Ancaman  Kelaparan Meningkat di Tengah Wabah

Ancaman Kelaparan Meningkat di Tengah Wabah



Oleh : Haryani S.Pd (Praktisi Pendidikan Muara Enim)

Tahun 2020 adalah tahun dimana setiap orang dari desa ke kota hingga setiap negara, yang berilmu maupun yang tidak berilmu, semuanya merasakan ketakutan beralasan. Baik untuk mempertahankan nyawanya ataupun ekonominya.

Dunia menjadi getir dengan kedatangan tamu tak diundang berupa virus menular mematikan. Covid-19 berhasil membuat seluruh dunia guncang dengan memberikan dampak yang luar biasa dalam berbagai hal seperti sosial, spritual, kesehatan, dan yang paling berdampak besar adalah goncangan perekonomian dunia, tanpa tebang pilih dari pengusaha kelas kakap hingga rakyat jelata harus merasakannya, tak terkecuali rakyat bangsa Indonesia.

Apalah daya rakyat jelata yang mengandalkan makan dari pendapatan sehari-hari, posisi mereka bagaikan Buah Simalakama. Keluar untuk mencari nafkah takut terancam mati karena virus tersebut, namun tidak keluar rumah pun terancam mati karena kelaparan. Rakyat jelata yang sudah bekerja selama ini pun masih ada yang kelaparan, apalagi ditambah dengan aturan tidak diperbolehkan keluar rumah.

Sebagaimana pengalaman saya selaku guru ngaji di daerah Muara Enim, Sumsel. Ada wali murid yang mendatangi saya sambil bercucuran air matanya. Ia meminta maaf belum bisa membayar iuran ngaji anaknya. Beliau sendiri adalah tukang ojek yang ikut merasakan dampak wabah Covid-19. Hati saya rasanya teriris. Bukan karena beliau tak mampu bayar iuran, tapi karena betapa sulitnya kehidupan saat ini bagi rakyat jelata.

Aturan pemerintah terkait #dirumahaja semestinya berjalan efektif untuk memutus rantai penularan wabah Covid-19. Namun ketika tidak adanya jaminan pemenuhan kebutuhan dasar pangan rakyat, maka aturan tersebut akan memunculkan masalah baru. Contohnya saja begal dan rampok semakin merajalela, ada juga seorang Ibu yang mati kelaparan setelah 3 hari tidak makan.

Rakyat hanya berharap pada negara, namun hasilnya nihil. Negara abai terhadap pemenuhan kebutuhan rakyatnya. Jangankan rakyat, pemerintah daerah pun pusing dibuatnya, karena penyaluran bantuan dana Covid-19 yang cenderung berbelit-belit dan tak tau arahnya. Bahkan untuk Alat Pelindung Diri (APD) para tenaga kesehatan pun belum memadai.

Abainya negara terhadap rakyat adalah dampak dari penerapan sistem kapitalisme. Bagaimana tidak, semua sumber pendapatan negara berupa air, tanah, dan tambang sudah di kuasai kapitalis/swasta. Maka negara tidak memiliki kemampuan untuk menyediakan kebutuhan pangan rakyat karena memang tidak ada anggarannya.

Hal ini sangat berbeda dengan sistem kekhilafahan Islam. Pemerintah dalam Islam benar-benar mengutamakan urusan rakyatnya. Satu nyawa sangat berharga dan begitu dijaga oleh khalifah. Tak hanya rakyat muslim, namun rakyat non muslim yang menjadi warga Daulah Islam pun turut dijaga dan dijamin.

Wabah seperti ini pun pernah terjadi pada kekhalifahan Umar bin Khatab. Khalifah Umar menyerukan lockdown kepada rakyat di wilayah Syam. Dia pun menjamin ketersediaan pangan/kebutuhan bagi rakyat tersebut. Sehingga rakyat yang dilockdown tak perlu keluar dari wilayahnya guna mencari naskah untuk memenuhi kebutuhan perut. Sehingga, dengan dorongan keimanan kepad Allah dan kecerdasan para pemimpin pada masa kejayaan Islam silam terhadap wabah yang menimpa mereka, wabah dapat dihentikan.

Karena itu tidak ada jalan lain untuk keluar dari persoalan ini, kecuali kita mencampakkan sistem kapitalisme. Kemudian kita menerapkan syariah Islam secara totalitas di bawah naungan khilafah. Hanya syariah Islam inilah yang mampu menjaga rakyat dan menjamin kesejahteraan rakyat tanpa pandang bulu, tidak melihat warna kulit, ras, suku, bangsa maupun agama. Karena dalam  kebijakan ekonomi Islam, negara menjamin pemenuhan kebutuhan, sandang, pangan, dan papan semua rakyat. Dengan izin alloh islam akan memimpi  dunia. Walahua'lam [sp]
Previous Post
Next Post

post written by:

1 komentar:

  1. Umat butuh khilafah,
    Semoga allah segera menurunkan pertolongan nya.
    Aamiin

    BalasHapus