SIGAPLAH DALAM MENANGANI SUATU WABAH

SIGAPLAH DALAM MENANGANI SUATU WABAH




Oleh:Millah Al-Munawwaroh


     Sangat disesalkan, Tampak dari kecerobohan terhadap sumber wabah, ketergantungan pada WHO, serta ketidaksungguhan mengupayakan pencegahan dan pengobatan. Kecerobohan terhadap sumber wabah tampak dari tidak adanya keputusan pemerintah melarang pendatang dari china  masuk ke Indonesia, sejak dari terjadinya wabah di Wuhan hingga saat ini. Bahkan beberapa pejabat publik melontarkan pernyataan yang terkesan meremehkan bahaya virus corona, mulai dari minum jamu, minum susu kuda liar, makan nasi kucing hingga corona bisa sembuh dengan sendirinya. Pemerintah bahkan lebih sibuk mengurusi sektor Pariwisata, bukan sibuk menyelamatkan nyawa rakyatnya. 

   Dan ketika pada gilirannya COVID-19 benar-benar sudah sampai di Indonesia, yang ada malah kepanikan ! pemerintah kelabakan mengelola jalur birokrasi dan koordinasi. Terjebak kebimbangan lockdown atau tidak, sehingga penanganan diserahkan pada pusat atau daerah. Hingga harus ada juru bicara khusus, mengingat pejabat terkait malah tak pandai berkomunikasi pada publik. Kini, jutaan nyawa rakyat sedang menjadi taruhan. Angka korban COVID-19 di Indonesia kian bertambah dengan death rate tercepat di dunia. Tapi kepekaan politik para penghulu negara tak jua terbangkitkan. 

   Dalam kondisi genting ini, Sampai-sampai rakyat jadi makin jengah hingga harus self-distancing secara mandiri, seperti ini rupanya potret rezim anti-islam. Wajarlah seperti itu, karena mereka pun tak paham syariat Islam, padahal negeri ini adalah negeri Muslim terbesar. Dimana, syariat Islam sebenarnya sudah begitu paripurna menyediakan solusi pandemi, mulai dari penanganan teknis hingga cara mengedukasi publik. 

    Tercatat dalam sejarah bahwa Rasulullah SAW dan khalifah Umar bin khattab r.a telah mencontohkan bagaimana seharusnya penguasa bertanggung jawab atas segala persoalan yang mendera rakyatnya. 
Wabah adalah musibah yang ditimpakan kepada siapapun, termasuk orang yang beriman dan tidak. Yang membedakan adalah sikap dalam menyikapi wabah ini.Bagi orang beriman, yang meyakini, bahwa semua wabah ini adalah makhluk Allah, tentara Allah, maka sikap pertama adalah menguatkan keimanan kepada Allah. Dengan berserah diri kepada-Nya. Introspeksi, bertaubat hingga terus meningkatkan hubungan dengan Allah.

  Di sisi lain, karena Allah memerintahkan ikhtiar, maka memaksimalkan ikhtiar. Nabi ﷺ menyatakan, “Jika kamu melihat bumi tempat wabah, maka jangan memasukinya. Jika kamu berada di sana, maka jangan keluar darinya.”Ini seperti kebijakan LOCKDOWN”.
Umar bin Khatthab meminta masukan ‘Amru bin Ash, sarannya memisahkan interaksi. Maka, tak lama kemudian wabah itu selesai. Dalam kasus di Amwash, ‘Umar mendirikan pusat pengobatan di luar wilayah itu. Membawa mereka yang terinfeksi virus itu berobat di sana.Tapi, bukan hanya kebijakan negara yang penting, kunci lain adalah peran umat. Umat yang mempunyai pemahaman, standarisasi dan keyakinan yang sama dengan negara, mudah diatur.Bahkan, ketika negara dalam kondisi kesulitan, umat dengan suka rela mengasuh, mendukung, menjaga dan membantu negara. Nah, inilah pentingnya membangun negara dengan kekuatan umat. Karena dibangun dengan keyakinan dan pandangan yang sama, yang dimiliki oleh umat.

    Krisis dan pandemi sudah terjadi dalam sejarah kehidupan umat manusia, termasuk era kejayaan Islam. Tapi, semua berhasil dilalui oleh kaum Muslim, dan dalam kondisi krisis, umat berdiri menjadi pengasuh, penjaga dan penopang utama kekuasaan negara. Negara dan umat bergandengan tangan. Inilah rahasia, mengapa Khilafah bisa bertahan hingga 14 abad. Semua karena  penerapan syariat Islam dan dukungan umat.
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: