Ibu Kota Baru dipindahkan Bukti Kapitalis Tidak Mengutamakan Kemanusiaan

Ibu Kota Baru dipindahkan Bukti Kapitalis Tidak Mengutamakan Kemanusiaan




Oleh : Arsy Novianty 
Member AMK, Aktivis Remaja Muslimah


Juru Bicara Menteri Koordinator Maritim dan Investasi (Marves) dan Kementerian Koordinator Marves Jodi Mahardi menyatakan proses pemindahan ibu kota negara (IKN) hingga kini masih terus berjalan sesuai rencana. Menurutnya tak ada perubahan di tengah mewabahnya virus corona (Covid-19).

"Saat ini persiapan masih on the track," kata dia dalam konferensi video kepada wartawan yang dikutip Rabu (25/3/2020).

Dia menjelaskan, kementerian yang dipimpin Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Marves) Luhut Binsar Panjaitan terus berkoordinasi dengan kementerian terkait lainnya. Dilansir dari media (M.detik.com, Rabu 25 Maret 2020)

Sungguh miris, ditengah wabah melanda, pemerintah masih saja bersi keras untuk melanjutkan perpindahan Ibu kota baru, padahal kini rakyat sedang membutuhkan berbagai macam hal terutama dalam penanganan covid19 ini, dimana para tenaga medis masih banyak kekurangan APD dan alat medis lainnya, mereka sedang berjuang perang melawan wabah ini dan tentunya dalam hal keamanan harus sangat diperhatikan. 

 Masyarakat pun ditangan wabah seperti ini membutuhkan sembako untuk kebutuhan pokok sehari-hari, karena bahwasannya banyak dari kalangan masyarakat yang pekerjaannya diberhentikan sementara ditengah wabah ini untuk memutuskan rantai virus yang ada.

Sungguh aneh, biaya untuk pemindahan Ibu kota dananya ada, tapi untuk rakyat itu sendiri tidak ada, bahkan pemerintah membuka rekening bagi siapa saja yang ingin membantu dalam situasi wabah ini.

Dalam hal ini bisa ditegaskan bahwasannya kebijakan pemerintah lebih berpihak pada kepentingan penguasaha dan asing dalam setiap kebijakan. Menunjukkan penetapan prioritas yang salah dalam kebijakan pemerintah kapitalistik. Tidak seharusnya pemerintah mengeluarkan kebijakan seperti itu dimana lebih mengutamakan kepentingan asing dibandingkan rakyat itu sendiri.

Lalu bagaimana kebijakan Islam dalam menghadapi wabah?

Sesungguhnya, pemerintah berlepas tangan akan nasib masyarakat. Dana negara yang semestinya dipergunakan untuk kepentingan rakyat, entah menguap di mana. Sungguh kontras dengan tanggung jawab yang dimiliki oleh Khilafah, sebagai cerminan pelaksana Islam kaffah.

Islam agama yang sempurna. Tak ada satu pun perkara di dunia yang lepas dari aturan Islam. Orang mati saja diatur, apalagi orang sakit dan hidup. Begitu pula ketika wabah datang. Islam memberlakukan lockdown syar’i ketika terjadi wabah. Ini semata agar terjaga kehidupan.

Kehidupan dalam pandangan Islam sangat berarti. Nilai nyawa dalam Islam begitu tinggi. Nyawa bahkan dalam ranah Ushul Fiqih masuk dalam kategori “al-Dharūriyāt al-Khamsah” (lima hal primer yang wajib dipelihara).

Artinya, pada asalnya, nyawa manusia tidak boleh dihilangkan begitu saja tanpa ada alasan yang jelas. Tak peduli nyawa orang muslim maupun kafir.

Terkait hal tersebut, Allah berfirman dalam QS Al Maidah: 32,

مَن قَتَلَ نَفْساً بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعاً وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعاً

“Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain , atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya . Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.”

Terlebih posisi negara yang berkewajiban mengurusi urusan rakyatnya, tidak boleh ceroboh dalam membuat kebijakan yang akan membawa bahaya besar kehidupan rakyatnya. Negara tidak boleh berkompromi dengan masalah nyawa rakyatnya, apalagi lebih mengedepankan kepentingan ekonomi daripada nyawa. Jika ekonomi mati bisa dibangkitkan, namun jika nyawa hilang, tak bisa dikembalikan.

Namun nyatanya, itulah yang terjadi pada rezim hari ini. Kapitalisme telah menjadi ruh dalam mengatur kehidupan bernegara. Sehingga yang di kepala penguasa hanyalah keuntungan dan kekuasaan. Secuilpun tak ada belas kasihan pada umat ini.

Jika umat ini sudah ratusan, ribuan kali dirusak oleh sistem kapitalisme dengan penguasa zalimnya hari ini, bukankah sudah waktunya mereka menerapkan aturan Allah yang menyelamatkan mereka di dunia dan akhirat kelak? Wallahu a’lam.
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: