Peran Negara Merespon Corona

Peran Negara Merespon Corona



Oleh : Ina Siti Julaeha S.Pd.I
Pendidik Generasi 

Definisi wabah Virus Corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) adalah virus menular yang berjangkit dengan cepat, menyerang sejumlah besar orang di daerah yang luas. Virus ini menyerang sistem pernapasan. Penyakit karena infeksi virus ini disebut COVID-19. Virus Corona bisa menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan, pneumonia akut, sampai kematian.

Corona Virus atau Covid - 19 ini telah mewabah di Indonesia. Pemerintah memberikan update penanganan virus corona di Indonesia. Perkembangan terbarunya, hingga Sabtu (21/3), ada tambahan 81 kasus baru infeksi virus corona di Indonesia sehingga totalnya kini berjumlah 451 kasus.Dari jumlah tersebut, sebanyak 38 orang diantaranya meninggal dunia, bertambah 6 orang dari hari sebelumnya. (Kontan.Co.Id - Jakarta. 21 Maret 2020)

Menurut Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) M Din Syamsuddin mengapresiasi kinerja pemerintah dalam menangani wabah virus corona. Walaupun hal tersebut agak lambat.

"Kita memberi apresiasi terhadap langkah Pemerintah menangani Pandemi Corona (COVID-19) yang mulai terbuka dan bekerja serius. Memang agak terlambat, tapi untuk sebuah kemaslahatan tidak ada istilah terlambat, bahkan harus terus ditingkatkan," kata Din Syamsuddin dalam keterangannya. (WeOnline Jakarta, 15 Maret 2020)

Meskipun kasus dan korban akibat wabah virus ini terus bertambah banyak setiap harinya, namun pemerintah Indonesia belum sigap dalam merespon bencana nasional ini. Kebijakan Lockdown seakan membawa dilema. Sebab pasti akan membawa dampak besar pada aspek ekonomi Negara. Dengan kebijakan Lockdown, maka dipastikan semua warga tidak beraktivitas termasuk bekerja dan mencari nafkah. Disinilah pemerintah Indonesia seakan berat hati menanggung beban kebutuhan pokok rakyatnya dalam menghadapi wabah Corona ini.

Begitupun kondisi real di lapangan. Sebagian masyarakat Indonesia yang masih santai dan tetap beraktifitas di luar rumah. Mereka  tidak mengambil langkah Lockdown dan social Distancing. Sebab mau tidak mau mereka kesulitan jika tetap di rumah dengan kebutuhan harian yang harus dipenuhi. Jika mereka tidak bekerja dengan keluar rumah maka mereka tidak berpenghasilan, lalu siapakah yang akan menanggung makan mereka?.  
Sampai ada statmen yang terlontar dari sebagian massyarakat “JIka Lockdown di rumah mungkin kami akan selamat dari wabah, tapi kami bisa mati perlahan akibat kelaparan “. Jika sudah begini maka tidak ada langkah lain yang harus dilakukan pemerintah selain memberikan suplay makanan dan kebutuhan rakyat. 

Dalam menghadapi wabah global ini memang tidak hanya diperlukan sikap individu dan mayarakat saja yang harus berikhtiar maksimal dan tawakal. Tetap diperlukan peran Negara yang secara efektif memutus rantai penyebaran virus. Social Distancing atau menjaga jarak sosial dalam berinteraksi pun merupakan salah satu  langkah meminimalisir korban suspect Corona. Akan tetapi Lockdown dan Social Distancing rasanya kurang berjalan maksimal, jika upaya ini belum difahami semua lapisan masyarakat. Disinilah pemerintah pusat seharusnya terjun langsung membuat kebijakan tegas dan solutif. Sebab hingga saat ini masih terlihat adanya langkah yang kurang kompak antara pusat dan daerah. Hal ini mengakibatkan sosialisasi dan langkah edukasi kepada masyarakat secara luas tidak tersampaikan. Bahkan sikap warga di daerah lebih santai merespon Corona, sebab Corona hanya mewabh di Jakarta saja. Sehingga sikap warga di berbagai daerah atau di Jakarta yang sudah terkategori zona merah saja masih banyak yang mengabaikan akibat penularannya.
Peran Negara melalui kebijakan pemerintah pusat harus serius menangani wabah ini. Jika Negara abai, maka korban akan semakin bertambah. Hadirnya peran Negara bukan saja sebagai wacana dan memoles citra. Namun menjadi junnah/pelindung sejati rakyatnya. Hal inilah yang diperlukan masyarakat Inodesia melawan Covid -19 secara bersama. 

Dalam sejarah Islam, wabah dan penyakit menular pun pernah dihadapi manusia. Namun langkah cepat dan tegas pemimpin saat itu memberikan solusi tepat disaat kondisi umat sangat genting. Sebagaimana  kebijakan di masa kekhalifahan Umar bin Khattab.

Wabah tho’un yang pernah melanda dunia Islam disaat khalifah Umar bin Khattab memimpin. Melalui gubernurnya yaitu Amru bin Ash, beliau menyerukan kepada seluruh masyarakat agar berpencar dan berpisah. Kebijakan tegas dan cepat ini diambil oleh beliau sebagai bentuuk penyelamatan terhadap rakyat yang ia pimpin. Maka secara lantang Amru bin Ash menyerukan: “Wahai manusia, sesungguhnya penyakit ini apabila menimpa maka ia akan bekerja bagaikan bara api maka bentengilah dari penyakit ini dengan berlari ke gunung-gunung.” (Diriwayatkan dari Imam Ibn Hajar Al-Asqalani dalam kitab Badzal Maa’un hal 163).

Corona yang terjadi saat ini, merupakan wabah penyakit menular seperti wabah tho’un yang terjadi di masa kepemiimpinan khalifah Umar bin Khattab. Maka solusi dalam mengatasi wabah ini pun sudah selayaknya kita kembalikan kepada solusi Islam melalui teladan mulia para sahabat Rasulullah Saw. 

Ketika sahabat yang terkemuka seperti Umar bin Khattab ra. dan Amr bin Al-Ash ra. menganjurkan sesuatu yang lebih tepat maka para sahabat yang lain dapat memahami dan mengikuti petunjuk dan arahan yang lebih selamat bagi ummat pada waktu itu. Disinilah peran pemimpin sebagai pelindung rakyatnya. Dengan ketegasan khalifah Umar bin Khattab dan kebijakan hebat Gubernurnya tersebut wabah tho’un pun menghilang. Diperlukan kerja cerdas dan tegas dalam meriayah / melindungi rakyat. Maka selayaknya kita meneladani bagaimana kebijakan sahabat Rassulullah Saw yang mulia ini. Sehingga dengan keberhasilan yang diraih dengan menghilangnya wabah tho’un tesebut, maka khalifah Umar bin Khattb mengatakan bahwa “Amru bin Ash adalah layak menjadi pemimpin dimana saja bumi yang ia pijak”. 

Sistem pemerintahan yang dipimpin oleh khalifah Umar bin Khattab adalah sistem Khilafah. Selain keshalihan individu kedua sahabat Rasulullah tersebut, ada sistem yang mendukung keteraturan hidup mereka yakni sistem pemerintahan Islam. Individu, masyarakat dan negara siap diatur dengan sistem Islam yaitu Khilafah. Oleh karena itu, bukan saja hanya pemimpinnya yang baik, melainkan sistem yang benar pula. Sistem Islam telah sangat sempurna mngatur setiap persoalan yang dihadapi manusia. Solusinya menyelamatkan dan melindungi manusia. Solusi paripurna ini berasal dari dzat yang maha sempurna yakni Allah ‘Ajja Wajalla. Maka masihkan kita mempertahankan sistem buatan manusia, yang seakan meniadakan peran negara dalam merespon wabah berbahaya?


Previous Post
Next Post

post written by:

Cerdaskan Umat, Raih Kebangkitan!

0 Comments: