan penyiksaan kepada rakyat minoritas. Satu alasan kenapa penyiksaan itu terjadi, hanya karena mereka muslim. Mereka diserang hanya karena ke-Islamannya.


Belum hilang dari ingatan bagaimana hal serupa terjadi pada etnis Rohingya yang disiksa, diusir bahkan dibunuh oleh etnis Budha. Bahkan jika kita menilik tragedi-tragedi serupa juga masih terjadi di negeri-negeri yang bahkan mayoritas muslim, seperti Palestina dan Suriah. Seolah seperti mimpi buruk tragedi berdarah terus saja terjadi, bahkan tak kunjung usai.


Awal mula terjadinya pembantaian kepada umat muslim di India adalah akibat penolakannya terhadap UU Kewarganegaraan yang justru menyudutkan umat Islam di tiga Negara, yakni Bangladesh, Pakistan dan Afghanistan untuk mendapatkan kewarganegaraan India. Akan tetapi status kewarganegaraan itu tidak berlaku bagi yang memeluk Agama Islam.


Selain manusianya yang dibantai oleh kaum mayoritas Hindu, mereka juga menjarah isi rumah, merusak tempat ibadah, rumah-rumah dibakar, toko dan seisinya mereka rusak, tak sedikit pula para wanita yang dilecehkan. Sungguh keji. Sekali lagi, hanya satu alasan itu semua terjadi, karena mereka muslim. Karena mereka Islam. Intoleransi yang nyata bukan?


Bukti sudah nyata, korban bukan hanya dengan hitungan jari. Lantas apa yang sudah dilakukan oleh PBB? Mana orang-orang yang menuntut HAM jika itu korbannya umat muslim? Tidak berlaku sama sekali. Bahkan pemimpin negeri kita ini bungkam atas hal tersebut. Bahkan ada ormas tertentu yang mengunjungi  kedubes India bukan untuk mengecam tragedi berdarah itu.
Belum lagi ummat muslim di Indonesia dibuat sakit hati, geram oleh pernyatasn Menteri Agama "Mari kita kedepankan kehidupan beragama yang damai, rukun, toleran, bersama dalam keragaman," (CNN, 29/02). 


Sebagai Menteri di negeri dengan umat muslim terbesar apakah pantas bersuara seperti itu? Sebagai tokoh penting bagi negara apakah tidak ingin menunjukan rasa kemanusiaan?
Mengapa saat Islam menjadi minoritas umat muslim diperlakukan dengan tidak manusiawi? Jangankan untuk hidup, untuk beribadah saja harus bertaruh nyawa. Jawabannya adalah, karena saat ini umat muslim tidak punya Junnah (perisai/pelindung). Negara-negara yang terikat dengan PBB pun tidak dapat menghentikan berbagai konflik karena sekat-sekat nasionalisme yang sudah mendarah daging.


Seolah-olah permasalahan di negara orang lain itu bukan masalah kita. Padahal sesama manusia, sesama umat muslim tidak ada batas waktu, batas negara untuk saling melindungi. Teringat kisah Khalifah Mu'tashim Billah yang membela muslimah hanya karena jilbabnya disingkap oleh kaum Yahudi, jelas itu pelecehan. Dan apa yang dilakukan beliau? Memerangi kaum Yahudi tersebut.


Itu untuk satu kasus yang mungkin jika dilihat dari sudut pandang sistem ini hanya hal 'sepele'. Tapi tidak bagi sistem Islam, Khilafah. Pelecehan sekecil apapun itu adalah masalah negara karena tugas negara adalah melindungi rakyatnya. Apalagi jika umatnya disiksa, dibunuh bahkan aqidahnya dilecehkan seperti saat ini, negara harus mengambil jalan jihad demi membebaskan umat Muslim.


Sebagai manusia tentu memiliki fitrah rasa kemanusiaan terhadap sesuatu. Tapi sistem kapitalisme membuat rakyatnya menghilangkan rasa itu secara sistematis. Bahkan sering kita lihat statemen netizen bahwa ini bukan tentang agama tetapi tentang kemanusiaan. Jika pernyataan itu benar, kenapa yang menjadi korban hanya umat Islam?


Apakah rasa kemanusiaan sudah tidak berlaku lagi bagi umat Islam? Sehingga diperlakukan tidak manusiawi. Seolah-olah darah kaum muslim halal ditumpahkan, nyawanya murah untuk dibunuh. Jika benar ini bukan tentang agama, lalu mengapa negara lain bungkam? Beda saat terjadi pengeboman di Paris yang korbannya bukan umat muslim seluruh dunia mengecam kejadian itu.


Tidak akan pernah berakhir konflik-konflik ini jika masih diiterapkannya sistem kapitalisme yang mengambil paham sekuler. Memisahkan agama dari kehidupan. Jelas pahamnya rusak, maka yang terjadi adalah orang-orang yang hanya memikirkan individu, hanya fokus kepada ibadahnya sendiri. Melupakan bahwa manusia diwajibkan juga untuk mencegah kemungkaran.


Sistem ini belum ada 1 abad diterapkan. Tapi kerusakannya sudah diambang kehancuran. Kerusakannya sudah disegala aspek mulai dari politik, kesehatan, pendidikan, moral bahkan aqidah. Maka sudah tidak ada alasan untuk mempertahankan sistem ini, kecuali manusia yang hanya memikirkan kebebasan atau manusia yang terbiasa melakukan kemaksiatan.


Untuk menyelesaikan berbagai masalah yang terjadi saat ini tidak bisa mengharapkan kepada penguasa, ataupun negara-negara maju. Tapi butuh sistem yang sesuai fitrah manusia, sistem yang me-manusiakan manusia. Dan tentu hanya sistem Islam yang mampu menyelesaikan problematika umat saat ini, tentu saja dalam naungan Daulah Khilafah.


Dalam sistem Islam manusia akan secara sistematis menjadi manusia yang bertakwa. Karena negara memiliki peran penting untuk membentuk aqidah dan karakter rakyatnya. Dengan diberlakukannya aturan Islam tentu mau tidak mau, suka tidak suka rakyat harus mengikuti. Dan akan dengan sendirinya manusia memiliki aqidah yang baik, akhlak baik dan lingkungan yang Islami.


Selama 13 abad masa kejayaan Khilafah tidak ada sama sekali pembantaian terhadap minoritas. Bahkan kaum kafir yang mau mengikuti aturan daulah akan dirangkul, dilayani selayaknya kaum muslim hanya saja diberlakukan pajak dan ada aturan-aturan tertentu. Jadi siapa yang intoleransi? Adakah kasus kaum muslim membantai kaum bla bla bla? Tidak ada. Wallahua'lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar