Pemerintah Plin-Plan Danai Wabah Corona

Pemerintah Plin-Plan Danai Wabah Corona




Oleh : Iin. S, SP

Saat ini lebih dari 200 negara terjangkit virus covid-19. Tentu saja virus ini mempengaruhi berbagai macam aspek termasuk pertumbuhan ekonomi yang semakin menurun.

Di tengah wabah, IMF menawarkan diri memberikan pinjaman hutang kepada negara-negara berkembang guna menangani kasus Corona. DPR dan para pengamat meminta pemerintah tidak mengambil tawaran dana IMF dan mendorong menggunakan dana lain. Dikhawatirkan bantuan dari dua lembaga keuangan ditengah wabah menjadi hutang yang kian menumpuk di kemudian hari.

Dalam Republika.co.id, Misbakhun menyatakan "Saya minta Menteri Keuangan RI jangan menggunakan bantuan IMF dan World Bank untuk menanggulangi Covid-19,” Rabu (25/3).

Menurut Misbakhun, Negara bisa mengeluarkan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang merupakan akumulasi Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan (SILPA) yang  disisihkan oleh pemerintah sebagai dana abadi (endowment fund) untuk keperluan cadangan, dana dari pungutan bea ekspor sawit (levy) di Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), dana lingkungan hidup di Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH), Dana Riset Perguruan Tinggi, dana dari  Surat Utang Negara (SUN), Dana APBN yang ada BA99 yang dikelola oleh Menteri Keuangan.

Di luar itu juga ada dana milik Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang jumlahnya Rp 150 triliun. Pemerintah bisa meminjam dana milik LPS untuk cadangan darurat bila ada keperluan mendadak. Dari  devisa (cadev). Saat ini Bank Indonesia mengelola cadev sebesar 130 miliar dollar AS. “Pemerintah cukup menerbitkan open end SUN agar dibeli BI dengan bunga di bawah lima persen. Kalau pemerintah menerbitkan SUN senilai USD 20 miliar saja, dengan kurs dolar AS setara Rp 16.800 saja akan memperoleh dana Rp 336 triliun, jumlah yang sangat besar dan memadai untuk menanggulangi Covid-19.

Sistem Kapitalisme Hanya Berorientasi Kepada Keuntungan

 Dalam menangani kasus virus covid-19 Pemerintah masih plin-plan dalam mengeluarkan dana untuk mengatasi wabah yang terjadi. Pemerintah masih perhitungan  untung-rugi dalam membantu rakyat, hal ini sudah biasa dalam sistem kapitalisme karena tolok ukurnya hanyalah materi.  Mereka lebih mementingkan ambisi  untuk meraup keuntungan dari proyek pembangunan infrastruktur dan pemindahan ibu kota. Padahal kepentingan rakyat jauh lebih penting  ketimbang urusan pemindahan ibu kota maupun infrastruktur.

Justru pemerintah mencari alternatif lain, yakni dengan melakukan  penggalangan dana dari para pengusaha dan orang - orang kaya yang nantinya akan disumbangkan kepada masyarakat yang terdampak Corona. Namun dari optimasi penggalangan dana yang dimungkinkan memang masih belum mengcover kebutuhan besar penanganan wabah. 

Indonesia di anugrahi sumber daya alam yang sangat melimpah oleh sang pencipta. Termasuk emas, tembaga, nikel, timah dan sebagainya.  Sumber daya alam tersebut sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh rakyat, maupun dalam mengatasi jika terjadi wabah penyakit seperti sekarang.  Tapi sayangnya kekayaan alam ini diambil secara paksa oleh asing dan Aseng. Rakyat bagaikan tikus yang mati di lumbung padi, makanan melimpah ruah di depan mata tapi tidak mampu menikmatinya.

Islam Dalam Mengatasi Krisis Ketika Terjadi Wabah

Dalam khilafah tidak akan terjadi krisis manajemen dan kepemimpinan dalam menghadapi wabah, karena khilafah sebagai pemimpin mempunyai kuajiban dalam mengurus dan meriayah rakyatnya. Khilafah bertanggung jawab penuh untuk menjamin pendidikan, kesehatan, keselamatan maupun keamanan. Baik itu muslim maupun non muslim. 

Islam adalah negara yang mandiri tidak akan bergantung kepada negara kafir, apabila terjadi krisis maka Khalifah akan mengeluarkan dana dari Baitul mall baik dari jalur fa'i maupun kharaj yang digunakan sebagai supplay kebutuhan logistik warga terdampak wabah. Dari jalur ini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan logistik.

Pemimpin dalam negara  khilafah akan selalu sigap saat menangani krisis, seperti yang telah dicontohkan oleh Khalifah Umar Bin Khattab. 

Khalifah Umar ra., ketika krisis ekonomi, memberi contoh dengan cara berhemat dan  hidup sederhana. Dengan itu beliau bisa merasakan bagaimana penderitaan yang dialami oleh rakyatnya. Beliau kemudian segera mengeluarkan kebijakan untuk menanggulangi krisis ekonomi secara cepat, tepat dan komprehensif. Untuk mengoptimalisasi keputusannya, Khalifah segera mengerahkan seluruh struktur, perangkat negara dan semua potensi yang ada untuk segera membantu masyarakat yang terdampak.

Dalam buku The Great leader of Umar bin Khathab, Kisah Kehidupan dan Kepemimpinan Khalifah Kedua, diceritakan bahwa Khalifah Umar ra. langsung memerintahkan untuk membuat posko-posko bantuan. Diriwayatkan dari Aslam:
Pada tahun kelabu (masa krisis), bangsa Arab dari berbagai penjuru datang ke Madinah. Khalifah Umar ra. menugaskan beberapa orang (jajarannya) untuk menangani mereka. Suatu malam, saya mendengar beliau berkata, “Hitunglah jumlah orang yang makan malam bersama kita.”

Orang-orang yang ditugaskan pun menghitung orang-orang yang datang. (Ternyata) berjumlah tujuh puluh ribu orang. Jumlah orang-orang sakit dan yang memerlukan bantuan  sebanyak empat ribu orang. Selang beberapa hari, jumlah orang yang  datang dan yang memerlukan bantuan mencapai enam puluh ribu orang. Tidak berapa lama, Allah mengirim awan. Saat hujan turun, saya melihat Khalifah Umar ra. menugaskan orang-orang untuk mengantarkan mereka ke perkampungan dan memberi mereka makanan dan pakaian ke perkampungan. Banyak terjadi kematian di tengah-tengah mereka. Saya melihat sepertiga mereka mati. Tungku-tungku Umar sudah dinyalakan para pekerja sejak sebelum subuh. Mereka menumbuk dan membuat bubur.

Dari sini kita bisa membayangkan betapa berat kondisi waktu itu. Dengan situasi dan kondisi saat peralatan dan sarana-prasarana tidak semodern seperti sekarang, Khalifah Umar ra. harus mengurus, mengelola dan mencukupi rakyatnya yang terkena dampak krisis ini. Sungguh angka yang sangat fantastis pada saat itu. Kerja berat dilakukan dan dilalui oleh Khalifah Umar ra. sebagai bentuk tanggung jawabnya melayani urusan rakyatnya.

Dengan situasi di atas, kita pun bisa tahu, bagaimana Al-Faruq membagi tugas kepada para perangkat negara di bawah beliau hingga level pekerja, bahu-membahu dan sigap menyelesaikan persoalan yang ada. Khalifah Umar ra. tidak berpangku tangan, Beliau langsung turun tangan mengkomando dan menangani krisis tersebut. Beliau langsung memerintahkan mendirikan posko untuk para pengungsi, memastikan setiap petugas memahami pekerjaan yang dilimpahkan dengan benar tanpa kekurangan secara langsung dan tidak mengerjakan pekerjaan petugas lain yang diberikan pada yang lain.

Khalifah Umar ra. langsung menugaskan beberapa orang di berbagai penjuru Madinah untuk memantau kondisi rakyat yang berkumpul mencari rezeki di sekitar mereka karena kemarau dan kelaparan yang menimpa mereka. Mereka bertugas membagikan makanan dan lauk-pauk. Sore hari, orang-orang yang ditugaskan berkumpul bersama Umar melaporkan peristiwa yang terjadi. Beliau lalu memberikan pengarahan kepada mereka.

Khalifah Umar ra. memberi makanan kepada orang-orang badui dari Dar ad-Daqiq, sebuah lembaga perekonomian yang berada pada masa pemerintahan Umar. Lembaga ini bertugas membagi tepung, mentega, kurma dan anggur yang berada di gudang kepada orang-orang yang datang ke Madinah sebelum bantuan dari Mesir, Syam dan Irak datang. Dar ad-Daqiq kian diperbesar agar bisa membagi makanan kepada puluhan ribu orang yang datang ke Madinah selama sembilan bulan, sebelum hujan tiba dan memberi penghidupan.

Apa yang dilakukan oleh Khalifah Umar ra. di atas menunjukkan kecerdasan beliau  dalam membuat keputusan, mengatur dan mengelola seluruh struktur pemerintahan di bawahnya sehingga bisa cepat, sigap dan tuntas dalam melayani krisis ekonomi. Lembaga-lembaga pemerintahan yang langsung berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan rakyat, baik yang bergerak dalam bidang finansial atau yang lainnya, langsung diminta bergerak cepat. Khalifah sendiri yang bekerja dalam posko-posko tersebut, memastikan semua berjalan optimal.

Untuk layanan kesehatan masyarakat yang terdampak wabah dapat menggunakan subsidi yang berasal dari hasil pengelolaan sumber daya alam, yang merupakan harta kepemilikan umum yang dikelola secara mandiri sesuai syariat. Inilah mekanisme pendanaan saat wabah terjadi dalam negara khilafah.

Wabah yang terjadi di negeri ini akan segera teratasi dengan baik, karena rakyat akan terjamin keselamatan dan kesejahteraannya apabila negara mau menerapkan Islam secara kaffah, dalam naungan Khilafah Islam. Wallahu alam.
Previous Post
Next Post

post written by:

Cerdaskan Umat, Raih Kebangkitan!

0 Comments: