Perempuan dalam kubangan Kemiskinan

Perempuan dalam kubangan Kemiskinan



Oleh :  Ina siti Julaeha S.Pd.I
Pendidik Generasi

Cari kerja zaman sekarang amatlah susah, tapi kalau saya tidak bekerja, bagaimana bisa mencukupi kebutuhan keluarga. kerja apa yang bisa cepat kaya?. Mulai dari gaji berlimpah ruah, hingga bonusan yang bikin langsung tajir. Orang bilang menjadi TKI itu seperti Auto Kaya. Bahkan para pegawai kantoran pun bisa kalah gajinya.
Beberapa pernyataan yang sering terlontarkan dari seorang perempuan yang memilih bekerja menjadi TKI atau dalam keadaan terpaksa. Perempuan yang mencoba keluar dari kubangan kemiskinan dan menjadi pahlawan devisa negara  dengan meninggalkan anak dalam pengasuhan orang lain. Rasa sedih dan pilu meninggalkan buah hati bahkan bertahun-tahun harus ditepis. Demi mengubah nasib ekonomi keluarga, seorang ibu harus menjadi TKI di luar negeri. 

Sungguh ironis, berdasarkan penelitian Yayasan Tunas Alam Indonesia (Santai) tahun 2015, di Lombok Timur, desa tersebut terdapat lebih dari 350 anak (0-18 tahun) yang ditinggal oleh ibu atau bapak dan bahkan keduanya untuk bekerja di negara-negara seperti Malaysia, Singapura, Hong Hong dan negara-negara Timur Tengah. Jumlah yang hampir sama juga ditemukan di desa tetangganya, Lenek Lauk. (Jakarta. (Detiknews.com pada 7 maret 2020).
Jika seorang ibu menjadi TKI lalu bagaimana nasib anak-anaknya. Pengasuhan dan pendidikan anak-anak di dalam keluarga pun akan hilang, dikarenakan peran ibu sebagai pendidik utama keluarga pergi dalam waktu lama hingga bertahun-tahun. Dekapan hangat seorang ibu termakan oleh tuntutan bekerja di negeri orang. Namun sungguh sangat disayangkan ikatan ibu dan anak-anak yang terkoyak tersebut dianggap angin lalu saja. Seakan pemerintah mendukung dan memaksa perempuan menjadi pekerja imigran demi keluar dalam kubangan kemiskinan. 
Pemerintah seakan "cuci tangan" lepas tanggung jawab terhadap nasib kesejahteraan rakyatnya. Dan menganjurkan individu khususnya perempuan untuk menuntaskan permasalahan kemiskinan yang dideritanya sendiri.

Bahkan dalam sebuah kesempatan acara seminar Menkeu RI memberikan peryataan bahwa ketidaksetaraan gender menimbulkan kemiskinan. Sebagaimana dilanssir dalam berita online liputan6.com Menteri Keuangan Sri Mulyani serta Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise memberikan keynote speech dalam acara "Voyage to Indonesias Seminar on Womens Participation for Economic Inclusiveness"di Surabaya, Kamis (2/8/2018). Seminar ini merupakan bagian dari program Kelompok Bank Dunia - Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional 2018 (AMS 2018). Seminar ini memberikan kesempatan kepada seluruh stakeholder, baik dari dalam maupun luar negeri untuk membahas, bertukar pandangan, dan pengalaman tentang manfaat ekonomi bagi pemberdayaan perempuan. (Jakarta. Liputan6.com pada 2 Agustus 2018). 

Arus opini yang dihembuskan oleh kaum feminis mengenai memberdayakan perempuan untuk kemajuan adalah "janji manis". Perlu kita kritisi pernyataan ini, apakah sudah tepat bahwa memberdayakan perempuan harus dengan memaksa perempuan bekerja dengan mengabaikan peran ibu?. Apakah dengan dalih terlepas dari kemiskinan menjadi alasan bekerja?. Lalu bagaimana dengan peran perempuan sebagai pendidik pertama dan utama?

Virus kebebasan telah meracuni kehidupan. Sistem kapitalisme seakan memanfaatkan keterbatasan kehidupan sebagai peluanguntuk menjajah perempuan dengan membuat peran ganda. Alasan kesetaraan gender yang seolah manis padahal menjadi racun yang bisa menghancurkan pondasi keluarga. Dengan rayuan kesetaraan hak dalam bekerja seakan membawa arus opini yang deras bahwa perempuan bisa bahagia. 

Kaum feminis terus menghembuskan narasi bahwa perempuan akan hebat dengan bekerja, perempuan bisa kaya raya dengan bekerjadan kedudukan perempuan akan sama dengan laki-laki jika perempuan bekerja,"Tidak harus bergantung dengan suami". Bahkan lebih parahnya lagi terdengar narasi bahwa perempuan bisa berlaku apa saja jika menghasilkan uang termasuk berbuat lancang terhadap suaminya. Ini merupakan Jebakan Kapitalisme secara pelan tapi pasti menghancurkan pondasi utama dalam masyarakat. Melumpuhkan benteng sosial pertama yakni keluarga. Dengan dalih memberdayakan, padahal melumpuhkan dan menghancurkan peran utama seorang perempuan dan ibu dalam bingkai keluarga.
 
Islam memberikan beban tanggung jawab nafkah perempuan kepada laki-laki. Abai terhadapnya adalah suatu pelanggaran. Dan karena itulah negara berfungsi mengatur agar setiap laki-laki bekerja mencari nafkah dan perempuan bertugas "madrasatul ula"pendidik pertama dan utama. Dalam pengasuhan keluarga, pendidikan anak laki-laki dibina untuk menjadi seorang kepala keluarga yang akan menjadi tulang punggung keluarganya. Sehingga terbentuklah sikap tanggung jawab tinggi terhadap anak laki-laki. 
Perempuan di dalam Islam berperan penting dalam mendidik generasi. Inilah tugas mulia bagi seorang ibu dalam keluarga. Islam tidak membebankan kepada perempuan untuk bekerja. Maka mubah saja hukumnya jika seorang ibu bekerja, asalkan tidak mengabaikan tugas utamanya sebagai pendidik generasi terbaik. 

Dalam sistem Islam peran negara sangatlah besar dalam mengatasi kemiskinan rakyatnya. Perannya sebagai pelindung akan berusaha menyelesaikan segala problematika yang dihadapi seluruh warganya. Tidak tebatas dalam aspek ekonomi saja, melainkan dalam seluruh aspek kehidupan. Khilafah akan menjaga kemuliaan dan kehormatan perempuan. Tugas seorang perempuan dalam mendidik generasi sebagai ujung tombak dari sebuah peradaban merupakan tugas yang sangat mulia. Sebab kelak estapet kehidupan akan dijalankan oleh generasi terbaik yang akan membawa kebaikan bagi seluruh penghuni bumi.

Di sisi lain, peran negara dalam Islam mengambil porsi memenuhi kebutuhan pokok massal. Yakni pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Sehingga income per keluarga hanya dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan pangan, sandang, dan papan. Ini sangat efektif untuk memastikan setiap income per keluarga cukup untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. 

Adapun dalam kondisi tertentu, ada perempuan-perempuan yang nafkahnya menjadi tanggung jawab negara. Yakni ketika tidak memiliki ayah/suami/kerabat laki-laki yang mampu menanggung nafkahnya. Sehingga dalam kondisi apapun perempuan tetap mubah dalam bekerja. Dalam kondisi terpaksa pun maka hukumnya tetap menjadi pendidik utama di rumahnya. Bukan dianjurkan atau bahkan dipaksa kerja dan dipaksa menjadi pemoles ekonomi kapitalis. Hanya penerapan Islam secara menyeluruh dan sempurna, perempuan dapat terbebas dalam kubangan kemiskinan dan bahagia.

Previous Post
Next Post

post written by:

Cerdaskan Umat, Raih Kebangkitan!

0 Comments: