Penguasa Bermental Pengusaha

Penguasa Bermental Pengusaha


oleh : Eva (Komunitas Tinta Pelopor)
Perhatian umat manusia di seluruh dunia saat ini tertuju pada virus corona yang mewabah di banyak negara. Sejak ditemukannya kasus wabah Corona di Tiongkok tepatnya di kota Wuhan pada sekitar bulan Nopember - Desember 2019, Lembaga WHO (World Health Organization), sebagai Badan Kesehatan Dunia, menyatakan bahwa virus Corona atau COVID-19 (Coronavirus Desease 2019) merupakan pandemi yang telah merenggut nyawa ribuan orang. Media-media massa memberitakan 24 jam terus menerus mengenai perkembangan kasus virus Corona itu. Tanggapan mengenai fenomena corona bermunculan dari berbagai kalangan, mulai dari pemerintah, ilmuwan dan bahkan agamawan. Kemajuan sains ditantang untuk mengatasi dan menemukan obatnya, sedangkan otoritas keagamaan pun dituntut untuk dapat memberikan respon akurat dalam menghadapi permasalahan global tersebut.
Tepat awal bulan Maret lalu pasca di umumkannya kasus Covid-19 pertama di Indonesia. Semakin hari semakin banyak jumlah korban yang kian bertambah, baik ODP, PDP bahkan yang meninggal. Dikutip dari laman CNN Indinesia per 14 April 2020 total kasus Covid-19 yang tercatat sebesar 4.839 kasus positif,  459 meninggal. Bahkan para tenaga medis pun juga sudah  banyak yang menjadi korbannya. Sampai saat ini kasus sudah menyebar hampir di seluruh provinsi di Indonesia. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah diantaranya menerapkan sosial distancing alias dirumah aja, physical distancing (menjaga jarak dengan orang lain), karantina wilayah, darurat kesehatan dan yang terakhir diterapkannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
Alih-alih gerak cepat dan tegas,upaya pemerintah dalam menangani terkesan lamban dan kurang serius. Khususnya untuk para tenaga medis  yang menangani Covid-19 ini dibutuhkan persiapan diri alias senjata untuk melawan. Perlu di ingat, wabah ini disebabkan oleh virus. Makhluk kecil yang tak kasat mata dipandang oleh manusia tetapi proses penyebarannya begitu sangat cepat. Maka dibutuhkan perlengkapan yang memadai dan standar seperti Alat Pelindung Diri (APD). Tentu masih ingat di medio awal tahun 2020 lalu, saat merebak kasus Covid-19 pertama kali bagaimana negara kita mengekspor besar-besaran APD (Alat Pelindung Diri) ke China.
Faktanya, saat ini yang terjadi justru sebaliknya. Kita mengimpor besar-besaran APD dari negeri Cina yang anehnya itu adalah buatan anak negeri kita alias “Made in Indonesia”. Menurut Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Agus Wibowo mengatakan. APD itu memang dibuat di Indonesia, namun pemilik produknya tetap pihak luar negeri. (dikutip CNBC, 26/3/2020).
Di tengah upaya penanganan kasus ini, Jiwa kewirausahaan, mental kapitalis sepertinya sudah mendarah daging dalam rezim ini. Hal itu terlihat dari Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati yang menyatakan bahwa Indonesia punya peluang untuk menyuplai alat pelindung diri (APD) dan hand sanitizer bagi negara lain yang tengah dilanda pandemi virus corona. Alasannya, Indonesia punya pabrik dan infrastruktur untuk memproduksi barang yang kini dibutuhkan dunia itu. Hal itu disampaikannya setelah mendampingi Presiden Jokowi mengikuti Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa (KTT LB) G-20, di Istana Bogor. Mantan direktur pelaksana World Bank itu menambahkan, negara-negara dunia saat ini sangat membutuhkan APD, test kit Covid-19, dan ventilator. “Seperti yang terjadi di semua negara yang sekarang ini terjadi, apakah di Italia, Eropa secara keseluruhan, Inggris, Amerika, di Indonesia dan di negara-negara lain, semuanya mengalami kekurangan alat-alat kesehatan," kata Sri Mulyani. Untuk menjaga rantai pasok akan produk itu, Dana Moneter Internasional (IMF) dan World Bank akan memberikan dukungan agar perusahaan yang bisa menghasilkan APD bisa mendapatkan prioritas sokongan. "Sehingga suplai alat kesehatan seluruh dunia bisa ditingkatkan. Nah ini juga salah satu termasuk Indonesia kesempatan, karena beberapa seperti alat pelindung diri, Indonesia memiliki kapasitas untuk menyuplai, termasuk hand sanitizer, dan lain-lain," kata dia. (dilansir jpnn.com 27/Maret/2020).
Ibarat memancing di air keruh, betapa  tidak, di tengah keterbatasan dalam menangani para korban Covid-19, kalau memang kita mampu memproduksi APD sendiri sebab memiliki industri pembuatannya, mengapa APD di Indonesia keberadaannya sangat langka ? Dan mengapa harus impor jika sekarang mau ekspor ?
Dari sini, kita bisa lihat bagaiamana posisi Indonesia sangat lemah dan tak berdaya dibawah tekanan dari pihak asing sehingga tidak bisa menyetop komitmen ekspor APD ke Korsel misalnya, meskipun di dalam negeri membutuhkan namun produksinya lebih diprioritaskan untuk ekspor yang mendatangkan devisa. hal ini menegaskan bahwa pemerintah tidak berposisi riayah, tapi lebih menempatkan diri sebagai pebisnis yang melihat dengan kaca mata untung rugi. Lantas, bagaimana solusi yang bisa kita harapkan dari kondisi saat ini ?
Penguasa harusnya hadir sebagai pelindung,pemelihara dan bertanggung jawab penuh atas segala urusan rakyatnya layaknya seorang ibu yang memastikan setiap kebutuhan anaknya sejak mulai makan, pakaian, minum, pendidikannya, kesehatannya hingga bermainnya. Sebab tahu dan sadar, anak adalah amanah. Korban semakin berjatuhan tak juga membuat penguasa besar perhatiannya kepada sesegera mungkin mencari solusi tuntas dari pandemi secara tersistem. Desakan para tenaga medis, ulama, pengusaha hingga rakyat tak juga menggetarkan hati sehingga mampu merubah kebijakan darurat sipil menjadi Lockdown. Padahal, di dalam Islam, nyawa 1 orang muslim sangatlah berharga. 
Islam selalu menunjukkan keunggulannya sebagai agama sekaligus ideologi yang lengkap. Islam mengatur semua hal dan memberikan solusi atas segenap persoalan. Hanya Islam yang menjamin rakyat dapat hidup dengan tenang dan diayomi dengan baik. Dalam Islam masalah kesehatan serta kebutuhan pokok adalah suatu hal yang dijamin oleh negara. Maka semua kesedihan yang kita alami saat ini tak akan terjadi jika sistem Islam diterapkan. Islam telah terlebih dahulu dari masyarakat modern membangun ide karantina untuk mengatasi wabah penyakit menular. Dalam sejarah, wabah penyakit menular pernah terjadi pada masa Rasulullah saw. Wabah itu ialah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Untuk mengatasi wabah tersebut, salah satu upaya Rasulullah saw. adalah menerapkan karantina atau isolasi terhadap penderita. Ketika itu Rasulullah saw. memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat para penderita kusta tersebut. Beliau bersabda:
‏ لاَ تُدِيمُوا النَّظَرَ إِلَى الْمَجْذُومِينَ
Janganlah kalian terus-menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta (HR al-Bukhari).
Dengan demikian, metode karantina sudah diterapkan sejak zaman Rasulullah saw. untuk mencegah wabah penyakit menular menjalar ke wilayah lain. Untuk memastikan perintah tersebut dilaksanakan, Rasul saw. membangun tembok di sekitar daerah yang terjangkit wabah. Peringatan kehati-hatian pada penyakit kusta juga dikenal luas pada masa hidup Rasulullah saw. Abu Hurairah ra. menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, “Jauhilah orang yang terkena kusta, seperti kamu menjauhi singa.” (HR al-Bukhari). Rasulullah saw. juga pernah memperingatkan umatnya untuk jangan mendekati wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya, jika sedang berada di tempat yang terkena wabah, mereka dilarang untuk keluar. Beliau bersabda:
إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا
Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninginggalkan tempat itu (HR al-Bukhari).
Dikutip dalam buku berjudul, Rahasia Sehat Ala Rasulullah saw.: Belajar Hidup Melalui Hadis-hadis Nabi karya Nabil Thawil, pada zaman Rasulullah saw., jika ada sebuah daerah atau komunitas terjangkit penyakit Tha’un, beliau memerintahkan untuk mengisolasi atau mengkarantina para penderitanya di tempat isolasi khusus. Jauh dari pemukiman penduduk. Ketika diisolasi, penderita diperiksa secara detail. Lalu dilakukan langkah-langkah pengobatan dengan pantauan ketat. Para penderita baru boleh meninggalkan ruang isolasi ketika dinyatakan sudah sembuh total. Pada masa Kekhalifahan Umar bin al-Khaththab juga pernah terjadi wabah penyakit menular. Diriwayatkan:
أَنَّ عُمَرَ خَرَجَ إِلَى الشَّأْمِ. فَلَمَّا كَانَ بِسَرْغَ بَلَغَهُ أَنَّ الْوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّأْمِ، فَأَخْبَرَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ‏ ‏إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْه‏.
Khalifah Umar pernah keluar untuk melakukan perjalanan menuju Syam. Saat sampai di wilayah bernama Sargh, beliau mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengabari Umar bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meningggalkan tempat itu.” (HR al-Bukhari).
Oleh karena itu, penguasa hari ini memiliki peran sentral untuk menjaga kesehatan warganya. Apalagi saat terjadi wabah penyakit menular. Tentu rakyat butuh perlindungan optimal dari penguasanya. Sudah saatnya kita kembali kepada sistem yang memanusiakan manusia yaitu Syariah Islam secara Kaffah.
 Wallahu’alam bish showab
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: