Urgensi Lockdown di Tengah Pandemi

Urgensi Lockdown di Tengah Pandemi



Oleh : Dara Millati Hanifah, S.Pd (Pemerhati Pendidikan)


.
Beberapa bulan terakhir ini, terhitung dari akhir januari 2020 hingga maret 2020. Total 100 negara mengalami pandemi ini. Total 200 negara mengalami pandemi ini. Ribuan nyawa hilang akibat virus ini. Beberapa orang yang positif harus diisolasi baik di rumah sakit maupun di rumah.
.
Virus covid 19 atau Corona ini sangat pesat penyebarannya. Di Indonesia saja yang positif terkena virus ini 1.550 orang per 28 Maret 2020, jumlah kematian yang setiap hari meningkat kini sudah 102 orang meninggal dan beberapa lainnya dinyatakan sembuh. Dengan keadaan yang darurat seperti ini, harusnya pemerintah memberlakukan lokdown atau karantina wilayah untuk memutus penyebaran virus ini. Namun, pemerintah hanya menginstruksikan untuk tetap di rumah dan social distancing jika berpergian atau ditempat umum seperti pasar serta supermarket.
.
Director Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto menilai, pemerintah tak mengambil lockdown karena alasan ekonomi. Menurutnya, adanya virus corona memperlambat laju ekonomi di Indonesia. Namun, pemerintah berupaya menjaga agar penurunannya tidak tajam. (Detik.com 22/03/2020)
.
Selain itu, pengurus perhimpunan dokter spesialis penyakit dalam indonesia (PB PAPDI) meminta ikatan dokter Indonesia (IDI) merekomendasikan wilayah yang positif covid 19 untuk lockdown agar virus ini tidak menyebar ke wilayah yang lain. Beberapa organisasi seperti perhimpunan dokter paru Indonesia, fakultas kedokteran universitas Indonesia dan lain sebagainya mendesak pemerintah untuk mengambil kebijakan lockdown. Padahal karantina wilayah atau lockdown sudah ada undang-undangnya yaitu undang-undang nomor 6 tahun 2018 (tirto.id 20/03/2020).
.
Jauh sebelum ada virus ini, di masa kepemimpinan Umar bin Khattab terjadi wabah penyakit yaitu tha'un. Tha'un adalah sebuah penyakit menular yang mematikan. Ketika Umar dan rombongannya hendak pergi ke syam beliau mendapatkan kabar bahwa di syam terjadi wabah penyakit. Saat itu juga Umar membatalkan kepergiannya dan mengisolasi diri dari wabah tersebut. Gubernur syam Amr bin Ash yang menyuruh rakyatnya untuk mengisolasi atau berpencar ke berbagai penjuru gunung, bukit atau desa yang terpencil agar wabah ini tidak memakan korban lebih banyak. Dan tak butuh waktu lama wabah tha'un berakhir.
.
Seharusnya seorang pemimpin memiliki sikap yang tegas ketika wilayahnya mengalami Pandemi. Agar virus ini tidak menyebar ke wilayah lain dan memakan korban lebih banyak lagi. Kebijakan untuk lockdown adalah keputusan yang terbaik. Namun, apakah pemerintah akan memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya?. Otomatis selama lockdown rakyat tidak bisa memenuhi kebutuhannya secara penuh. Di sinilah peran negara dituntut untuk memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya. Negara juga menjamin keamanan warganya selama masa lockdown itu berlaku.

Tetapi, jika di era kapitalisme rasanya sulit untuk memberlakukan lockdown. Karena takut akan terjadi krisis ekonomi. Sebaliknya jika dalam Islam pemimpinnya akan memberlakukan hal tersebut demi keamanan rakyatnya dan kebutuhan pokok akan terjamin.
.
Wallahu 'alam bis shawab
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: