Cara Islam Mengatasi COVID-19

Cara Islam Mengatasi COVID-19




Oleh: Enok Badriyah*



Virus Corona adalah virus yang menyerang sistem pernapasan. Virus ini telah menghilangkan banyak korban jiwa. Virus Corona atau yang sering disebut COVID-19 pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Cina, pada akhir Desember 2019. Penularan virus ini sangat cepat menyebar ke wilayah lain bahkan ke beberapa negara.

Virus yang sudah menyebar kebeberapa negara, termasuk Indonesia yang terjangkit virus Corona hingga kini mencapai 3.512 kasus.

Hingga kini, wabah virus corona masih terjadi di Indonesia. Menurut data terbaru per Jumat (10/4/2020), kasus-kasus infeksi Covid-19 telah dikonfirmasi terjadi di seluruh provinsi di Indonesia. (Kompas, 10/4/2020)

Adapun jumlah kasus virus Corona yang telah dikonfirmasi dan diumumkan oleh pemerintah Indonesia per Jumat (10/4/2020) pukul 12.00 WIB mencapai 3.512 kasus.

Tentang menyebarnya virus corona di negara +62 yang dianggap remeh oleh pemerintah terpangpang nyata, bagaimana tidak? pemerintah mengagap remeh virus ini, jika saja dari awal pemerintah memberikan peringatan atau memberlakukan lockdown maka penyebaran virus ini tidak akan terjadi sebanyak ini.

Lockdown adalah sebuah situasi yang dimana orang tidak boleh berkeliaran diluar ruangan dengan bebas karena keadaan yang darurat. Mengingat virus ini sangat rentan menyebar, maka lockdown ini adalah solusi untuk pencegahan virus corona yang seharusnya pemerintah segera memberlakukannya tanpa nanti.

Negara Indonesia adalah salah satu negara yang bersih kukuh untuk tidak memberlakukan lockdown karena alasan perekonomian dan alasan-alasan tertentu. Pemimpin negara yang yakin dengan diterapkannya physical distancing atau menjaga jarak mampu mencegah penyebaran virus corona di negaranya.

“Sehingga di negara kita yang paling pas adalah physical distancing, menjaga jarak aman. Kalau itu bisa kita lakukan, saya yakin bahwa kita akan bisa mencegah penyebaran COVID-19 ini. Tetapi membutuhkan sebuah kedisplinan yang kuat, membutuhkan ketegasan yang kuat. Jangan sampai yang sudah diisolasi, saya baca sebuah berita sudah diisolasi masih membantu tetangganya yang mau hajatan, ada yang sudah diisiolasi masih beli handphone, belanja di pasar. Saya kira kedisplinan untuk mengisolasi yang penting. Partial isolated, mengisolasi sebuah RW, mengisolasi sebuah kelurahan penting tapi dengan betul-betul dengan sebuah kedisplinan yang kuat. Kalau ini bisa dilakukan, kembali lagi saya meyakini bahwa skenario yang telah kita pilih akan memberikan hasil yang baik,” ujarnya dalam telekonferensi, di Jakarta, Selasa (23/3). (voa.indonesia.com, 24/03/2020).

Pemerintah enggan memberlakukan lockdown karena faktor ekonomi tanpa memikirkan rakyatnya sedang dalam masalah besar, diberlakukannya physical distancing tidak mampu memberikan efek yang kuat untuk mencegah penyebarannya virus, faktanya hari kehari korban atau kasus virus corona ini semakin meningkat.

Negara yang mayoritas Islam seharusnya berkaca dan belajar dari sejarah Islam terdahulu yaitu saat wabah penyakit terjadi di masa Khulafaur Rasyidin Umar bin Khatab yang berdebat mendiskusikan serta menangani dan menanggapi wabah penyakit yang terjadi di wilayah saragh di d
ekat negeri Syam.

Wabah ini pernah terjadi diwilayah Syam, ketika itu Ubaidah bin Al-Jarrah Gubernur Syam memberitahu Umar bin Khatab tentang terjadinya wabah penyakit di wilayah syam, Umar bin Khatab mendiskusikan dengan para pemimpin tokoh-tokoh Muhajirin dan orang-orang Anshar. Perdebatan pun dimulai, tak sedikit orang berpendapat untuk menyarankan Umar kembali ke Madinah, namun tidak ada titik temu lalu didatangkanlah tokoh-tokoh Quraisy yang berpendapat untuk tidak melanjutkan perjalannya ke wilayah Syam, Umar sepakat untuk kembali ke Madinah, namun Abu Ubaidah bin Al-Jarrah tidak sepakat dengan keputusan Umar karena menurutnya Umar lari dengan takdir Allah.

Abu Ubaidah bin Al-Jarrah tak sepakat dengan keputusan Umar tersebut. "Apakah Engkau ingin lari dari takdir wahai Amirul Mukminin?" kata Abu Ubaidah.

"Ya, kita akan lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lainnya," Jawab Umar bin Khattab.

Umar masih berusaha meyakinkan pilihannya kepada Abu Ubaidah. Hingga kemudian datanglah Abdurrahman bin Auf yang menjelaskan bahwa apa yang akan dilakukan Umar, persis dengan sabda Rasulullah SAW:

"Apabila kalian mendengar ada suatu wabah di suatu daerah, maka janganlah kalian mendatanginya. Sebaliknya kalau wabah tersebut berjangkit di suatu daerah sedangkan kalian berada di sana, maka janganlah kalian keluar melarikan diri darinya."

Umar bin Khattab kemudian meminta Abu Ubaidah untuk meninggalkan Syam. Namun Abu Ubaidah menolak dan tetap tinggal di Syam. Dia kemudian terkena wabah dan meninggal dunia. Muaz bin Jabal yang menggantikan Abu Ubaidah sebagai Gubernur Syam juga meninggal dunia terkena wabah.

Maksud dari sepenggal sejarah Islam ini telah jelas bahwa salah satu pencegahan agar tidak terjadinya penyebaran virus corona adalah untuk mengisolasi diri, memisahkan yang sakit dengan yang sehat, berdiam diri untuk tidak keluar ruangan dan diberlakukannya Lockdown agar virus tidak menyebar.

inilah dampak dari tidak diberlakuakannya lockdown karena ketidakpedulian terhadap diri sendiri dan orang lain, menentingkan kepentingan tanpa memahami dampak negatif yang akan diterima, jelas Islamlah yang mengatur aspek kehidupan manusia namun manusia enggan berkaca dan memberlakukannya ketentuan Islam.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) sempat menyinggung ihwal kebijakan lockdown atau mengunci sementara Indonesia selama pandemi virus corona Covid-19. Hal itu dia sampaikan dalam rapat terbatas yang berisi memberi arahan pada para Gubernur guna menghadapi pandemi virus corona Covid-19. (Suara.com,  24/3/2020).

"Ada yang bertanya kepada saya, kenapa kebijakan lockdown tidak kami lakukan?," Jokowi dalam keterangan yang disiarkan oleh akun Youtube Sekretariat Presiden, Selasa (24/3/2020).

Kepala Negara beralasan, kebijakan lockdown tidak diambil dengan berbagai macam alasan. Menurutnya, setiap negara mempunyai karakter dan budaya yang berbeda-beda dalam menyikapi pandemi Covid-19 ini.

"Perlu saya sampaikan, bahwa setiap negara memiliki karakter yang berbeda-beda, memiliki budaya yang berbeda-beda, memiliki kedisiplinan yang berbeda-beda," kata dia.

Islam mengatur dan memberi solusi untuk kehidupan manusia, namun manusia enggan untuk mengambil pelajaran yang diberikan, terlalu takut mengambil resiko hingga menggangap bahwa perekonomian lebih penting daripada kesehatan. Budaya dijadikan sebuah alasan untuk mereka yang bernegara kapitalisme bahwa lockdown tidak cocok diterapkan di negaranya.

Sikap Masyarakat Kapitalis Vs Islam mengahdapi bencana dilihat dari kepanikannya tentang lemahnya nilai takwa ketika musibah datang sehingga tawakal tidak dijadikan prioritas utama dalam menyikapi masalah dalam hidupnya.

Semoga Allah segera mengangkat wabah ini, kepanikan menghadapi situasi yang mencekam seperti ini sebagai umat muslim yang beriman banyak hal yang harus kita lakukan supaya Allah SWT melindungi kita dari penyakit dan marabahaya diantaranya yaitu melalui Do'a.

Allah tidak akan membiarkan hambaNya dengan tangan yang hampa, bila Allah mengetahui bahwa hambanya benar-benar berdoa dan menghadap kepadaNya.

إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا

“Sungguh Allah itu Maha Hidup lagi maha pemurah, Allah itu malu bila ada seorang hamba yang mengangkat kedua tangannya lalu Allah membalasnya dengan tangan yang kosong” (HR.Abu Daud)


*Aktivis Muslimah Karawang

Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: