Tak Disiplin, Modernitas atau Kembali ke Masa Purbakala

Tak Disiplin, Modernitas atau Kembali ke Masa Purbakala






Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Muslimah Penulis Sidoarjo


Hebatnya Virus bernama Covid-19, sejak munculnya pertama kali di kota Wuhan, China telah mengguncang dunia, dilansir KOMPAS.com, per Jumat, 27 Maret 2020, Penyebaran virus corona terus meluas hingga terkonfirmasi di 200 negara. Merujuk data dari Worldometer, kasus virus corona tercatat mencapai 529.614 kasus.


Mematikan aspek perekonomian, sosial, pendidikan dan lain sebagainya. Namun sungguh menarik digagas, bagaimana perbedaan penyikapan terhadap pandemi ini dilihat dari sudut idealisme sebuah bangsa dan negara.


Secara psikologis, merebaknya virus corona menguatkan pikiran kita akan kematian. Ketika kita diingatkan tentang kefanaan tersebut, maka orang bisa menjadi lebih impulsif, termasuk impulsif pada membeli barang," demikian menurut Dicky, Wakil Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI).


Informasi keliru, tidak akurat dan tidak meyakinkan yang berkembang di tengah ancaman virus mengakumulasi rasa takut setiap orang terhadap tindakannya dalam membeli barang. Sehingga memunculkan panic buying.


Hal ini sejalan dengan pendapat Steven Taylor, penulis dan psikolog klinis. Dikutip dari CNN, ketika orang mendengarkan pesan yang bertentangan tentang risiko virus dan seberapa serius mereka harus bersiap, orang cenderung mengambil jalan yang ekstrem.


Kepanikan masyarakat mencerminkan masyarakat yang lemah nilai takwa kepada Allah Sang Pemberi Harapan, sehingga tawakkal tidak mendominasi penyikapan masalah. Juga menegaskan kelemahan Negara dalam memberi jaminan atas pemenuhan kebutuhan dasar rakyat.


Semestinya bagi negara dengan mayoritas beragama Islam , kesadaran hubungannya dengan Allah kuat di an menjadi landasan setiap perbuatannya. Dan ketika menghadapi ini semua justru semakin mendekat kepada Allah, Sang Pencipta dunia dan seisinya termasuk virus Covid-19. 



Namun sekulerisme merenggut apa yang seharusnya terhujam dalam benak setiap muslim . Landasan ideologi beracun ini adalah kebebasan, sebab telah terjadi kesepakatan untuk tidak menggunakan agama ketika menyelesaikan persoalan umat.


Benarlah kiranya firman Allah dalam Quran surat Ar-Rum 30: 41 yang artinya: "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”


Dengan pongahnya masyarakat tetap menjalankan kegiatan sehari-hari meski telah dihimbau untuk menjauhi kerumunan , jaga interaksi tetap saja tak berdaya. Dan lebih parah penguasa lebih arogan dengan tetap melanjutkan program pembangunan ibukota baru, Mentri Sri Mulyani membuka dompet amal dan lain -lain yang sungguh berlawanan dengan tenaga kesehatan menangani pasien Corona dengan Alat Pertahan Diri dari Jas hujan.



Rakyat bergerak sendiri mempertahankan anggota keluarga bahkan dirinya sendiri menangani penyelesaian pandemi ini. Lantas ini langkah modern atau justru jatuh ke alam lain yaitu ke masa Purbakala?


Tak ada jalan lain sebagai solusi selain kembali ke Alquran dan As Sunnah . Sebab 14 lalu, jauh sebelum Islam terpuruk hari ini adalah penyelesaian yang gemilang, Rasulullah telah menunjukkan cara bagaimana mengatasi pandemi ini. Yaitu dengan Lockdown. Inilah solusi terbaik. Wallahimu a' lam bish showab.

Previous Post
Next Post

post written by:

ibu rumah tangga yang ingin melejitkan potensi menulis, berbagi jariyah aksara demi kemuliaan diri dan kejayaan Islam

0 Comments: