Social Distance, Pilihan Jalur Aman

Social Distance, Pilihan Jalur Aman




Oleh : Lilik Yani

Sejak Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) menetapkan corona virus atau Covid-19 sebagai pandemi, maka banyak negara di dunia yang kini telah mengambil keputusan untuk lockdown. Dengan harapan bisa mencegah penyebaran virus Covid-19 agar tidak semakin menyebar luas di negerinya. 

"Statement WHO yang menyatakan Covid-19 adalah pandemi. Konteks pandemi mengisyaratkan pada seluruh dunia untuk meyakini penyakit ini bisa menyerang siapa saja dan negara mana saja di dunia ini," jelas Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Corona, Ahmad Yurianto di Kantor Presiden Jakarta, Kamis (12/3/2020).

Virus corona dikategorikan pandemi karena virus tersebut telah menyebar semakin luas ke seluruh dunia. Maka semua negara harus respon dan melaporkan data jumlah kasus virus corona, dan semua harus antisipasi.

"Benua Eropa lebih banyak melaporkan kasus dan kematian akibat terinfeksi virus corona, selain China. Hingga Eropa dijadikan sebagai pusat endemi," kata kepala WHO Tedros Adhanom, Channel News Asia, Sabtu (14/3/2020)

Kemudian negara-negara di Eropa memperkenalkan langkah-langkah dramatis untuk menghentikan penyebaran virus, termasuk menutup sekolah dan membatasi acara publik, menjauhkan perkumpulan massa, bahkan ada yang menerapkan kebijakan lockdown seperti di Italia.

Demikian juga dengan WHO yang sudah memberikan instruksi untuk melakukan langkah-langkah pencegahan penyebaran pandemi Covid-19 ini, salah satunya dengan menerapkan langkah social distancing measure.

Di Indonesia, yang semula masih banyak pertimbangan saat didesak untuk melakukan lockdown. Karena kalau memilih lockdown maka akan banyak perekonomian yang mengalami kerugian. Hingga pemerintah lebih memilih untuk menerapkan langkah social distancing.  Langkah ini sudah mulai digalakkan oleh pemerintah dan mulai banyak diterapkan oleh masyarakat. Sekarang ini masyarakat sudah mulai membatasi aktivitas di luar rumah sebagai upaya penekanan penyebaran virus Covid-19 ini.

Social distancing adalah sebuah gerakan dari praktik kesehatan masyarakat yang bertujuan untuk mencegah orang sakit melakukan kontak jarak dekat dengan orang sehat untuk mengurangi peluang penularan penyakit.

Tujuan diberlakukannya social distancing sekarang ini adalah untuk memperlambat penyebaran wabah untuk mengurangi kemungkinan lebih banyaknya orang yang terinfeksi Covid-19. Selain itu juga untuk mengurangi beban pada sistem perawatan kesehatan dan para pekerja tenaga kesehatan. 

Social distancing selama ini dinilai menjadi salah satu cara yang paling efektif untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 dan bisa membantu menekan angka penderita agar tenaga kesehatan bisa memberikan perawatan maksimal terhadap pasien yang terinfeksi sehingga meningkatkan angka harapan sembuh.

Ada beberapa cara yang bisa ditempuh untuk menerapkan social distancing yaitu
* Menghindarkan diri dari tempat keramaian
* Menghindarkan diri dari pertemuan atau perkumpulan dengan banyak massa
* Menjaga jarak sekitar 2 meter dari orang lain, seperti berpelukan, berjabat tangan
* Penutupan tempat-tempat publik, seperti pertokoan, perkantoran, sekolah, tempat-tempat wisata
* Mengganti kegiatan belajar mengajar tatap muka menjadi daring atau jarak jauh.
* Menerapkan sistem Work From Home yaitu aktivitas kerja dengan lebih fleksibel 

Penerapan social distancing sudah dilakukan dan direkomendasikan
oleh para ahli kesehatan sejak lama. Hingga saat ini langkah social distancing adalah cara paling sering dipikirkan untuk memperlambat penyebaran sebuah pandemi. Karena pandemi penyebaran penyakitnya lebih banyak terjadi melalui pertemuan publik.

Hanya saja pandemi tidak bisa dihentikan langsung, begitu pandemi terjadi. Tapi social distancing akan diberlakukan sedini mungkin untuk memperlambat penyebaran penyakit dan memberikan waktu pemulihan untuk wilayah yang terkena pandemi tersebut dengan pengobatan lebih baik.

Pemerintah memilih menerapkan social distancing setelah melalui berbagai pertimbangan dan masukan para pakar.

Pengamat Transportasi Universitas Soegijapranata, Djoko Setijowarno menyarankan agar pemerintah menerapkan pendekatan jarak sosial atau social distancing untuk meminimalisir penyebaran virus Corona, daripada melakukan upaya penutupan atau lockdown. Merdeka.com, Selasa 17 Maret 2020

Indonesia masih belum menerapkan lockdown karena pemerintah masih mempertimbangkan ekonomi umat. Dengan penerapan social distancing, ekonomi masyarakat masih bisa berjalan baik. 

"Pendekatan social distancing atau menjaga jarak lebih dikedepankan, supaya ekonomi masyarakat tetap berjalan," kata Djoko Setijowarno dalam keterangan tertulisnya, kepada Liputan6.com, Selasa (17/3)

Melihat alasan yang diajukan, terasa benar bahwa orientasinya adalah perekonomian. Negara belum siap jika memilih lockdown, karena perekonomian akan jatuh sehingga merugikan negara. Maka metode ini tidak dipilih walau mendapat desakan dari berbagai pihak. Hingga pilihan jatuh pada social distancing.

Dalam hal ini, akan melibatkan seluruh komponen masyarakat. Karena diperlukan kerjasama dan kesadaran antar anggota masyarakat. Masyarakat dilarang keluar rumah, kecuali untuk keperluan penting. Tempat fasilitas umum, termasuk tempat wisata ditutup. Sekolah diliburkan, kantor-kantor juga diliburkan. Anak-anak belajar di rumah, dipandu guru melalui internet. Pekerjaan kantor dikerjakan dan dipantau dari rumah, work from Home. Semua dilakukan agar terhindar dari tertularnya virus Corona.

Dalam hai ini orientasi utama yang diperhatikan adalah masalah perekonomian. Lagi-lagi sistem kapitalisme selalu mendambakan keuntungan mal atau harta yang menjadi prioritas. Maka negara tidak memilih lockdown karena akan mengganggu laju perekonomian. Negara tidak ada stok logistik yang cukup untuk masyarakat jika diberlakukan lockdown. 

Maka dipilihlah social distancing, dimana laju perekomomian masih berjalan normal. Masyarakat masih bisa mencukupi segala kebutuhan pokok dengan baik. Walau di sini umat dirugikan karena tak bebas berinteraksi dengan umat. Segala gerak dibatasi. Seluruh aktivitas dibatasi termasuk ibadah shalat berjamaah, rekreasi, sekolah, bekerja di instansi.

Masihkah sistem seperti  ini yang akan membuat masyarakat sejahtera? Sistem yang hanya ber-orientasi manfaat? Sistem kapitalis yang mengutamakan perekonomian sebanyak-banyaknya.

Sedangkan Islam mengajarkan jika suatu negeri mengalami wabah, solusi terbaik dengan cara segera melakukan isolasi. Umat yang berada di wilayah wabah agar tetap di dalam negeri. Sementara umat yang di luar tidak boleh masuk ke wilayah wabah. Selama diisolasi, negara akan mencukupi semua kebutuhan pokok umat. Sehingga umat tetap tenang, aman, nyaman di dalamnya.

Jika wabah semakin merajalela hingga menjadi pandemi, maka jika dilakukan lockdown lebih effektif. Akan tetapi karena lockdown mengganggu perekonomian maka dipilihlah jalur aman dengan social distancing. Perekonomian tetap berjalan baik, walau membuat tak nyaman masyarakat karena dibatasi geraknya.

Sudah saatnya kembali pada Islam, yang memiliki aturan sempurna. Segala masalah sudah disiapkan solusi terbaik dari Sang pemilik kehidupan.

Wallahu a'lam bisshawab


Surabaya, 29 Maret 2020
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: