Mengembalikan Peran Ibu dalam Mendidik Anak

Mengembalikan Peran Ibu dalam Mendidik Anak




Oleh : Ina Siti Julaeha S.Pd.I
Praktisi Pendidikan dan Member AMK

Belajar secara online di rumah menjadi aktivitas baru siswa di tengah wabah virus Corona. Aktivitas Ibu pun bertambah dengan mendampingi anaknya mengerjakan tugas sekolah. Bagaimana tidak, yang biasanya selepas anak-anaknya pergi sekolah, itulah waktu "me time" untuk ibu dari rutinitas keriwehan di pagi hari. Berbeda dengan dua minggu ini, di tengah wabah Corona ternyata menuai hikmah besar. Aktivitas belajar dari rumah menjadi kegiatan rutin anak-anak selama sekolah diliburkan. 

Tanpa disadari, ada hikmah dibalik ini, yakni terjalin kedekatan emosional  antara ibu dan anak dalam proses pembelajaran di rumah. Sebab selama ini kebanyakan orang tua memberikan sepenuhnya tugas mendidik kepada gurunya di sekolah. Menuntut banyak kepada pihak sekolah jika terdapat kesalahan, tanpa adanya evaluasi mandiri. Dengan belajar online ini, ibu semakin disadarkan bahwa tugas seorang guru juga berat. Dan semestinya ini menjadi peringatan kepada orang tua, apabila diminta untuk bekerjasama dengan guru terkadang kurang kooperatif. Disinilah penghargaan tertinggi untuk setiap guru yang mengajar anak-anak kita di sekolah. Ternyata mengajar tidak semudah yang dibayangkan.

Ada keluhan dan beberapa kendala yang dihadapi oleh ibu saat mengajar anaknya di rumah. Mulai dari kendala teknis berupa Hp atau laptop yang sulit download aplikasi, sampai metode / cara untuk mengajarkan agar anak mudah untuk memahami pelajaran. Banyak terjadinya keluhan, bahwa ibu semakin stres dan disibukan dengan kegiatan belajar online. Waktu belajar yg terkadang berebenturan dengan tugas domestik rumah.

Sebetulnya memberikan tumpukan tugas kepada siswa juga kurang efektif. Sebab bisa jadi anak lebih fokus kepada materi secara teoritis saja tanpa memahami ilmu yang sedang dipelajarinya. Akhirnya asal beres tugas, terkadang anak merasa jenuh dan lelah akibat kebanyakan. Asyiknya belajar tidak bisa dirasakan oleh siswa. 

Adanya tumpukan tugas dari guru memperbanyak tugas ibu yang sudah menggunung di rumah. Sebagian para ibu menikmati tugas ini, namun sebagian lain merasa sangat kerepotan membagi waktu. Antara mendampingi dan mendokumentasikan anak belajar sebagai laporan dengan pekerjaan harian ibu yang tidak pernah usai selama di rumah.

Seorang ibu memerlukan bekal kemampuan dalam menjalankan perannya. Sebab ditangan ibulah sebenarnya pendidikan utama yang diperlukan anak. Anak belajar bersama keluarga yakni ayah dan ibunya tanpa batasan jam dan waktu. Seorang anak bukan saja belajar tentang ilmu akademik saja, melainkan tentang semua ilmu yang diperlukan dalam kehidupan, bukan hanya ilmu dunia melainkan ilmu untuk menuju akhirat untuk menjadi hamba Allah yang bertakwa.

Seorang pujangga Mesir, Muhammad Hafidz Beik Ibrahim dalam sajak ya mengatakan:

Ibu adalah madrasah
Ba engkau persiapkan dengan baik
Maka engkau tengah mempersiapkan bangsa yang bermartabat.
Ibu adalah taman, tempat berseminya kehidupan
Tanamannya akan tumbuh subur bila kau siram dengan baik
Ibu adalah mahaguru yang pertama
Jasanya kan tetap abadi membentang di cakrawala

Islam sangat menghargai peran penting seorang ibu dalam mendidik. Seorang wanita bukan dihargai karena besarnya gaji yang diperoleh ketika bekerja. Bukan dari jabatan yang didapat dari gelar akademiknya, bukan itu semua. Namun, mereka dihargai dari kesuksesan menciptakan rumah tangga yang penuh keberkahan, salah satunya dalam keberhasilannya mendidik anak-anak yang shalih.

Itulah keagungan seorang ibu. Bahkan Rasulullah SAW dal hadis mengatakan bahwa bakti seorang anak kepada ibunya merupakan sebuah kemuliaan. Hingga seseorang bertanya "Wahai Rasul, siapakah orang yang paling berhak aku perlakuan dengan sebaik-baiknya?. Rasulullah menjawab  "ibumu, ibumu, dan ibumu" terucap hingga tiga kali setelah itu ayahmu.

Dengan demikian tugas menjadi ibu merupakan tugas yang mulia. Terdapat banyak peluang pahala untuk seorang ibu dalam mengatur rumah tangga dan mendidik anaknya. Mendidik anak-anak agar memiliki kemampuan baik dalam  aqliyah (pemikiran) dan Nafsiyah (tingkah laku) agar sesuai dengan al-Quran dan Sunnah. Bukan semata kemampuan akademik, seputar nilai, peringkat kelas dan siswa prestasi saja yang menjadi harapan ayah dan ibu saat menyekolahkan anaknya. Melainkan peran ukhrawi sehingga anak akan menjadi investasi akhirat dan menjadikan wasilah / perantara ayah dan ibunya  menuju surga Allah SWT.

Terlebih peran negara dalam menjalankan tugas pendidikan kepada warganya. Mendidik dan membekali ilmu kepada perempuan hingga perguruan tinggi bukan sebatas untuk memoles keuntungan fantastis dalam dunia ekonomi seperti saat ini. Peran seorang perempuan menjadi istri dan ibu di rumahnya juga membutuhkan ilmu. Negara butuh mengedukasi masyarakat agar menjadikan keluarga adalah lembaga pendidikan pertama dan utama. Karena sebuah peradaban yang agung memerlukan generasi yang kuat keimanan dan keilmuannya. Menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada sekolah dan lembaga lainnya adalah sebuah pelanggaran. Dikarenakan  meniadakan peran keluarga khususnya ibu sebagai "madrasatul ula" di rumahnya.

Islam menanamkan dalam diri para ibu tentang tugas penting mereka sebagai  madrasatul ula dan pengasuh anak-anak mereka. Atas dasar keimanan,  peran ibu dilakukan dengan kesungguhan, penuh tanggung jawab dan kasih sayang. Bingkai hukum Syariah melengkapi peran ibu yang begitu Istimewa yaitu menciptakan keluarga yang sakinah mawadah warahmah dan generasi emas.

Dalam Pandangan Islam,  rasa hormat yang besar pantas diberikan terhadap peran ibu dan posisi pentingnya dalam kehidupan keluarga dan masyarakat dijaga di bawah kekuasaan Islam, hal ini berpengaruh dalam membentuk pola pikir warga negara. Maka peran vital ibu ini adalah kemuliaan dan kehormatan bagi perempuan. Status ibu yang tak tertandingi ini dinikmati di bawah Islam terus sepanjang sejarah Khilafah. Dalam Khilafah Utsmani misalnya, peran strategis ibu meningkatkan posisi perempuan dalam masyarakat dan para ibu dihormati dan diperlakukan dengan sangat hati-hati oleh anak-anak mereka. Sebagai balasannya, para ibu menghujani anak-anak mereka dengan cinta dan kasih sayang yang sangat besar.
Zayn al-Abidin, ulama terkenal lainnya, pernah ditanya, “Kamu adalah orang yang paling baik kepada ibunya, namun kami belum pernah melihat kamu makan bersamanya dari satu hidangan.” Dia menjawab, “Saya takut tangan saya akan mengambil makanan yang matanya sudah melihat itu di piring, dan kemudian aku akan tidak mematuhinya.”

“Ciri yang begitu indah dalam karakter Muslim Turki Utsmani adalah rasa takzim dan hormat mereka terhadap ibu, kasih sayang mereka; diperhatikan, diakui, didengarkan dengan rasa hormat dan keseganan, dimuliakan untuk waktu yang telah dilalui dan dikenang dengan kasih sayang dan penyesalan di balik makam.” Dari ‘Kota Sultan dan Tata Krama Orang Turki pada tahun 1836’ oleh Julia Pardoe, Penyair Inggris, Sejarawan, dan Traveller

Jadi di masa waktu belajar dirumah bagi para siswa sekolah semenjak adanya wabah virus corona membuat semakin dekat hubungan antara ibu dan anak. Intensitas waktu yang tercurah sampai Juni mendatang bisa menjadi kegiatan belajar yang menyenangkan bersama ibu. Mengembalikan peran ibu dalam mendidik anak perlu dilakukan agar terwujudnya generasi gemilang. Generasi yang mencintai ibunya dengan sepenuh jiwa karena ibu nya pula yang mendidik dengan penuh kasih sayang. 

Previous Post
Next Post

post written by:

Cerdaskan Umat, Raih Kebangkitan!

0 Comments: