Siapkah Negara ini, Hadapi Corona?

Siapkah Negara ini, Hadapi Corona?



Oleh: Diyana Indah Sari 
(Aktivis muslimah)

Dari hari kehari virus corona terus saja menyebar ke berbagai wilayah hampir di seluruh penjuru dunia, termasuk juga Indonesia. Kepanikan dari masyarakat semakin menjadi-jadi di saat jumlah pasien yang terinfeksi virus corona terus bertambah. Sebelum 2 Maret 2020, Indonesia termasuk negara yang tidak diserang Covid-19. Beberapa negara mencurigai Indonesia menyembunyikan kasus atau ketidakmampuan sistem kesehatan mendeteksinya. Mereka berasumsi bahwa virus itu telah mengepung Indonesia dari Singapura, Thailand, Malaysia, dan Vietnam. Luasnya rentang geografis Indonesia dan longgarnya kebijakan visa kunjungan semakin menambah keraguan negara-negara itu. 


Namun ternyata pertahanan Indonesia bobol juga ketika Presiden Joko Widodo mengumumkan dua orang di Indonesia positif corona pada 2 Maret lalu. Pemerintah segera melakukan penangkalan, edukasi masyarakat, dan penanganan kasus. Namun pemerintah terkesan belum siap dengan kondisi terburuk seperti di Wuhan, Cina. Indonesia belum memiliki strategi penyediaan ruang rawat isolasi terhadap puluhan ribu kasus, kebutuhan ratusan ribu alat pelindung diri bagi tenaga kesehatan, kapasitas pemeriksaan laboratorium, dan pembiayaan.


Sungguh ironi, dengan kasus yang mencekam seperti ini negara seperti tidak siap dan sigap dalam mengambil tindakan. Masyarakat berupaya terus bertahan dengan kemampuannya sendiri padahal dalam problematika seperti ini peran negara sangat dibutuhkan. Kini dari hari ke hari kasus corona yang menjangkit masyarakat terus meningkat.


 Data terbaru menunjukkan ada penambahan hingga lebih dari 369 kasus. "Total kasus hari ini 369 orang," kata juru bicara pemerintah untuk penanganan virus Corona, Achmad Yurianto, dalam konferensi pers di BNPB, Jakarta Timur, Jumat (20/3/2020). Total kasus WNI kena Corona di Indonesia ini dihimpun pemerintah dari Kamis (19/3/) pukul 12.00 WIB hingga Jumat (20/3) pukul 12.00 WIB. Kasus positif Corona ini tersebar di beberapa titik di Indonesia, terbanyak di DKI Jakarta. Ada penambahan kasus yang sembuh. Kasus yang sembuh secara total adalah 17 kasus. Sementara untuk pasien positif Corona yang meninggal bertambah 7 orang. Sehingga total kasus yang meninggal menjadi 32 orang. https://majalah.tempo.co/read/laporan-utama/159957/salah-langkah-jokowi-hadapi-wabah-corona https://news.detik.com/berita/d-4947188/data-terbaru-369-kasus-positif-corona-meningkat-60-kasus 


Jika kita melihat fakta, di Indonesia sendiri memiliki banyak sekali sumber daya alam yang berpotensi untuk diolah dan dijadikan sumber pemasukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, termasuk untuk mengatasi keadaan darurat seperti saat ini. Negara seharusnya mampu dalam menyediakan fasilitas layanan kesehatan yang dapat menunjang kebutuhan masyarakat. 


Negara juga seharusnya dapat mengambil tindakan sigap dalam menangani masyarakat yang terkena wabah corona ini. Sayangnya di negara ini para pemimpin tidak serius menanggapi persoalan ini, justru sikap mereka terkesan meremehkan dan menjadikan hal ini sebagai bahan lelucon. Seperti halnya keluhan masyarakat terhadap harga masker yang melambung tinggi, pemerintah justru menyalahkan masyarakat yang membeli masker tersebut.


Dan ternyata sikap pemerintah Indonesia dalam menangani wabah corona mendapat banyak kritik baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Kritik ini semakin gencar saat Jokowi mengakui bahwa pemerintah memang tidak terbuka terhadap kasus korona ini, dengan alasan tidak ingin menimbulkan kegaduhan dalam masyarakat. Padahal itu bukan merupakan solusi untuk mengatasi wabah di negara ini. 


Lembaga think thank Australia, Lowy Institute, menyoroti cara pemerintahan Presiden Jokowi dalam menangani pandemi corona di Indonesia   Lembaga tersebut menganggap pemerintah Indonesia tidak siap dan kurang transparan dalam mengendalikan Covid-19 yang mulai merebak sejak awal Maret. Salah satu peneliti sekaligus Direktur Program Asia Tenggara Lowy Institute, Benjamin Bland menilai, sebelum kasus virus corona terkonfirmasi, respons Indonesia melalui Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto sudah sangat mencemaskan.


"Respons awal sangat mengkhawatirkan dengan pernyataan menteri kesehatan yang kontroversial, Terawan Agus Putranto, menyarankan bahwa doa akan membantu Indonesia aman terhindar dari virus dan secara umum (pemerintah) gagal mengatasi sumber masalah," ucap Bland dalam tulisan terbaru berjudul Indonesia: Covid-19 Crisis Reveals Cracks in Jokowi's Ad Hoc Politics pada Selasa (17/3). Selain itu, Bland juga menyoroti bahwa banyak pemerintah daerah yang mulai mengandalkan diri sendiri karena "kehilangan kepercayaan" pada kemampuan Jokowi menangani wabah ini secara nasional.


Melihat hal ini semakin membuat kita sadar bahwa negara tidak bisa menjalankan perannya secara optimal dalam mengurusi urusan masyarakat. Masyarakat mencoba terus bertahan ditengah kecemasan dan tanpa dukungan berarti dari negara, bahkan pemerintah terkesan menutupi kasus ini. Jelas bahwa seharusnya bukan seperti inilah negara berperan, bukan sikap meremehkan seperti ini yang seharusnya pemerintah tunjukkan.
 

Tentunya dengan kehidupan negara yang menerapkan sistem kapitalis busuk ini, kepentingan masyarakat bukan menjadi urusan yang pertama, tetapi yang menjadi target capaian utama adalah keuntungan penguasa dengan para korporasi. Pemerintah zalim kepada masyarakatnya sehingga nasib masyarakat semakin tragis dan tidak terurus dengan baik. Saat inipun fasilitas kesehatan yang tersedia sangat tidak memadai dan juga terbatas untuk menangani wabah corona bahkan dibeberapa wilayah ada juga yang kesulitan untuk menemukan rumah sakit. Padahal jika pemerintah bersungguh-sungguh dalam mengelola SDA yang ada di negara ini dan menjadikannya sumber pemasukan untuk kepentingan masyarakat, pasti akan bisa memenuhi kebutuhan urgent seperti ini, sayangnya kekayaan alan negara ini dibabat habis oleh para kapitalis serakah. Pemerintah gagal dalam meriayah masyarakatnya, gagal menjalankan kewajibannya, sehingga tidak ada lagi harapan pada pemerintah selama hidup dalam sistem bobrok ini. 


Islam tentunya telah mengatur sedemikian rupa peran negara dalam kehidupan, hanya islam-lah yang menyajikan solusi solutif disetiap permasalahan. Masayarakat butuh negara, butuh peran pemerintah yang cakap dalam menangani kasus seperti ini. Pada zaman ke khilafahan dulu pernah juga terjadi suatu wabah penyakit yang mematikan, dan pada masa itu tentu kholifah sangat sigap dalam mengambil tindakan. wabah penyakit menular pernah terjadi pada masa Rasulullah saw. 


Wabah itu ialah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Untuk mengatasi wabah tersebut, salah satu upaya Rasulullah saw. adalah menerapkan karantina atau isolasi terhadap penderita. Rasulullah saw. juga pernah memperingatkan umatnya untuk jangan mendekati wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya, jika sedang berada di tempat yang terkena wabah, mereka dilarang untuk keluar. Beliau bersabda:
إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا
Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninginggalkan tempat itu (HR al-Bukhari).


Khilafah juga mengedukasi masyarakat untuk hidup sehat, Kaum muslimin dan beserta seluruh warga negara harus menghilangkan berbagai kebiasaan, makanan, minuman, dan lingkungan yang bisa menjadi penyebab munculnya agen-agen penyakit. 


Selain itu, pada masa kekhilafahan masyarakat sangat diurusi dengan baik, kebutuhan pokoknya selalu terpenuhi termasuk juga penyediaan fasilitas kesehatan yang memadai dan menjangkau seluruh masyarakat. Sehingga ketika terjadi wabah seperti ini masyarakat dapat tertangani dengan baik. Pemerintah memiliki peran sentral untuk menjaga kesehatan warganya. Apalagi saat terjadi wabah penyakit menular. 


Di era khilafah dalam menghadapi wabah seperti ini salah satunya adalah mengembangkan teknologi kedokteran dan medis yang mutakhir. Seperti pada masa Daulah Umayyah, pelayanan kesehatan meningkat pesat. Salah satu rumah sakit terkemuka bernama Rumah Sakit an-Nuri dibangun pada tahun 706 M oleh Khalifah Al-Walid bin Abdul Al-Malik dari Dinasti Umayyah. 


Khalifah Walid juga meminta tempat perawatan khusus untuk penderita lepra agar tidak menular. Saat kepemimpinan Khalifah Nuruddin Zinki pada tahun 1156 M, rumah sakit ini diperluas dan diperbesar. Ia dilengkapi dengan peralatan paling modern dan tenaga dokter serta perawat yang profesional. Pada masa berikutnya juga dibuat rumah sakit keliling yang bergerak dari satu wilayah ke wilayah lain untuk melayani masyarakat. Tersedianya pelayanan kesehatan yang canggih, profesional dan memadai bagi masyarakat menjadi amat penting untuk mencegah berkembangnya wabah penyakit dan mengobati masyarakat.
 

Tentu masyarakat butuh perlindungan optimal dari pemerintah atau penguasa. Pemerintah tidak boleh abai. Para penguasa Muslim pada masa lalu, seperti Rasulullah saw. dan Khalifah lainnya., sebagaimana riwayat di atas, telah mencontohkan bagaimana seharusnya penguasa bertanggung jawab atas segala persoalan yang mendera rakyatnya, di antaranya dalam menghadapi wabah penyakit menular. 
Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ وَلَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَاحْتَجَبَ دُونَ حَاجَتِهِمْ وَخَلَّتِهِمْ وَفَقْرِهِمْ احْتَجَبَ اللَّهُ عَنْهُ دُونَ حَاجَتِهِ وَخَلَّتِهِ وَفَقْرِهِ
Siapa yang diserahi oleh Allah untuk mengatur urusan kaum Muslim, lalu dia tidak mempedulikan kebutuhan dan kepentingan mereka, maka Allah tidak akan mempedulikan kebutuhan dan kepentingannya (pada hari kiamat) (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: