Corona, Antara Duka dan Harapan

Corona, Antara Duka dan Harapan



Oleh: Linda Anisa
(Ibu Rumah Tangga)

Sejak bermulanya covid 19 di wuhan, China pada akhir 2019 lalu yang telah menewaskan 3.335 jiwa (kompas. Com), kini virus tersebut telah menyebar luas ke berbagai belahan dunia dan telah menewaskan ribuan nyawa. Berdasarkan Update Virus Corona di Dunia 10 April: 1,6 Juta Orang Terinfeksi, 355.671 Sembuh. Kasus virus corona sampai dengan hari ini masih menunjukkan penambahan. Secara global, di seluruh dunia tercatat ada 1.600.984 kasus, dengan jumlah kematian sebanyak 95.604 dan yang telah sembuh sebanyak 355.671, menurut data dari Worldometer. Berikut ini 10 negara dengan jumlah kasus terbesar di dunia: Amerika Serikat sebanyak 466.969 kasus, 16.632 kematian dan sembuh 25.316, Spanyol sebanyak 153.222 kasus, 15.447 kematian dan sembuh 52.165, Italia sebanyak 143.626 kasus, 18.279 kematian dan 28.470 sembuh, Jerman sebanyak 118.235 kasus, 2.607 kematian dan 52.407 sembuh, Perancis dengan 117.749 kasus, 12.210 kematian dan 23.206 sembuh, China dengan 81.865 kasus, 3.335 kematian dan sembuh 77.370, Iran dengan 66.220 kasus, 4.110 kematian dan sembuh 32.309, Inggris dengan 65.077 kasus, 7.978 kematian dan sembuh 135, Turki dengan 42.282 kasus, 908 kematian dan sembuh 2.142, Belgia dengan 24.983 kasus, 2.523 kematian dan sembuh 5.164. (kompas. Com)

Berbagai upaya di lakukan oleh berbagai negara untuk bisa keluar dari pandemi ini. China, misalnya yang merupakan negara pertama di temulannya virus tersebut. pemerintah China melakukan isolasi di Kota Wuhan, yang merupakan ibu kota Provinsi Hubei. Saat kasus terus bertambah dan semakin meluas, pemerintah kemudian memutuskan untuk mengisolasi kota-kota lain di Provinsi Hubei. China juga melakukan pembangunan dua rumah sakit khusus untuk menangani virus corona, yaitu RS Huoshenshan dan RS Leishenshan.

Selain itu, Pemerintah Korea Selatan juga telah melakukan sejumlah upaya sejak virus corona Covid-19 dideteksi di negaranya. Salah satunya adalah dengan menemukan cara inovatif untuk menguji virus corona baru pada pasien, yang terinspirasi dari sistem drive-through. Di utara Kota Goyang, para pengemudi berhenti di tempat parkit di mana mereka bertemu dengan petugas kesehatan. Pengemudi kemudian pergi ke beberapa lokasi di mana perawat dalam jas pelindung dari plastik, masker, hingga pelindung wajah, mendaftarkan pengemudi, memeriksa suhu tubuh, dan mengambil sampel dari tenggorokan dan saluran hidung. Sebelumnya, pemerintah Korea Selatan juga telah menerapkan sejumlah kebijakan, seperti larangan masuk ke negaranya hingga pembatasan ketat pada turis yang berangkat ke Korea Selatan.
Jepang sejauh ini juga berhasil mencegah penyebaran, salah satunya setelah menutup sekolah sejak bulan Februari. Mereka tidak menerapkan 'lockdown', tapi membatasi pergerakan warga, termasuk menghentikan beberapa kegiatan. Sama seperti Jepang, Singapura dan Hong Kong juga hanya membatasi pergerakan warga.

Di Italia, 'lockdown' diberlakukan secara nasional mulai 10 Maret lalu, yang melarang hampir seluruh kegiatan 60 juta warga. Pelarangan termasuk membuka toko, restoran, mendatangi tempat ibadah, dan ke sejumlah tempat lainnya.

Mengikuti Italia, Spanyol menjadi negara Eropa kedua yang menetapkan 'lockdown', sejak Sabtu lalu (14/03). Kemudian disusul dengan negara Prancis yang menutup seluruh bisnis yang dianggap tidak penting bagi warga. Sementara Denmark menjadi negara Eropa pertama yang menutup perbatasan negaranya untuk mencegah penyebaran virus corona, yang akan berlaku hingga 13 April mendatang. Rusia sudah menutup perbatasan dengan Polandia dan Norwegia, setelah sebelumnya sudah menutup perbatasan dengan China. Dan mulai tanggal 18 Maret sampai 1 Mei, Rusia juga akan melarang semua warga asing untuk masuk ke negara tersebut, kecuali diplomat dan awak pesawat dan sejumlah orang lainnya. Dan masih banyak lagi upaya yang dilakukan masingasing negara dalam mengatasi penyebaran covid 19 (tempo. Co).

Tak hanya sebatas hilangnya jutaan nyawa yang diakibatkan oleh virus ini. Dampak lainnya juga tak luput dirasakan, pada aspek ekonomi misalnya. Sebagaimana berita yang dirilis CNBC Indonesia - Direktur pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva menyebut pandemi virus corona (COVID-19) menciptakan krisis ekonomi yang parah. Bahkan lebih buruk daripada krisis keuangan global 2008. "Tidak pernah dalam sejarah kita menyaksikan ekonomi dunia terhenti," kata Georgieva pada konferensi pers di kantor pusat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Jenewa, Swiss, Jumat (3/4/2020).

Lembaga think thank independen, Next Policy, juga merilis dampak Covid-19 terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Seperti diketahui, asumsi makroekonomi dalam APBN 2020 menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3%. Namun, pandemi Covid-19 telah memberikan efek negatif terhadap perekonomian. Menurut Next Policy, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini akan berada dalam kisaran -0,84% hingga 2,57%. Pertumbuhan PDB sebesar minus 0,84% merupakan skenario terburuk dengan asumsi selama enam bulan, 75% perekonomian terhenti. Sedangkan pertumbuhan PDB senilai 2,57% merupakan skenario terbaik dengan asumsi selama 4 bulan, 50% perekonomian terhenti (CNBN Imdonesia, 10 April 2020).

Namun dibalik duka yang dihadapi saat ini, selayaknya kita juga dapat mengambil ibrah dari pandemi ini. Khususnya bagi ummat Islam dimanapun berada. Bukankah Allah tidak akan menguji suatu kaum di luar batas kemampuannya?. Bukankah Allah yang paling mengetahui hal terbaik bagi hambaNya? Dan bukankah Allah selalu bersama orang - orang yang sabar?

Terdapat beberapa hal yang dapat memberi harapan di tengah pandemi covid-19, seperti dikutip dari Vivanews. antara lain:

Pertama, Tingkat polusi menjadi turun. Saat sejumlah negara menutup wilayah mereka guna menghentikan penyebaran virus corona, tingkat polusi pun menurun secara signifikan. Negara China maupun Italia bagian utara mencatat, ada penurunan drastis nitrogen dioksida, polutan udara yang berbahaya, karena pengurangan aktivitas industri serta sepinya lalu lintas kendaraan bermotor. Selain itu, para peneliti di New York juga mengatakan bahwa hasil-hasil awal menunjukkan karbon monoksida, yang biasanya berasal dari mobil-mobil telah berkurang hampir 50% dibandingkan dengan tahun lalu. Ditambah lagi, karena banyak maskapai membatalkan penerbangan yang menyebabkan jutaan orang bekerja dari rumah, maka semakin banyak negara di dunia mengalami penurunan tingkat polusi.

Kedua, Timbul kebersamaan. Di tengah pandemi ini juga, ada solidaritas yang terbangun di dalam komunitas-komunitas di banyak tempat. Ketiga, Allah menegur dan mengingatkan kita bahwa manusia adalah makhluk yang lemah. Sekalipun hanya berhadapan pada makhluk yang lebih kecil dari manusia. Keempat, musibah covid 19 menyadarkan (kembali) kepada kita akan pentingnya menjaga kesehatan dan kebersihan diri dan lingkungan.

Dan hal penting yang harus menjadi renungan bagi ummat Islam dimanapun berada, Azan Berkumandang di 100 Masjid Jerman dan Belanda saat Wabah Corona. "Azan yang disiarkan oleh pengeras suara biasanya tidak diizinkan di Jerman, kecuali untuk acara-acara tertentu," kata Alptekin. (suara. Com). Saat menghadapi pandemi corona, pemerintah di Belgia pun memperbolehkan masjid setempat untuk mengumdangkan adzan. Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan moral sesama manusia. Tentu hal ini bukanlah suatu kebetulan semata, melainkan ada campur tangan dari Dzat yang maha hebat, Allah SWT. semoga ini adalah pertanda bahwa seluruh aturan- aturan Islam juga akan segera dapat diterapkan dan dirasakan oleh ummat Islam khususnya dan seluruh ummat manusia umumnya. Semoga itu semua akan segera terjadi dengan IzinNya, Insyaallah.
Wallahu A'lam bi ash sawab.

Previous Post
Next Post

post written by:

Cerdaskan Umat, Raih Kebangkitan!

0 Comments: