Khilafah Kebutuhan Mendesak Di Tengah Wabah Covid-19

Khilafah Kebutuhan Mendesak Di Tengah Wabah Covid-19

Oleh: Ummu Hafidz( Pemerhati Masalah Sosial Lalembuu, Sultra)


Dunia saat ini disibukkan dengan Covid -19 bahkan aktivitas perekonomian juga semakin menurun. Angka penjulan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan tabung LPG di Sulawesi Tenggara (Sultra) mengalami penurunan drastis akibat wabah virus corona (Covid-19), apalagi setelah di Sultra terdapat kasus positif corona.


Sales Branch Manager (SBM) VII Sulawesi Selatan Tenggara (Sulseltra) PT Pertamina, Mahdi mengatakan terjadi penurunan omset penjualan BBM dan LPG di Sultra secara umum sekitar 20 hingga 30 persen untuk semua jenis BBM dan LPG baik itu subsidi atau Penugasan Kewajiban Pelayanan Publik (PSO) maupun nonsubsidi atau non-PSO. Adapun jenis BBM yang didistribusikan Pertamina di Sultra yakni premium, solar, pertalite, dexlite, pertamina dex dan pertamax dm. .? pertamax turbo. 


Sementara untuk LPG ada LPG 3 kg, bright gas 5,5 dan gas 12 kg. “Memang ada penurunan omset karena corona, tapi meski begitu pelayanan tetap terbuka sehingga kebutuhan konsumen tetap terpenuhi. Untuk stok kita aman", ungkap Mahdi saat ditemui di SPBU Tapak Kuda Kendari, Sabtu (Zonasultra.com 4/4/2020). 


Penyebaran virus corona Yang semakin masif tidak hanya berdampak pada terbatasnya aktivitas masyarakat tapi juga membuat perekonomian semakin lumpuh, penurunan pendapatan masyarakat tidak hanya terjadi di kota kendari nyaris hampir merata di rasakan oleh semua pedagang,pebisnis, petani dan buruh di seluruh daerah, padahal dalam waktu sama masyarakat harus tetap memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan asupan gizi yang cukup untuk tetap menjaga imunitas tubuh agar tetap sehat dalam melawan penularan virus corona. 


Kondisi ini sungguh berat jika rakyat seolah berjuang sendiri untuk bertahan hidup dalam melawan covid 19 seharusnya pemerintah tidak hanya memberikan himbauan kepada masyarakat untuk melawan wabah ini tetapi pemerintah harus mendampingi memberikan bantuan yang real segala hal yang dibutuhkan masyarakat karena jika hanya sekedar himbauan kepada masyarakat untuk hidup sehat,tempat dirumah ,rajin cuci tangan itu tidak maksimal harus ada peran negara yang benar-benar bisa memutus mata rantai penularan covid 19. 


Sudah saatnya seluruh umat untuk melihat bahwa Keberadaan Khilafah saat bukan hanya sekedar solusi tapi Khilafah adalah Kebutuhan yang mendesak di tengah daruratnya kondisi umat saat ini agar korban tidak semakin bertambah dan bangsa ini tidak semakin jatuh pada kemiskinan yang semakin melarat. 


Berikut ini cara khilafah dalam mengatasi wabah penyakit ditengah umat yang memang benar-benar di butuhkan.

1. Edukasi prefentif dan promotif

Islam adalah agama pencegahan. Telah banyak disebutkan bahwa Islam mewajibkan kaum muslim untuk ber-ammar ma’ruf nahiy munkar. Yakni menyeru kepada kebaikan dan mencegah kepada kemunkaran. Pembinaan pola baku sikap dan perilaku sehat baik fisik, mental maupun sosial, pada dasarnya merupakan bagian dari pembinaan Islam itu sendiri. Dalam hal ini keimanan yang kuat dan ketakwaan menjadi keniscayaan. 


Islam memang telah memerintahkan kepada setiap orang untuk mempraktekan gaya hidup sehat, pola makan sehat dan berimbang serta perilaku dan etika makan. Allah SWT telah berfirman: 
“Makanlah oleh kalian rezeki yang halal lagi baik yang telah Allah karuniakan kepada kalian” (TQS. An-Nahl [16]: 114). 


Kebanyakan wabah penyakit menular biasanya ditularkan oleh hewan (zoonosis). Islam telah melarang hewan apa saja yang tidak layak dimakan. Dan hewan apa saja yang halal dimakan. Apalagi sampai memakan makanan yang tidak layak dimakan, seperti kelelawar. Makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang, mengisi perut dengan 1/3 makanan, 1/3 air dan 1/3 udara, termasuk kaitannya dengan syariah puasa baik wajib maupun sunnah. 

Oleh karena itu, Negara memiliki peran untuk senantiasa menjaga perilaku sehat warganya. Selain itu, pemerintah juga mengedukasi agar ketika terkena penyakit menular, disarankan menggunakan masker. Dan beberapa etika ketika sakit lainnya. Hal ini sangat membantu pemulihan wabah penyakit menular dengan cepat. Karena warga daulah telah membangun sistem imun yang luar biasa melalui pola hidup sehat.

2. Sarana dan Prasarana Kesehatan

Pelayanan dan kesehatan berkualitas hanya bisa direalisasikan jika didukung dengan sarana dan prasarana kesehatan yang memadai serta sumber daya manusia yang profesional dan kompeten. Penyediaan semua itu menjadi tanggung jawab dan kewajiban negara. Karenanya negara wajib membangun berbagai rumah sakit, klinik, laboraturium medis, apotik, lembaga litbang kesehatan, sekolah kedokteran, apoteker, perawat, bidan serta sekolah kesehatan lainnya yang menghasilkan tenaga medis. 


Negara juga wajib mengadakan pabrik pabrik yang memproduksi peralatan medis dan obat-obatan, menyediakan SDM kesehatan baik dokter, apoteker, perawat, psikiater, akupunkturis, penyuluh kesehatan dan lain sebagainya. Pelayanan kesehatan harus diberikan secara gratis kepada rakyat baik kaya ataupun miskin tanpa diskriminasi baik agama, suku, warna kulit dan sebagainya. Pembiayaaan untuk semua itu diambil dari kas Baitul Mal, baik dari pos harta milik negara maupun milik umum. 

Dengan demikian, apabila terjadi kasus wabah penyakit menular dapat dipastikan negara dengan sigap akan membangun rumah sakit untuk mengkarantina penderita, atau membangun tempat karantina darurat. Serta mendatangkan bantuan tenaga medis yang handal dan profesional untuk membantu agar wabah segera teratasi.


3. Membangun Sanitasi Yang Baik


Tidak dapat dipungkiri, bahwa sanitasi yang buruk juga menyumbang terjadinya wabah penyakit menular. Pada masa eropa mengalami masa the dark age, warga eropa masih membuang hajat di sungai-sungai sehingga pernah dalam sejarah terjadi wabah kolera di sana. Syariah sangat concern terhadap kebersihan dan sanitasi seperti dibahas dalam hukum-hukum thaharah. 


Kebijakan kesehatan Khilafah juga diarahkan bagi terciptanya lingkungan yang sehat dan kondusif. Tata kota dan perencanaan ruang akan dilaksanakan dengan senantiasa memperhatikan kesehatan, sanitasi, drainase, keasrian dsb. Hal itu sudah diisyaratkan dalam berbagai hadits:

“Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan, Maha Bersih dan mencintai kebersihan. Maha Mulia dan mencintai kemuliaan. Karena itu bersihkanlah rumah dan halaman kalian dan janganlah kalian menyerupai orang-orang Yahudi” (HR. At Tirmidzi dan Abu Ya’la)

 “Jauhilah tiga hal yang dilaknat, yaitu buang air dan kotoran di sumber/ saluran air, di pinggir atau ditengah jalan dan di tempat berteduh” (HR. Abu Dawud).


Di samping itu juga ada larangan membangun rumah yang menghalani lubang masuk udara rumah tetangga. Beberapa hadis di atas mengisyaratkan pengaturan pengelolaan sampah dan limbah yang baik, tata kelola drainase dan sanitasi lingkungan yang memenuhi standar kesehatan dan pengelolaan tata kota yang higienis, nyaman sekaligus asri.


4. Membangun Ide Karantina 


Dalam sejarah, wabah penyakit menular sudah terjadi pada masa Rasulullah SAW. Wabah tersebut adalah kusta yang menular dan mematikan dan belum ada obatnya. Untuk mengatasi wabah tersebut salah satu upaya Rasulullah adalah dengan menerapkan karantina atau isolasi terhadap penderita. 


Ketika itu Rasul memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat para penderita kusta tersebut. Dengan demikian, metode karantina telah diterapkan sejak zaman Rasulullah untuk mencegah wabah penyakit menular menjalar ke wilayah lain. Untuk memastikan perintah tersebut dilaksanakan, Rasul membangun tembok di sekitar daerah wabah. Rasulullah juga pernah memperingatkan umatnya untuk jangan mendekati wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya, jika sedang berada di tempat yang terkena wabah, mereka dilarang untuk keluar. 
Beliau bersabda:
“Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah tersebut. Sebaliknya jika wabah itu terjadi
di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu” (HR. Al-Bukhari). 

Dari hadits tersebut maka negara Khilafah akan menerapkan kebijakan karantina dan isolasi khusus yang jauh dari pemukiman penduduk apabila terjadi wabah penyakit menular. Ketika diisolasi, penderita diperiksa secara detail. Lalu dilakukan langkah-langkah pengobatan dengan pantauan ketat. Selama isolasi, diberikan petugas medis yang mumpuni dan mampu memberikan pengobatan yang tepat kepada penderita. Petugas isolasi diberikan pengamanan khusus agar tidak ikut tertular. Pemerintah pusat tetap memberikan pasokan bahan makanan kepada masyarakat yang terisolasi.


5. Islam Menginspirasi Negara Menciptakan Vaksin


Islam memasukan konsep Qadar sebagai salah satu yang harus diyakini. Allah telah tetapkan terkait gen, mekanisme mutasi, dampak fisiologi sebuah virus tertentu. Dari situ, kita tahu bagaimana mekanisme penyakit. Contohnya, identifikasi terhadap kuman Mycobacterium sebagai penyebab TBC yang menyerang paru, dan kita bisa pelajari antibiotik untuk mengobatinya dan juga mengenali mutasi kuman kuman Mycobacterium TB sehingga bisa menjadi resisten. 


Ukuran-ukuran ini yang bisa dipelajari dan digunakan untuk memprediksi resiko penyakit. Dan dari situ dapat diteliti obat/ vaksinasinya. Umat Islam terdahulu mengembangkan ikhtiar baru mengatasi Pandemi, yakni vaksinasi. Cikal bakal vaksinasi itu dari dokter-dokter muslim zaman Khilafah Utsmani. Demikianlah cara khilafah dalam menjaga keamanan dan keselamatan rakyat dari ancaman berbagai wabah penyakit menular.Wallahu a'lam bissawab
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: