Pendidikan Sekuler Melahirkan Siswa Sadis, Saatnya  Kembali Kepangkuan Islam

Pendidikan Sekuler Melahirkan Siswa Sadis, Saatnya Kembali Kepangkuan Islam



              Oleh: Diana Wijayanti, SP

Bumi Nusantara terhenyak, tidak habis pikir dengan kelakuan seorang remaja perempuan (NF) berusia 15 tahun mengaku telah membunuh bocah perempuan berusia 5 tahun di rumahnya di kawasan Sawah Besar, Jakarta Pusat. Kamis, 5/3/2020.

Kejadian ini terkuak saat pelaku menyerahkan diri kepada polisi, Jum'at, 6/3/2020. Ia mengaku telah terjadi pembunuhan dirumahnya, dan mayat ada di lemari. Polisi langsung ke TKP dan mendapati jasad korban di lemari persis laporan sang gadis.

Setelah ditelusuri, gadis yang masih duduk di bangku SMP itu, tak tampak penyesalan  dalam dirinya, bahkan ia mengaku puas terhadap perbuatannya. Perasaan dan dorongan hasrat membunuh itu sudah muncul pada dirinya, sejak ia sering nonton film chucky dan mengenal sosok Slender man di gadget miliknya.

Sikap sadis itu juga tampak pada binatang yang ada disekitarnya, kucing kesayangan yang dilempar dari lantai dua, membunuh cicak dan lain-lain. Namun tak ada yang menyadari bahaya sadis ini.

Pelaku dan korban yang kerap bermain bersama tak membuat keluarga korban curiga sedikitpun. Bahkan kakak korban sering bermain dan belajar bersama. Mengingat pelaku adalah anak yang cerdas dan dekat dengan anak-anak. Apa yang mendasari sikap Sadis pada Remaja?

Tentu, peristiwa ini patut menjadi pelajaran buat kita. Mengapa hal ini bisa terjadi? Bukan hanya satu kasus tapi sangat banyak sikap brutal yang dilakukan remaja. Mulai dari maraknya bullying di sekolah, baik dari ucapan, pukulan hingga jari yang nyaris putus. Pelecehan seksual,  hingga perkosaan siswi kelas 2 SD oleh tiga kakak kelasnya yang masih duduk di kelas 5 dan 6 di saat jam istirahat di sekolah. Penganiayaan siswa terhadap guru, perkelahian antar siswa hingga duel maut yang menghantarkan siswa tewas di sekolah. Tawuran pelajar, LGBT dan lain-lain merupakan deretan kerusakan remaja dalam naungan pendidikan sekuler saat ini.

Melihat banyaknya kasus, semakin marak dan meluas maka patut kita tinjau ulang landasan, metode dan kurikulum pendidikan yang diberlakukan saat ini. Sistem ini berdampak buruk terhadap out put pendidikan, semakin rusak dan tak bermoral. Ya, Sistem Pendidikan yang dilandasi paham Sekularisme yaitu pemisahan agama dari kehidupan sangat berperan dalam rusaknya  generasi. Sistem ini telah menafikkan agama dalam mengatur urusan kehidupan sehingga manusia cenderung bebas tak terkendali. Tak ada lagi rem "dosa" dalam kehidupan negeri yang berpenduduk Islam terbesar ini.

Kehidupan yang sulit, broken home, hilangnya kasih sayang orang, sulitnya ekonomi, persaingan yang sangat ketat membuat jiwa manusia yang rapuh menjadi stress, rusak dan merusak. Hingga menghilangkan nyawa sendiri maupun orang lain tanpa ada rasa kemanusiaan. Sungguh ini sangat berbahaya jika tidak diselesaikan secara tuntas, korban akan semakin banyak berjatuhan. Kerusakan generasi ini akan berdampak pada kerusakan para pemimpin masa depan.

Islam Solusi tuntas masalah kerusakan generasi

Solusi atas masalah ini tak bisa diserahkan pada psikolog, polisi, atau bahkan orang tua pelaku. Butuh solusi integral-sistemis yaitu dimulai dari mengubah asas kehidupan kita yang demikian sekuler-liberal, di mana agama dimaknai hanya sebagai aktivitas ritual. Tak dipakai dalam mengatur hidup manusia.

Manusia berpikir dan bertindak terkait otak dan informasi yang diterimanya. Ketika penuh dengan tayangan sampah semisal sadisme, tindakannya pun mengikuti. Maka akidah Islam haruslah dijadikan sebagai asas berpikir dan bertindak. Sehingga bisa menilai sebuah tayangan, apakah baik atau buruk. Baik jika diridai Allah Ta’ala, buruk jika dimurkai-Nya.

Selanjutnya, keluarga dikembalikan posisinya sesuai tatanan syariat Islam, bahwa keluarga adalah kepemimpinan terkecil. Ayah bertanggung jawab atas amanah sebagai pemimpin (qawam), ibu bertanggung jawab atas posisi sebagai ibu dan pengatur rumah tangga (umm wa robbatul bait), dan anak bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan juga wajib taat pada orang tua (selama tidak maksiat).

Semua anggota keluarga saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa. Hingga berkumpul bersama di jannah menjadi misi keluarga. Rumah menjadi tempat berkumpul nan hangat dan dirindukan. Menjadi tempat melabuhkan rasa lelah setelah seharian beraktivitas di luar. Itu semua bisa terwujud melalui pelaksanaan syariat Islam secara kaffah dalam keluarga. Jika ada anggota keluarga yang tak menjalankan kewajibannya, maka ada mekanisme sosial. Saling mengingatkan satu sama lain. Para dai pun mengajarkan tentang keluarga sakinah. 

Sistem pendidikan menjadi pilar penting membentuk akidah yang menjadi fondasi ketaatan pada Sang Khaliq (Allah Swt). Sistem peradilan memberi sanksi yang efektif bagi anggota keluarga yang zalim dan melanggar pelaksanaan syariat.

Dari sisi negara, maka negara akan turut memperhatikan relasi keluarga, sudahkah terwujud sakinah ataukah belum. Negara memfasilitasi para anggota keluarga yang konflik untuk dinasihati, dimediasi, dan dihibur.

Khalifah Umar bin Al Khaththab pernah membuat rumah tepung untuk para perempuan yang sedang konflik dengan suami. Di sana mereka makan dan istirahat, hingga hatinya terhibur dan tak sedih lagi, sehingga bisa kembali pulang dengan gembira. Khalifah Umar ra juga pernah “memaksa” seorang laki-laki agar bekerja untuk menafkahi keluarganya.

Negara juga menyejahterakan ekonomi agar kefakiran tak menjadi momok yang merongrong keharmonisan keluarga. Para penguasa Islam terus mengingatkan rakyatnya agar bertakwa, sehingga suasana masyarakat adalah suasana takwa.

Aneka tayangan di media yang merusak keharmonisan keluarga akan diblokir. Konten kekerasan, pornografi, kebebasan bertingkah laku, perselingkuhan, kebohongan, dll, akan diblokir. Konten media akan diatur agar menjadi media yang sehat bagi generasi. Media akan diisi tayangan Islami semisal pembelajaran Alquran, hadits, fiqih, sains, dll.

Sistem sanksi yang tak hanya berpihak kepada korban tapi pada pelaku menjadi penjaga hakiki perilaku umat manusia. Ditetapkannya sanksi Islam yang tegas pada pelaku akan membuat efek jera padanya, kepuasan pada korban serta keluarganya dan mencegah orang lain berbuat serupa. Disisi lain pelaku juga tertembus dosanya tatkala diterapkan sanksi Islam di dunia. Allah Swt tidak akan mengadilinya di akhirat.

Semua upaya ini merupakan kolaborasi yang kompak antara individu, masyarakat, dan negara yang menerapkan Islam kaffah yakni Khilafah.

Ketika keluarga sakinah, anak menjadi pihak yang berbahagia. Anak mendapatkan kasih sayang, dukungan dan tuntunan dari orang tua. Sehingga lahirlah generasi yang saleh, generasi yang mencintai Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Mereka tak perlu mencari pelarian di luar, karena keluarga telah melengkapi hidupnya.

Ironisnya, sistem Islam yang demikian sempurna dalam mewujudkan ketahanan keluarga, justru ditolak oleh kalangan aktivis feminis. Mereka menolak RUU Ketahanan Keluarga dengan alasan negara turut campur dalam urusan keluarga yang menurut mereka bersifat privat.

Mereka juga menolak pasal-pasal yang memosisikan tugas utama ibu adalah umm wa robbatul bait. Menurut mereka, ini adalah sebuah kemunduran (konde.co, 02/2020). Padahal RUU ketahanan keluarga sendiri belum mencerminkan gambaran Islam kafah. Baru sedikit sekali yang diatur dalam rancangan tersebut.

Para feminis lupa atau tak paham, bahwa banyak ayat terkait keluarga, salah satunya, Allah berfirman,

“Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya” (QS An-Nisa’ 4: Ayat 19)

Juga banyak hadis yang mengatur tentang keluarga, salah satunya adalah Beliau saw bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR Tirmidzi)

Ayat dan hadis tersebut merupakan dalil bahwa Islam mengatur urusan keluarga. Bahkan Islam memiliki serangkaian syariat yang mengatur relasi dalam keluarga.

Sistem Islam yang paripurna ini hanya bisa diwujudkan dengan adanya khilafah yang menerapkan Islam kaffah. Khilafah akan melahirkan keluarga sakinah di seluruh rumah hingga menghasilkan generasi yang sehat jiwa raganya.
Wallahu a'lam bishshawab.

Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: