Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Rezim Kapitalisme-sekuler Mirip Era kolonial Belanda

Sabtu, 07 Maret 2020


Oleh : Elif Fitriah Mas'ud. S, Hi
(praktisi pendidikan)

Standar kebenaran bagi seorang muslim adalah tuntunan Allah SWT melalui Rasul-Nya yang tertuang dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Jika semua yang berasal dari Allah SWT disalahkan lalu apa yang menjadi standar kebenaran? Apalagi sampai menganggap agama sebagai musuh, sebagaimana pernyataan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi

"Si Minoritas ini ingin melawan Pancasila dan mengklaim dirinya sebagai mayoritas. Ini yang berbahaya. Jadi kalau kita jujur, musuh terbesar Pancasila itu ya agama, bukan kesukuan," kata Yudian. (http://m.voa-islam.com/news/politik-indonesia/2020/02/14/69799/merasa-pernyataannya-dikutip-tidak-utuh-yudian-berikan-penelasan-agama-musuh-pancasila)

Pola fikir Yudian ini mirip sekali dengan pola fikir Karl Mark bapaknya ideologi Sosialisme yang menganggap agama adalah candu, bahkan pernyataan Yudian ini lebih berani karena hanya menyasar pada satu agama yaitu agama Islam, berikut pernyataannya:

"Kalau tidak pandai mengelola ini perilaku agama-agama ini akan menjadi musuh terbesar. Mengapa? karena setiap orang beragama, maka agama siapa kalau dibaca kan ketemunya Islam, Islam siapa begitu, itu yang saya maksud," tutur Yudian. (http://m.voa-islam.com/news/politik-indonesia/2020/02/14/69799/merasa-pernyataannya-dikutip-tidak-utuh-yudian-berikan-penelasan-agama-musuh-pancasila)

Pada kenyataannya ideologi di dunia ini hanya ada 3, yaitu ideologi Kapitalisme, Sosialisme-Komunis dan Islam. Ideologi Kapitalisme dan Sosialisme-Komunisme adalah buah dari pemikiran manusia. Sedangkan Islam berasal dari Allah Sang Pencipta dan Pengatur seluruh makhluknya termasuk manusia dan alam semesta. Ideologi buatan manusia tidak mungkin bisa menandingi ideologi dari Rabb Sang Pencipta yang tentunya mutlak kebenarannya.

Saat ini negara kita masih menggunakan ideologi Kapitalisme-liberal sehingga riba merajalela dan kerusakan terjadi di semua lini, bahkan sampai pada lini terkecil yakni keluarga. Saat umat mulai sadar akan hal ini dibangunlah narasi konflik oleh rezim yang berkuasa sehingga muncul pembatasan-pembatasan kepada para da’I yang menyerukan kebenaran Islam.

Sebagai umat Islam, kita seharusnya sadar bahwa ideologi Islam yang kita imani tidak bisa dicampur adukkan atau dicari jalan tengahnya.  karena akan mereduksi ajaran Islam. Pertentangan ideologi pasti akan selalu ada. Pengembannya akan selalu berusaha menjadikannya pemenang dari ideologi yang lain dengan menggunakan berbagai cara agar ideologi tersebut meluas dan diterapkan ke penjuru dunia. 

Kejadian ini pernah terjadi juga di Indonesia pada era kolonial Belanda. Bedanya Jika di zaman belanda melalui para centengnya melarang kata “persatuan dan kemerdekaan” di ucapkan dalam ceramah para kiyai dan ustadz/ustadzah. Rezim Hari ini yang mengaku beragama Islam justru melarang kata “Khilafah dan syari’ah” yang merupakan ajaran Islam disampaikan kepada umat Islam, Sungguh terlalu!.

Sebagaimana pernyataan wakil presiden Ma’ruf Amin saat membuka Rakernas ke-II dan Halaqah Khatib Indonesia di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Jumat (14/2).
Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin mengimbau para khatib dalam khutbahnya untuk mengedepankan persatuan dan kesatuan umat
"Ini bukan soal Islami atau tidak Islami. Jadi, kalau bicara khilafah itu tidak usah metenteng-metenteng (ngotot, red.) begitu; proporsional saja. Sudah, selesai," katanya. (https://www.republika.co.id/berita/q5oxnw320/wapres-kepada-khatib-indonesia-jangan-bangun-narasi-konflik)

Era Kolonial, Belanda melarang kata persatuan karena takut jika warga pribumi bersatu maka mereka tidak lagi bisa menjajah dan mengeruk kekayaan alam nusantara, setali tiga uang dengan rezim saat ini merekapun mempunyai ketakutan yang sama bedanya kata persatuan justru dijadikan alasan untuk melarang para khatib menyampaikan tentang khilafah.

Jika saja rezim benar-benar ingin membenahi negeri ini dari segala macam problematika yang terjadi akibat ideologi kapitalisme yang didasari oleh sistem sekuler, seharusnya mereka dengan suka hati menerima konsep Khilafah sebagai solusi tuntas permasalahan negara, karena jelas-jelas Khilafah adalah institusi yang mengajak umat bersatu bukan hanya di Indonesia bahkan seluruh negeri muslim lainnya.

Sistem Khilafah berbeda dengan sistem Kapitalisme. Khilafah Islam adalah sebuah Konsep Pemerintahan yang didasarkan pada akidah Islam. Seluruh aspek bermasyarakat dan bernegara diatur dengan syariat Islam. Penerapan Islam oleh sistem pemerintahan Khilafah mewujudkan tidak hanya kesejahteraan rakyat, namun juga ketenteraman hidup setiap warganya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar