Soal Cuci Tangan Penguasa Pakarnya

Soal Cuci Tangan Penguasa Pakarnya





Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Muslimah Rindu Syariat

Sebelum kita makan dik ...
cuci tanganmu dulu ...
Menjaga kebersihan dik ...
Untuk kesehatanmu ...


Penggalan lirik lagu itu mengingatkan akan kondisi hari ini. Betapa pentingnya cuci tangan. Banyak bermunculan tutorial mencuci tangan dengan baik dan benar sebagai bentuk kepedulian kepada sesama agar terhindar dari virus Covid-19.


Namun apa jadinya jika kata cuci tangan bukan dalam artian sebenarnya? Sejak Presiden Joko Widodo tetapkan Indonesia tidak akan ambil kebijakan Lockdown, sejak itulah penguasa kita " cuci tangan". Agar tak perlu repot mengurusi sekitar 200 juta lebih penduduk yang sudah pasti biayanya sangatlah besar.


Kapitalisme memang telah merenggut penguasa yang sayang rakyat. Semua urusan dihitung untung rugi. Padahal mereka muslim, mereka shalat dan berpuasa. Demikian juga mereka beriman kepada Allah dan hari akhir. Namun mengapa pengaturan masyarakat senegara malah bertentangan dengan hadis Rasulullah SAW?


"Sesungguhnya seorang imam adalah perisai, orang-orang berperang dari belakangnya dan menjadikannya pelindung, maka jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ‘azza wa jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika ia memerintahkan yang selainnya maka ia harus bertanggungjawab atasnya." (HR. al-Bukhari, Muslim, an-Nasai dan Ahmad).


Hadits diatas menjelaskan bahwa tugas imam adalah memelihara urusan-urusan rakyatnya. Pemeliharaan urusan rakyat bentuknya bisa pertama, mencegah segala bentuk keburukan dan kemudaratan agar tidak menimpa rakyat. Kedua, menghilangkan segala bentuk kemudaratan, kezaliman, keburukan dan kerusakan dari tengah rakyat. Ketiga, memberikan hak kepada mereka yang berhak termasuk memberikan hak rakyat kepada rakyat. Dan keempat, memberikan yang lebih dari yang memang menjadi hak rakyat supaya kehidupan rakyat lebih baik sampai sebaik-baiknya.


Jika muslim, mengapa tidak mengambil apa yang sudah dikerjakan Rasulullah sang Uswatun Hasanah? Sunnah memang tidak dosa ketika tidak dikerjakan, namun ketika Sunnah itu harus ada supaya kewajiban yang lain terlaksana maka Sunnah seketika berubah menjadi wajib.


Ketika banyak korban berjatuhan, harus berapa lagi yang dibutuhkan untuk bersikap tegas Indonesia Lockdown? Ada beberapa pendapat satir bahwa dengan jumlah penduduk yang lebih dari 200 juta jiwa, jika kehilangan 1000 saja tak mengapa dan tidak terlalu berpengaruh.


Pernahkah hal itu ditanyakan kembali kepada diri sendiri, bagaimana jika dari 1000 itu termasuk anak kita, orangtua, istri, suami bahkan diri kita sendiri? Bukankah hal yang demikian justru kita sedang berlaku zalim, sebab ikhtiar belum maksimal sudah menyerah begitu saja pada kematian. Dan teori ini sungguh tak manusiawi.


Pendapat diatas justru menunjukkan betapa lemahnya kita berharap kepada Allah Sang Pemilik Hidup. Benarlah kiranya firman Allah dalam QS Ar Rum: 41 yang artinya :

Telah nampak al fasad (kerusakan) di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.


Bencana maupun wabah semua adalah ciptaan Allah, mereka ada sebab diijinkan Allah untuk terjadi. Apakah karena Allah bersifat benci kepada manusia? Bukan, yang demikian justru karena sedemikan besar kasih sayang Allah, tak ingin manusia terlalu jauh berbuat kerusakan yang artinya itu jauh dari Allah.


Allah hanya ingin musibah dan wabah itu bisa mengembalikan manusia menjalani tracknya kembali, yaitu sebagai hamba Allah yang patuh dan taat. Sebab hanya itulah yang bisa mewujudkan dunia menjadi Rahmatan Lil Aalamin.


Maka tampak jelas, bagaimana perbuatan para Khalifah sesudah Rasul sedemikian rupa, hingga kepentingan pribadi menjadi no urut kesekian, prioritas mereka adalah keselamatan rakyatnya.


Jelas haram hukumnya jika ada pemimpin muslim yang meninggalkan rakyatnya dalam keadaan susah dan kesulitan menghadapi setiap bencana atau musibah, termasuk pandemi Covid-19 ini.


Allah mencela seorang ayah yang meninggalkan generasi lemah dibelakangnya, apalagi seorang kepala negara. Maka aksi cuci tangan atau meriayah seadanya dalam persolan pandemi ini seharusnya tak ada. Kita butuh pemimpin yang taat dan takut azab Allah agar rakyat sejahtera. Wallahu a'lam bish showab.
Previous Post
Next Post

post written by:

ibu rumah tangga yang ingin melejitkan potensi menulis, berbagi jariyah aksara demi kemuliaan diri dan kejayaan Islam

0 Comments: