Benarkah Agama adalah Konspirasi?

Benarkah Agama adalah Konspirasi?

Oleh: Rindoe Arrayah


       Salah satu drummer dan musisi tanah air, Jerinx SID  baru-baru ini melontarkan pernyataan yang dinilai telah melecehkan agama. Dalam wawancara sebuah program di Kompas TV beberapa waktu lalu, ia mengatakan bahwa agama adalah konspirasi.

Jerinx SID menyebutkan bahwa tidak ada sains dan data faktual mengenai agama yang ada di muka bumi. Rupanya pernyataan drummer Superman Is Dead tersebut menuai kontroversi di tengah-tengah masyarakat (WowKeren.com, 8/5/2020).

"Masyarakat Indonesia percaya sama agama enggak mayoritas? Saya berani bilang agama itu salah satu teori konspirasi juga. Karena tidak ada bukti sains," ucap Jerinx dilansir dari Kompas TV (Wartakotalive.com, 8/5/2020).


       Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) konspirasi memiliki arti  komplotan; persekongkolan.


       Teori persekongkolan atau teori konspirasi (dalam bahasa Inggris, conspiracy theory) adalah teori-teori yang berusaha menjelaskan bahwa penyebab tertinggi dari satu atau serangkaian peristiwa (pada umumnya peristiwa politik, sosial, atau sejarah) adalah suatu rahasia, dan sering kali memperdaya, direncanakan diam-diam oleh sekelompok rahasia orang-orang atau organisasi yang sangat berkuasa atau berpengaruh. Banyak teori konspirasi yang mengklaim bahwa peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah telah didominasi oleh para konspirator belakang layar yang memanipulasi kejadian-kejadian politik. Dengan kata lain menjadikan sesuatu sebagai alternatif demi mencapai tujuan yang telah dirancang (Wikipedia.org).

Membaca definisi di atas tentang konspirasi, tampak bahwa agama tidak bisa dijadikan sebagai bagian salah satu didalamnya. Oleh karenanya, merupakan suatu pendapat yang tidak benar yang telah terlontar dari lisan Jerinx SID.

Ustadz Derry Sulaiman angkat bicara perihal pernyataan Jerinx tentang agama adalah konspirasi demikian pada chanel Video Legend (12/05/2020). 



"Ciri-ciri orang beriman apa? bagaimana ciri ciri orang beriman. 'sesungguhnya orang beriman percaya kepada perkara yang tidak tampak', karena agama ini hanya untuk orang-orang yang berakal, orang yang rusak akalnya dia tidak akan mengerti agama." ucap Ustadz Derry. 



Ustadz Derry pun berpesan untuk tidak ikut-ikut perkataan orang-orang jahil, orang-orang yang mengatakan agama adalah teori konspirasi. Agama adalah wahyu dari Allah SWT yang dihantarkan Jibril AS berturut-turut, beriringan dari Adam AS sampai Rasulullah SAW. 



Senada dengan Ustadz Derry Sulaiman,  Ustadz Felix Siauw juga memberikan jawaban seputar tuduhan agama adalah konspirasi  Menurut Felix Siauw, ucapan Jerinx soal agama itu konspirasi adalah omong kosong. Sebab, sang musisi dinilai tak bisa juga membuktikan bahwa Tuhan tak ada.



"Secara sederhana kalau ada orang mengatakan Tuhan adalah sebuah konspirasi, agama itu menjadi bagian dari konspirasi hanya karena mereka tidak bisa membuktikan adanya Tuhan atau benarnya agama secara mereka sendiri, mereka tidak bisa membuktikan Tuhan dan agama itu ada dengan bukti-bukti sains, maka dengan cara yang sama kita juga bisa sampaikan bahwa orang kayak begini mungkin juga nggak punya otak," ujarnya di channel YouTube.




Bagi Felix, tidak semua hal bisa dibuktikan secara sains. Agama merupakan salah satu contohnya.




"Jadi tidak semua hal yang tidak bisa dibuktikan secara sains itu tidak ada, itu pertama. Kalau anda mengatakan Tuhan nggak ada, alasannya karena nggak ada bukti Tuhan itu ada. Maka anda tidak bisa menyimpulkan begitu sampai anda mencari bukti bahwa memang tidak ada," tuturnya.



Felix Siauw menyebut agama bisa dibuktikan dengan metode rasional. Dalam Islam, katanya, sudah banyak tertulis bukti nyata terkait keberadaan Tuhan lewat Alquran.



"Kalau kita mau membuktikan sesuatu tidak bisa harus metode sains, tapi bisa kita capai dengan metode rasional dan ini yang bisa kita pakai lewat agama. Kalau kita bicara soal Islam, ini lebih tinggi lagi. Islam di Alquran beratus-ratus kali meminta manusia berpikir menggunakan akal agar dia bisa dapat agama. Sebaliknya Islam mengkritik bahkan mengatakan bahwa penghuni neraka itu adalah orang-orang yang nggak pakai akalnya atau orang-orang yang mengira dia pakai akalnya," ucapnya.



Pria mualaf ini mengajak semuanya untuk berpikir bahwa yang terjadi di dunia tidak mungkin terjadi mendadak. Tuhan disebutnya telah menunjukkan keberadaannya.



"Dari awal Allah meminta kita untuk berpikir bahwa semuanya ini menunjukkan kepada anda bahwa tidak mungkin semuanya terjadi secara sia-sia, tidak mungkin terjadi secara tiba-tiba, pasti akan ada Tuhan yang di situ anda bisa buktikan, anda bisa lihat dan saksikan dihadapan anda. Islam senantiasa dari awal menggugah pemikiran manusia dengan menghadirkan ratusan ayat untuk kita berpikir," katanya.



Potret Buram Demokrasi dengan Ide Kebebasan


       Demokrasi yang diterapkan menjadi aturan kehidupan saat ini telah membentuk pola pikir dan pola sikap yang amburadul terhadap pribadi masyarakat. Prinsip kebebasan berpendapat dalam demokrasi menjadikan sebagian masyarakat begitu bebasnya bersuara tanpa peduli melukai perasaan umat. 

Dalam demokrasi terdapat kekacauan agama dan akhlak, dengan dalih kebebasan dan persamaan—yang dusta—antara yang hak dan yang batil. Demokrasi justru mengunggulkan yang batil daripada kebenaran, mengunggulkan kekafiran dan kesyirikan daripada tauhid dan iman. Bahkan, mereka berusaha serius untuk menghabisi tauhid dan iman serta yang mengikuti keduanya.

 
Di antara ajaran Islam yang mengatur ucapan adalah firman Allah SWT,


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١


“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalanamalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Al-Ahzab: 70—71)

 
Perhatikan firman Allah SWT (yang artinya), “Dan ucapkanlah ucapan yang tepat.” Perhatikan pula dalam ayat di atas perintah yang mengatur ucapan. Ini bertolak belakang dengan kekacauan yang ada dalam kancah demokrasi. Orang diperbolehkan mengucapkan dan melakukan semaunya dengan alasan kebebasan berpendapat, walaupun itu adalah celaan dan cemoohan terhadap para nabi.


Nabi SAW bersabda,


        مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ


”Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diamlah.” (HR. Muslim no. 47)
 
Beliau SAW bersabda pula,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

”Sungguh, seorang hamba mengatakan sebuah kalimat yang tidak begitu dia pahami konsekuensinya, ternyata menyebabkan dia terjun ke neraka lebih jauh daripada jarak antara timur dan bara,.” (HR. Muslim no. 2988).

 
Makna sabda Nabi SAW, “Seorang hamba mengatakan sebuah ucapan yang tidak begitu dia pahami konsekuensinya,” adalah ia tidak memahami benar ucapannya serta tidak memikirkan keburukannya dan tidak takut akibatnya. 


Atau maknanya adalah kalimat yang mencelakakan seorang muslim atau yang semacam itu. Ini semuanya terkandung padanya demi menjaga ucapan. Nabi SAW juga melarang qila wa qala (mudah menerima dan menukil berita), serta banyak bertanya. Beliau SAW juga memerintahkan agar lisan dijaga dan ditahan.

       Telah nyata adanya, betapa demokrasi dengan kebebasan pendapatnya justru semakin menyesatkan aqidah umat. Sistem yang rusak dan merusak ini sangat tidak layak untuk diterapkan sebagai landasan bagi pengaturan kehidupan, karena tidak akan pernah bisa mengantarkan umat menuju kebangkitan yang hakiki.


Benarkah Agama adalah Konspirasi?


       Islam adalah sebuah risalah paripurna dan sempurna yang telah diturunkan oleh Allah SWT kepada utusan-Nya, Nabi Muhammad SAW. Tidak ada sedikit pun konspirasi yang terjadi dalam perumusannya. Menjadi muslim menuntut bukti keimanan yang telah terpatri di dalam hati.

Iman adalah keyakinan yang dibenarkan oleh hati dan diterima oleh akal, dibuktikan secara lisan juga perbuatan. keimanan haruslah bulat, tidak boleh setengah-setengah, harus 100%, tidak bisa kurang sedikitpun.


Adapun dalil yang bisa menghasilkan keyakinan dengan yakin 100% dan berhasil membentuk aqidah adalah:



1. Dalil aqli; bukti yang dibawa akal, dan bukan bukti yang dipahami oleh akal. Yang dimaksud dengan bukti yang dibawa akal adalah bukti yang bisa dijangkau oleh akal, ketika bukti tersebut dihasilkan oleh akumulasi dari realitas, penginderaan, otak dan informasi awal. Misalnya, bukti bahwa al-Qur’an adalah kalam Allah adalah bukti yang dibawa oleh akal, bukan bukti yang dipahami oleh akal. Ini setelah realitas gaya bahasanya diindera oleh penginderaan manusia, lalu dibandingkan dengan gaya bahasa manusia, maka dari sana bisa disimpulkan bahwa al-Qur’an bukanlah kalam manusia, tetapi kalam Allah SWT.


2. Dali naqli; bukti yang dipahami oleh akal melalui proses penukilan. Misalnya, bukti bahwa di surga ada bidadari yang menjadi isteri manusia, yang selalu disucikan oleh Allah, adalah bukti yang dipahami oleh akal manusia melalui penukilan, bukan bukti yang dibawa oleh akal. Karena realitasnya hanya bisa dipahami, tetapi tidak bisa dijangkau oleh indera manusia.


       Agar manusia mendapatkan keimanan haruslah melalui proses berpikir, sebab pemikiranlah yang membentuk dan memperkuat mafahim (persepsi) terhadap sesuatu. Disamping itu, manusia selalu mengatur tingkah lakunya di dalam kehidupan ini sesuai mafahimnya terhadap kehidupan. Sebagai contoh, mafahim seseorang terhadap orang yang dicintainya dengan orang yang dibencinya akan membentuk perilaku yang berbeda-beda, begitu juga terhadap orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Jadi, tingkah laku manusia selalu berkaitan erat dengan mafahim yang dimilikinya. Dengan demikian bila kita hendak mengubah tingkah laku manusia yang rendah menjadi luhur, maka tidak ada jalan lain kecuali harus mengubah mafhumnya terlebih dulu. Dalam hal ini, Allah SWT berfirman:


Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka [TQS. Ar-Ra’d (13): 1]). 


Untuk mendapatkan mafahim yang benar tentang kehidupan maka perlu mewujudkan suatu pemikiran yang mendasar tentang kehidupan dunia sehingga terwujud mafahim yang benar tentang kehidupan tersebut. Namun, pemikiran seperti ini tidak akan melekat erat dan memberikan hasil yang berarti, kecuali apabila terbentuk dalam dirinya pemikiran tentang alam semesta, manusia, dan hidup; tentang Zat yang ada sebelum kehidupan dunia dan apa yang ada sesudahnya; disamping juga keterkaitan kehidupan dunia dengan Zat yang ada sebelumnya dan apa yang ada sesudahnya. Semua itu dapat dicapai dengan memberikan kepada manusia pemikiran menyeluruh dan sempurna tentang apa yang ada di balik tiga utama unsur tadi. Sebab pemikiran yang menyeluruh dan sempurna merupakan landasan berpikir (qa’idah al-fikriyah) yang melahirkan seluruh pemikiran cabang tentang kehidupan dunia. 



Memberikan pemikiran menyeluruh mengenai tiga unsur mendasar tadi, merupakan solusi fundamental pada diri manusia. Apabila solusi fundamental tadi teruraikan, maka terurailah berbagai masalah lainnya. Sebab, seluruh problematika kehidupan pada dasarnya merupakan cabang dari problematika pokok tadi. Namun demikian, pemecahan itu tidak akan mengantarkan kita pada keimanan yang benar, kecuali jika pemecahan itu sendiri adalah benar, yaitu sesuai fitrah manusia, memuaskan akal dan memberikan ketenangan hati.



       Islam telah menuntaskan problematika pokok ini dan dipecahkan untuk manusia dengan cara yang sesuai dengan fitrahnya, memuaskan akal, serta memberikan ketenangan jiwa. Di tetapkannya pula bahwa untuk memeluk agama islam, tergantung sepenuhnya kepada pengakuan terhadap pemecahan ini, yaitu pengakuan yang betul-betul muncul dari akal. Oleh karena itu Islam dibangun di atas satu dasar, yaitu aqidah. Aqidah menjelaskan bahwa dibalik alam semesta, manusia, dan hidup, terdapat Pencipta (Al-Kholiq) yang telah menciptakan ketiganya, serta yang menciptakan segala sesuatu yang lainnya, Dialah Allah SWT. Bahwasannya Pencipta telah menciptakan segala sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Ia bersifat wajibul wujud, wajib adanya, sebab kalau tidak demikian, berarti Ia tidak mampu menjadi  Kholiq. Ia bukanlah makhluk, karena sifat-Nya sebagai Pencipta memastikan bahwa diri-Nya bukan makhluk. Pasti pula bahwa Ia mutlak adanya, karena segala sesuatu yang menyandarkan wujud atau eksistensinya kepada diri-Nya; sementara Ia tidak bersandar kepada apapun.



Bukti bahwa segala sesuatu mengharuskan adanya pencipta yang menciptakannya, dapat diterangkan sebagai berikut: bahwa segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh akal terbagi dalam tiga unsur, yaitu manusia, alam semesta, dan hidup. Tiga unsur ini bersifat terbatas, lemah, serba kurang, dan saling membutuhkan kepada yang lain. Misalnya, manusia tumbuh dan berkembang sampai pada batas tertentu yang tidak dapat dilampauinya lagi. Ini menunjukkan bahwa manusia sifatnya terbatas. Begitu pula halnya dengan hidup sifatnya terbatas, karena penampakkannya bersifat individual. Apa yang kita saksikan selalu menunjukkan bahwa hidup ini selalu berakhir pada satu individu saja. Jadi, hidup juga bersifat terbatas. Sama halnya dengan alam semesta yang memiliki sifat terbatas. Alam semesta merupakan himpunan dari benda-benda angkasa yang memiliki keterbatasan. Himpunan segala sesuatu yang terbatas, tentu terbatas pula sifatnya. Walhasil, manusia, hidup, dan alam semesta, ketiganya bersifat terbatas.  



Apabila kita melihat kepada segala sesuatu yang bersifat terbatas, akan kita simpulkan bahwa semuanya tidak azali. Jika bersifat azali (tidak berawal dan tidak berakhir), tentu tidak mempunyai keterbatasan. Dengan demikian segala sesuatu yang bersifat terbatas pasti diciptakan oleh "oleh sesuatu yang lain", "sesuatu yang lain" inilah yang disebut Al-Kholiq. Dialah yang menciptakan manusia, hidup dan alam semesta.



Dalam menentukan keberadaan Pencipta, akan kita dapati tiga kemungkinan.  Pertama, Ia diciptakan oleh yang lain. Kedua Ia menciptakan dirinya sendiri. Ketiga Ia bersifat azali dan wajibul wujud. Kemungkinan yang pertama bahwa Ia diciptakan oleh yang lain adalah kemungkinan yang batil, tidak dapat diterima oleh akal. Sebab, bila benar demikian, tentu Ia bersifat terbatas. Begitu pula dengan kemungkinan yang kedua, yang menyatakan bahwa Ia menciptakan diri-Nya sendiri, jika demikian berarti Dia sebagai makhluk dan kholiq pada saat bersamaan. Hal ini jelas tidak dapat  diterima. Oleh karena itu, Al-Kholiq harus bersifat azali dan wajibul wujud. Dialah Allah SWT.



Siapa saja yang mempunyai akal akan mampu membuktikan bahwa di balik  semua benda-benda yang dapat diinderanya, pasti terdapat Pencipta yang telah menciptakannya. Fakta menunjukkan bahwa semua benda itu bersifat serba kurang, sangat lemah, dan saling membutuhkan. Hal ini menggambarkan segala sesuatu yang ada hanyalah makhluk. Jadi untuk membuktikan adanya Al-Kholiq Yang Maha Pengatur, sebenarnya cukup dengan mengarahkan perhatian manusia terhadap benda-benda yang ada di alam semesta, fenomena hidup, dan diri manusia sendiri. 



Oleh karena itu, dalam Al-Qur’an terdapat ajakan untuk mengalihkan perhatian manusia terhadap benda-benda yang ada, seraya mengajaknya turut mengamati dan memfokuskan perhatian terhadap benda-benda tersebut dan segala sesuatu yang ada di sekelilingnya, atau yang berhubungan dengannya, agar dapat membuktikan adanya Allah SWT. Dengan mengamati benda-benda tersebut, bagaimana satu dengan yang lain saling membutuhkan, akan memberikan suatu pemahaman yang meyakinkan dan pasti, akan adanya Allah Yang Maha Pencipta lagi Maha Pengatur. Al-Qur’an telah membeberkan ratusan ayat yang berkenaan dengan hal ini, antara lain firman-firman Allah SWT:


Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda (ayat) bagi orang yang berakal [TQS. Ali Imran (3): 190].

(Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah diciptakan-Nya langit dan bumi serta berlain-lainnannya bahasa dan warna kulitmu [TQS. Ar-Rum (30): 2].

Apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan? [TQS. Al-Ghosyiyah (88): 17-20]. 

Banyak lagi ayat serupa lainnya, yang mengajak manusia untuk memperhatikan benda-benda yang ada di alam dengan seksama, dan melihat apa yang ada disekelilingnya maupun yang berhubungan dengan keberadaan dirinya. Ajakan itu untuk dijadikan petunjuk akan adanya Pencipta yang Maha Pengatur, sehingga imannya kepada Allah SWT menjadi iman yang mantap, yang berakal pada akal dan bukti yang nyata. 

Memang benar, iman kepada adanya Pencipta Yang Maha Pengatur merupakan hal yang fitri pada setiap manusia. Hanya saja iman yang fitri ini muncul dari perasaan yang berasal dari hati nurani belaka. Cara seperti ini bila dibiarkan begitu saja, tanpa dikaitkan dengan akal, sangatlah riskan akibatnya serta tidak dapat dipertahankan lama. Dalam kenyataannya, perasaaan tersebut sering menambah-nambah apa yang diimani, dengan sesuatu yang tidak ada hakikatnya. Bahkan ada yang mengkhayalkannya dengan sifat-sifat tertentu yang dianggap lumrah terhadap apa yang diimaninya. Tanpa sadar, cara tersebut justru menjerumuskannya ke arah kekufuran dan kesesatan. Penyembahan berhala, khurafat (cerita bohong) dan ajaran kebatinan, tidak lain merupakan akibat kesalahan perasaan hati ini. Islam tidak membiarkan perasaan hati sebagai satu-satunya jalan menuju iman. Hal ini dimaksudkan agar seseorang tidak menambah sifat-sifat Allah SWT dengan sifat yang bertentangan dengan sifat-sifat ketuhanan, atau memberi kesempatan untuk mengkhayalkan penjelmaan-Nya dalam bentuk materi, atau beranggapan bahwa untuk mendekatkan diri kepada-Nya dapat ditempuh melalui penyembahan benda-benda, sehingga menjurus ke arah kekufuran, syirik, khurafat, dan imajinasi keliru yang senantiasa ditolak oleh iman yang lurus. Oleh karena itu, Islam menegaskan agar senantiasa menggunakan akal disamping adanya perasaan hati. Islam mewajibkan setiap umatnya untuk menggunakan akal dalam beriman kepada Allah SWT, serta melarang bertaqlid dalam masalah aqidah. Untuk itulah Islam telah menjadikan akal sebagai timbangan dalam beriman kepada Allah SWT.


Dengan demikian setiap muslim wajib menjadikan imannya betul-betul dari proses berpikir, selalu meneliti dan memperhatikan serta senantiasa bertakhim (merujuk) kepada akalnya secara mutlak dalam beriman kepada (adanya) Allah SWT. Ajakan untuk memperhatikan alam semesta dengan seksama, dalam rangka mencari sunnatullah serta untuk memperoleh petunjuk agar beriman terhadap Penciptanya, telah disebut ratusan kali oleh Al-Qur’an dalam berbagai surat yang berbeda. Semuanya ditujukan kepada potensi akal manusia untuk diajak berpikir dan merenung, sehingga imannya betul-betul muncul dari akal dan bukti yang nyata. Disamping untuk memperingatkannya agar tidak mengambil jalan yang telah ditempuh oleh nenek moyangnya, tanpa meneliti dan menguji kembali sejauh mana kebenarannya. Inilah iman yang diserukan oleh Islam. Iman semacam ini bukanlah seperti yang dikatakan orang sebagai imannya orang-orang lemah, melainkan iman yang berpijak pada pemikiran yang cemerlang dan meyakinkan, yang senantiasa mengamati (alam sekitarnya), berpikir dan berpikir. Mulai pengamatan dan perenungannya akan sampai kepada keyakinan tentang adanya Allah Yang Maha Kuasa.



       Kendati wajib atas manusia menggunakan akalnya dalam mencapai iman kepada Allah SWT, namun tidak mungkin ia menjangkau apa yang ada di luar batas kemampuan indera dan akalnya. Sebab akal manusia terbatas. Terbatas pula kekuatannya sekalipun meningkat dan bertambah sampai batas yang tidak dapat dilampauinya, terbatas pula jangkauannya. Melihat kenyataan ini, maka perlu diingat bahwa akal tidak mampu memahami Zat Allah dan hakekat-Nya. Sebab, Allah SWT berada di luar tiga unsur pokok (alam semesta, manusia, dan hidup) tadi. Sedangkan akal manusia tidak mampu memahami apa yang ada di luar jangkauannya. Ia tidak mampu memahami Zat Allah, tetapi bukan berarti dapat dikatakan "Bagaimana mungkin orang dapat beriman kepada Allah SWT, sedang akalnya sendiri tidak mampu memahami Zat Allah?" Tentu  kita tidak mengatakan demikian, karena pada hakekatnya iman itu adalah percaya terhadap wujud Allah SWT, sedangkan wujudnya dapat diketahui melalui makhluk-makhluk-Nya, yaitu alam semesta, manusia dan hidup. Tiga unsur ini berada dalam batas jangkauan akal manusia. Dengan memahami ketiga hal ini, orang dapat memahami adanya Pencipta, yaitu Allah SWT. Oleh karena itu, iman terhadap adanya Allah SWT dapat dicapai melalui akal, dan berada dalam jangkauan akal. Usaha manusia untuk memahami hakekat Zat Allah SWT merupakan perkara yang mustahil untuk dicapai. Sebab, Zat Allah berada di luar unsur alam semesta, manusia dan hidup. Dengan kata lain berada di luar jangkauan kemampuan akal. Akal tidak mungkin memahami hakekat yang ada di luar batas kemampuannya, karena perannya amat terbatas. Seharusnya keterbatasnnya itu justru menjadi faktor penguat iman, bukan sebaliknya malah menjadi penyebab keragu-raguan dan kebimbangan.



Apabila iman kita kepada Allah SWT telah dicapai melalui proses berpikir, maka kesadaran kita terhadap adanya Allah menjadi sempurna. Begitu pula jika perasaan hati kita (yang timbul dari widjan, pent.) mengisyaratkan adanya Allah, lalu dikaitkan dengan akal, tentu perasaan tersebut akan mencapai suatu tingkat yang meyakinkan. Bahkan hal itu akan memberikan suatu pemahaman yang sempurna serta perasaan yang meyakinkan terhadap sifat-sifat ketuhanan. Dengan sendirinya, cara tersebut akan meyakinkan kita bahwa manusia tidak sanggup memahami hakekat Zat Allah. Sebaliknya hal ini justru akan memperkuat iman kita kepada-Nya. Disamping keyakinan seperti ini, kita wajib berserah diri terhadap semua yang dikabarkan Allah SWT tentang hal-hal yang tidak sanggup dicerna  atau yang tidak dapat dicapai oleh akal. Ini disebabkan lemahnya akal manusia yang memiliki ukuran-ukuran nisbi yang serba terbatas kemampuannya, untuk memahami apa yang ada di luar jangkauan akalnya. Padahal untuk memahami hal semacam ini, diperlukan ukuran-ukuran yang tidak nisbi dan tidak terbatas, yang justru tidak dimiliki dan tidak akan pernah dimiliki manusia.


 


Peran Negara Menjaga Aqidah


       Salah satu tanggung jawab negara adalah membina dan menjaga kemurnian aqidah ummat Islam. Oleh karena itu, negara menerapkan berbagai kebijakan yang saling mendukung bagi terciptanya aqidah yang bersih, kuat dan berpengaruh pada diri kaum muslimin. Pada saat yang sama, negara berupaya agar aqidah tersebut dapat tersiar keseluruh dunia agar Islam sebagai rahmatan lil ’alamiin dapat dirasakan kenikmatannya. Rasulullah SAW bersabda:

“Saya diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka hingga mereka mengucapkan kalimat Lailaha illallah muhammadun rasulullah. Apabila mereka melakukan hal tersebut maka harta, darah dan kehormatannya akan terpelihara dariku kecuali ada hak Islam atasnya dan hisab mereka di tangan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)


       Di dalam negara Khilafah Islamiyah sejumlah pilar sistemik ditegakkan untuk membentuk dan menjaga aqidah ummat, yaitu:


Pertama, negara berkewajiban untuk mendidik warga negaranya dengan kurikulum yang berbasis aqidah Islam. Kurikulum pendidikan, materi pelajaran yang diajarkan di seluruh lembaga pendidikan baik negeri ataupun swasta harus sesuai dengan aqidah Islam dan tidak boleh bertentangan sedikit pun darinya. Dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi aqidah Islam dan tsaqafah yang terpancar darinya semisal tafsir, hadits, fiqh dan shirah menjadi pelajaran wajib. Sebab fungsi utama pendidikan Islam adalah membentuk kepribadian siswa agar sejalan dengan aqidah Islam di samping memberikan pengetahuan dan keterampilan dalam menjalani kehidupan di dunia ini. 

Kedua, negara juga akan membunuh orang -orang muslim yang murtad yakni orang yang keluar dari Islam secara sengaja. Namun sebelumnya mereka diminta untuk bertaubat setidaknya selama tiga hari. Jika ia murtad karena menganggap ajaran Islam lemah maka ia akan diberikan penjelasan tentang kebenaran Islam oleh ulama yang ahli di bidang tersebut. 

Dari Jabir ia berkata: “Bahwa Ummu Marwan telah murtad, maka Rasulullah saw memerintahkan untuk menawarkan Islam padanya. Jika ia bertaubat maka diterima, namun jika tidak maka ia dibunuh.” (H.R. al-Baihaqy dan ad-Daruquthny).


Ketiga, negara melarang setiap bentuk penyebaran dan propaganda ide-ide dan prilaku yang bertentangan dengan aqidah Islam. Oleh karena itu, individu dan organisasi apapun dilarang untuk menyebarkan ide-ide pemikiran dan ideologi kufur seperti program kristenisasi, kapitalisme, sosialisme, pemikiran yang meragukan kebenaran risalah Islam, serta pemikiran yang dapat mengakibatkan kemunduran ummat. Pelakunya tak akan dibiarkan melenggang namun akan diseret ke meja hijau dan dikenakan sanksi ta’zir yang kadarnya ditetapkan oleh khalifah. 


Salah contoh ketegasan khalifah menjaga aqidah Islam adalah hukuman mati yang dijatuhkan kepada Ghilan ad-Dimasyqy oleh khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Bukan itu saja jasadnya juga disalib di pintu kota Damsyiq (al-Milal wan Nihal, hal. 48). Hal itu lantaran ia terus menyebarkan faham yang menafikan takdir Allah. Padahal sebelumnya imam Al-Auza’iy atas permintaan khalifah telah mendebat dan mematahkan argumentasinya.


Demikian pula sikap khalifah Al-Mu’tashim, ketika seorang wanita muslimah di Umuriyyah yang bernama Syurah Al-‘Alawiyah meminta tolong padanya akibat penghinaan yang dilakukan oleh orang-orang Romawi kepada kaum muslim dan pemaksaan kepada mereka untuk masuk Kristen. Beliau langsung mengirimkan pasukan untuk menumpas dan menguasai wilayah tersebut (Tarikh ad-Daulah al-‘Aliyah al-Utsmaniyyah, hal.46).


Keempat, seluruh media massa baik cetak ataupun elektronik tidak diperkenankan untuk menyiarkan berita dan program apapun yang bertentangan dengan aqidah Islam. Program-program yang berbau klenik dan porno misalnya tidak akan pernah ditolerir oleh negara. Jika melanggar ketentuan tersebut maka khalifah tidak hanya sekedar menghukum pelakunnya namun juga menghentikan operasi media tersebut.


Kelima, negara melarang setiap partai politik, organisasi atau lembaga apapun yang berdiri atas azas selain Islam seperti sekularisme dan komunisme. Hal ini karena eksistensi dan sepak terjang sebuah organisasi sangat dipengaruhi oleh azasnya. Membiarkan kelompok seperti di atas tumbuh sama saja dengan memberikan peluang bagi mereka untuk mengacak-acak aqidah ummat Islam. Belum lagi mereka dapat menjadi perpanjangan tangan negara-negara kafir untuk menghancurkan ummat Islam. Pengalaman pahit gerakan misionaris di Lebanon di akhir keruntuhan Daulah Utsmaniyah menjadi pelajaran yang sangat berharga.

  
       Keberadaan Khilafah adalah suatu kebutuhan yang sangat mendasar bagi umat saat ini. Hanya Khilafah yang bisa menjaga aqidah umat agar tetap lurus di jalan keimanan tanpa teracuni dengan ide-ide yang batil. 

Wallhu a’alam bishowab.
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: