Atasi Corona Dengan Mengandalkan Alam, Efektifkah?

Atasi Corona Dengan Mengandalkan Alam, Efektifkah?




Oleh: Fina Fadilah Siregar
  
Pernyataan Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan soal cuaca panas membunuh virus corona menuai tanda tanya. Pasalnya, sampai sekarang belum ada bukti ilmiah soal kebenaran teori ini. 
  
“Dari hasil modelling kami, cuaca Indonesia, (di) ekuator yang panas dan kelembaban udara tinggi membuat Covid-19 tidak kuat (hidup),” katanya saat melakukan rapat koordinasi, Kamis (2/4), seperti dikutip dari Kompas.com.
  
Tapi kondisi itu tak lantas membuat Indonesia aman dari pandemi corona. Luhut tetap mengimbau masyarakat untuk disiplin memutus rantai penularan virus tersebut. Menjaga jarak, menghindari kerumuman, dan beraktivitas di dalam rumah harus tetap dilakukan semua orang.
  
Sementara itu, BMKG juga turut membenarkan bahwa cuaca panas dapat membunuh virus corona. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Dwikorita Karnawati mengatakan dari kajian sejumlah ahli menyebut terdapat pengaruh cuaca dan iklim terhadap tumbuh kembang virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. Rita dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Sabtu (4/4), mengatakan BMKG mengkaji variabel tumbuh kembang virus corona dengan cuaca dan iklim bersama 11 doktor meteorologi, klimatologi, matematik beserta ilmuwan kedokteran, mikrobiologi, kesehatan dan pakar lainnya. (republika-co-id).
  
Kajian itu berdasarkan analisis statistik, pemodelan matematis dan studi literatur tentang pengaruh cuaca dan iklim dalam penyebaran Covid-19. Hasil kajian, kata dia, menunjukkan adanya indikasi pengaruh cuaca dan iklim dalam mendukung penyebaran wabah Covid-19 sebagaimana disampaikan dalam penelitian Araujo dan Naimi (2020), Chen et. al. (2020), Luo et. al. (2020), Poirier et. al. (2020), Sajadi et.al (2020), Tyrrell et. al (2020) dan Wang et. al. (2020).
  
"Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan sementara bahwa negara-negara dengan lintang tinggi cenderung mempunyai kerentanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara tropis," kata dia. (republika-co-id).
  
Iklim tropis, kata dia, membuat virus lebih cepat menjadi tidak stabil sehingga penularan virus corona dari orang ke orang melalui lingkungan iklim tropis cenderung terhambat.
  
Di tengah desakan publik agar pemerintah lebih tegas dalam mengendalikan sebaran virus dengan kebijakan karantina wilayah, Pernyataan Luhut bahwa virus akan mereda ketika masuk musim kemarau/panas mendapat kecaman publik. Namun malah dibenarkan oleh kepala BMKG dan pejabat lainnya. Ini mengindikasikan arah kebijakan pemerintah yang lepas tanggung jawab. Ini juga mengonfirmasi bahwa pemerintah cenderung mengambil kebijakan Herd Immunity dengan mengorbankan nyawa rakyat. Saat nyawa rakyat terancam pemerintah dengan santainya hanya mengandalkan Herd Immunity (Kekebalan Kelompok), yakni melalui vaksinasi atau membiarkan tubuh mendapat paparan penyakit secara alami. Dimana, kekebalan kelompok dari infeksi alami berisiko menimbulkan sakit parah bahkan kematian. Sehingga jelaslah bagi kita bahwa alam bukanlah solusi yang tepat dalam menangani virus corona ini. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah kapitalis gagal menjadi pelindung keselamatan jiwa rakyat.
  
Dalam hal ini, pemerintah lepas tanggung jawab dari penanganan masalah kompleks yang dihadapi rakyat. Dalam kondisi genting seperti saat ini, harusnya pemerintah bertindak cepat untuk menghindari penyebaran virus corona dengan kebijakan 'Lock Down' yang tentunya disertai dengan pemenuhan kebutuhan pangan rakyat, tetapi pemerintah malah melakukan kebijakan lain yang membuat korban yang terinfeksi virus corona dari hari ke hari kian bertambah. Hal ini juga menunjukkan bahwa pemerintahan saat ini tak mampu menjadi pelindung dan tidak dapat memenuhi kebutuhan umat secara keseluruhan, sehingga rakyat harus memenuhi kebutuhannya secara mandiri di tengah sulitnya perekonomian saat ini. Kalaupun ada bantuan yang diberikan, sangatlah tidak memadai dan jauh dari kata layak.
  
Berbeda halnya dengan pemerintahan Khilafah yang berperan sebagai periayah dan junnah bagi umat. Di saat ada wabah di suatu wilayah, maka kita dilarang memasuki tempat itu, sedangkan penduduk yang ada di wilayah itu dilarang keluar ke wilayah lain, sehingga orang-orang yang sehat tetap bekerja dan berproduksi. Seperti Imam al-Bukhari telah meriwayatkan di dalam Shahih-nya dari Usamah bin Zaid dari Nabi SAW, beliau bersabda:

«إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا«

Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.
  
Selain itu, tentunya rakyat juga dicukupkan kebutuhannya oleh pemerintah. Sehingga rakyat tidak perlu khawatir akan kebutuhan hidupnya. Begitulah peran pemimpin yang sesungguhnya dalam Islam. Bertanggung jawab penuh dan tidak pernah abai sedikitpun terhadap kebutuhan dan kepentingan rakyat dan kondisi seperti ini hanya kita temukan dalam Daulah Khilafah Islamiah. Wallahu a'lam bish showab.

Previous Post
Next Post

post written by:

Cerdaskan Umat, Raih Kebangkitan!

0 Comments: