Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Perundungan ‘Tren’ Generasi Sekuler

Senin, 09 Maret 2020



        Oleh: Annisa Dinda Apriansyah

Perundungan atau yang akrab disebut bullying mengacu kepada aktivitas menganggu, mengusik secara terus menerus. Perundungan ini biasanya dilakukan oleh seseorang atau pun kelompok tertentu yang memiliki kekuasaan terhadap orang lain yang lebih lemah dengan tujuan untuk menyakiti orang tersebut.

Dewasa ini, perundungan menjadi sebuah istilah populer yang memiliki makna kekerasan di kalangan masyarakat khususnya kalangan pelajar. Seseorang dikatakan menjadi korban perundungan jika ia diketahui secara pasti terkena tindakan negatif, termasuk tindak kekerasan oleh sesamanya. Tindakan tersebut termasuk melukai atau membuat korban merasa tidak nyaman baik secara verbal, fisik, maupun tindakan lain seperti memasang muka dan melakukan gerakan tubuh yang melecehkan atau mengasingkan korban dari kelompoknya. Tindakan bullying yang berupa ejekan, penindasan, bahkan hingga kekerasan fisik, tak sedikit yang hingga mengalami luka serius. Selain itu, banyak korban dari bullying yang sampai mengalami despresi berat, sehingga tak jarang dan tak sedikit karena merasa tak kuat hingga akhirnya sang korban memilih untuk mengakhiri hidupnya.
KPAI mencatat dalam kurun waktu 9 tahun dari 2011 sampai 2019, ada 37.381 pengaduan. Kasus bullying baik dalam pendidikan maupun sosial media mencapai 2.473 laporan. Pada Januari sampai Februari 2020, setiap hari publik kerap disuguhi berita fenomena kekerasan anak, seperti kisah siswa yang jarinya harus diamputasi akibat menjadi korban perundungan teman-temannya, kasus siswa yang ditemukan meninggal di gorong gorong sekolah, serta siswa yang ditendang hingga meninggal.

Penggunaan medsos turut berpengaruh dalam perilaku remaja masa kini. Melalui media sosial tidak sedikit perilaku-perilaku negatif yang terekspos sehingga dicontoh oleh para remaja masa kini. Ditambah kurangnya pengawasan orang tua dan masyarakat, serta yang paling penting, negara tak ikut andil bahkan membiarkan konten-konten negatif tersebar bebas tanpa batas. Sehingga, tidak menutup kemungkinan meningkatkan hasrat seseorang untuk mencontoh dan melakukan kekerasan baik secara verbal atau pun nonverbal. Sungguh kondisi  tersebutlah yang memberikan peluang mereka  berperilaku beringas bak ‘jagoan’.
‘Dimana ada asap di situ ada api’, peribahasa itulah yang mewakili kondisi saat ini. Begitu pun dengan terjadinya bullying di kalangan masyarakat. Seperti yang terjadi pada salah satu anak SMP baru-baru ini. Jari MS, siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 16 Kota Malang, Jawa Timur, harus diamputasi. Jari tengah MS mengalami luka serius dan harus diamputasi karena diduga dirundung atau di-bully oleh teman sekolahnya. Berdasarkan catatan hasil koordinasi dengan Dinas Pendidkan, diperoleh informasi bahwa dugaan perundungan terjadi pada minggu kedua bulan Januari 2020.
"Terduga pelaku adalah teman korban di sekolah, ada teman sekelas, ada teman ekskul pramuka dan ada juga teman badan dakwah islam di sekolah tersebut, jumlah pelaku adalah 7 anak...” (CNN Indonesia | Rabu, 05/02/2020).

Bentuk perundungan yang dilakukan berupa korban diangkat bersama-sama kemudian dijatuhkan di masjid, selanjutnya diduduki dan diinjak tangannya. Selain itu, anak korban mengaku kerap jarinya terjepit ikat pinggangnya sendiri. Ketujuh siswa tersebut mengaku hanya iseng melakukan hal tersebut pada MS. Mereka mengakui hanya ingin bercanda kepada MS yang mereka anggap sebagai teman baik. Meskipun awalnya hanya bersifat candaan, namun kepolisian menilai bahwa gurauan tersebut mengandung unsur kekerasan.

Jika kita menyaksikan perilaku mereka, tentu dada terasa sesak. Pasalnya, mengapa generasi muda kita saat ini bisa sampai hati berbuat keji seperti itu? Meskipun pada akhirnya mereka menyatakan semua yang dilakukan hanya sebatas candaan, tapi apakah generasi kita lupa bahwa bercanda pun ada batasnya, tak ada candaan jika sampai melukai raga. Lupakah mereka soal akhlak, tak pahamkah mereka soal rambu-rambu berbuat? Lupakah mereka bahwa segala perbuatan akan dipertanggungjawabkan? Atau sudah benar-benar hilangkah keimanan dalam dada mereka? siapakah yang harus disalahkan? Namun, yang harus kita pahami dan ketahui, sebetulnya mereka semua adalah korban dari kesalahan penerapan sistem saat ini. Mengapa demikian?

Pertama, sistem yang diterapkan saat ini tentunya berusaha memisahkan agama dari kehidupan, terutama pada dunia pendidikan. Nilai-nilai agama hanya sebatas dalam buku dan kertas ulangan saja, tidak dijadikan orientasi apalagi sampai bisa melekat dalam  pribadi. Alhasil, output yang nampak dari pendidikan sekular (memisahkan agama dari kehidupan) adalah siswa jauh dari pemahaman agama, akidah terkikis habis, bahkan dengan ringan dan sadar mampu dan mau melakukan segala perbuatan yang jelas-jelas sudah bertentangan dengan agama.
Kedua, hal lain yang tidak kalah berpengaruhnya adalah dari media khususnya tontonan yang disajikan. Media menyuguhkan tontonan tanpa saringan, sehingga anak dengan bebas dan luas mengakses apapun termasuk segala tontonan yang tidak mendidik seperti pacaran, tawuran, seks bebas, dan konten lainnya. Hal-hal semacam menjadi faktor seseorang berbuat asusila karena secara tak langsung mereka seolah diberikan contoh dan referensi untuk dipraktikan di kehidupan nyata.

Ketiga, terkikisnya ketakwaan individu, masyarakat, bahkan negara. Penerapan sistem yang jauh dari islam menghasilkan generasi yang jauh dari Islam pula, pun pada nyatanya penerapan sistem sekuler-liberal disegala bidang telah melahirkan generasi yang sekuler dan liberal juga. Sehingga tak ada perhatian khusus dari negara untuk menangani segala konten yang merusak masyarakatnya, dengan dalih HAM negara memberikan kebebasan pada masyarakatnya dalam menjalani kehidupan dan mengambil keputusan, sekali pun perbuatan tersebut mengarah pada kekerasan, tetap HAM menjadi dalihnya.
Maka, tidak aneh jika potret generasi saat ini jauh dari harapan, jauh dari karakternya sebagai seorang muslim. Generasi  yang disebut-sebut sebagai tonggak perubahan, kini wajahnya berubah menjadi generasi yang kejam, generasi yang tanpa arah, sebab serangan sekularisme dari segala sisi.

Islam adalah solusi
Islam memandang bahwa pemuda adalah generasi emas, generasi perubahan, sehingga Islam memandang bahwa menjaganya menjadi sebuah keharusan. Namun, menjaga generasi dalam Islam tidak hanya menjadi tugas orang tua dan guru, tetapi menjadi tugas negara dan masyarakat secara keseluruhan. Negara yang memiliki peran yang begitu besar dalam menyaring segala bentuk tontonan yang berpengaruh terhadap pembentukan generasinya. Tak hanya menyaring, tetapi memiliki andil besar melindungi generasi dari berbagai ancaman yang merusak generasi.
Masyarakat juga memiliki peran untuk memberikan nasihat serta mengajak pada kebaikan, juga mencegah segala bentuk tindakan yang buruk serta membahayakan. Sebab jika orang tua di rumah mati-matian mendidik dan menjaga generasi muda tanpa didukung oleh lingkungan dan masyarakat termasuk negara, tidak menutup kemungkinan anak akan tetap terkontaminasi dan terpengaruh oleh perbuatan buruk yang ada di lingkungan sekitarnya. Maka dari itu, dibutuhkan lingkungan yang kondusif agar lahir para generasi berkualitas terjaga dari segala bentuk perbuatan yang menyimpang. Tentu, solusi finalnya adalah menerapkan sistem yang lahir dari pencipta alam semesta, manusia, dan kehidupan yang akan membawa kebaikan serta rahmat bagi seluruh alam.
Marilah kita tengok dan berkaca sejenak, tentang keberhasilan Islam melahirkan generasi-generasi yang berkualitas. Sebab generasi Islam adalah mereka yang dapat memberi manfaat diseluruh usianya, karenanya mereka pasti berpikir kebaikan dan manfaat dalam dirinya. Abdullah bin Abbas salah satu dari sekian sahabat yang telah membuktikan keberhasilan Islam dalam mendidik dan membentuk pribadi seseorang. Beliau termasuk sahabat yang sangat muda, karena lahir 3tahun sebelum Nabi hijrah. Tak hanya memiliki keimanannya yang kokoh, beliau juga dikenal sebagai lambang dari puncak mercusuar keilmuan saat itu dan akhirnya menjadi pusat ilmu.

Kisah lain dari Saad bin Abi Waqash di usianya yang masih muda, sekitar 17 tahun dengan teguhnya mampu berkata,  “Demi Allah wahai Bunda, seandainya engkau memiliki 100 nyawa, keluar satu persatu nyawamu sebab tidak mau makan, saya tidak pernah lepaskan agama ini.” Juga sahabat Ali bin Abi Thalib diusia sekitar 10 tahun sudah berbicara tentang ke-Tuhanan, tentang Rabb, dan Illah. Hingga yang kita ketahui, beliau menjadi sahabat muda yang memiliki keimanan yang kokoh dan juga telah memberi manfaat besar untuk umat. Pertanyaannya mengapa bisa demikian? Bukan karena mereka lahir di zaman Rasulullah dan bersama-sama dengan Rasullullah. Bahkan Abdullah bin Abbas baru bertemu dengan Rasulullah di usia 17 tahun dan Rasul 50 tahun. Itu semua sebab mereka hidup dan dididik dilingkungan yang baik, di usia belianya sudah ditempa dan didik oleh pendidikan dan ilmu agama yang kokoh sehingga mereka mampu bertahan kuat dengan sekelilingnya. Sehingga tak pernah terdengar sekali pun mereka melakukan perbuatan yang jauh dan menyimpang dari syariat.

Oleh karena itu, penerapan sistem Islam secara keseluruhan akan mampu melahirkan individu yang tak hanya berkualitas, tetapi juga pribadi yang bertakwa sehingga terbentuklah generasi yang visioner, generasi agent of change yang akan menjadi tonggak peradaban. Generasi yang takut pada Rabb-Nya, generasi yang diliputi iman yang kuat dan ketakwaan, sehingga tidak akan pernah melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan Islam, sebab dalam pribadinya telah diselimuti akidah yang kuat dan rasa takut kepada Pencipta-Nya. 
Wallahu a’lam bish-shawwab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar