Berdamai Dengan Corona, Narasi Cacat Dan Berbahaya

Berdamai Dengan Corona, Narasi Cacat Dan Berbahaya



Oleh : Ummu Hanif, ANggota Lingkar Penulis Ideologis


Pandemi yang menghantam negeri ini, adalah kondisi yang perlu segera disikapi. Melihat grafik jumlah pasien positif yang terus meningkat, maka kebijakan PSBB telah diambil pemerintah beberapa waktu yang lalu. Meski masih jauh dari harapan, namun paling tidak, kebijakan ini diharapkan mampu meminimalisir penyebaran. Mengingat para tenaga kesehatan juga sudah mulai kelelahan sebagai garda terdepan. Namun sangat disayangkan, justru pemerintah tidak konsisten dalam menerapkan peraturan yang telah dibuatnya.
Bagaimana tidak, akhir-akhir ini pusat pembelanjaan atau mall disesaki pengunjung. Padahal sedang diterapakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Sementara tempat ibadah masih dibatasi. (www.cnnindonesia.com, 12/05/2020)
Sekretaris jendral majelis ulama Indonesia (Sekjen MUI) Anwar Abbas mempesoalkan sikap pemerintah yang tetap melarang masyarakat berkumpul di masjid namun tidak tegas terhadap kerumunan yang terjadi di bandara, pasar, mall - mall, kantor-kantor dan pabrik-pabrik. (www.detiknews.com, 17/05/2020)
Hari ini tak ubahnya dengan kondisi sebelum wabah. Semuanya dipenuhi masyarakat yang tak peduli lagi akan ancaman corona. Entah karena bodoh atau nekat demi keadaan dan keinginan. Sementara itu, pemerintah sendiri memang terus berupaya meyakinkan bahwa sebentar lagi wabah akan usai, kurva Covid-19 akan melandai. Padahal faktanya, jumlah kasus positif corona malah terus meningkat tajam. 

Bagi masyarakat yang sadar, situasi ini tentu dirasa sangat memprihatinkan. Banyak politisi, pengamat, aktivis, akademisi, dan praktisi yang protes keras akan sikap rezim yang terus berubah dan gampangan dalam urusan nyawa rakyat. Terlebih bagi kalangan nakes yang selama ini selalu ada di garda terdepan. Nyaris setiap saat mereka berkalang nyawa demi kesembuhan pasien corona yang terus berjatuhan. Wajar jika mereka mempertanyakan, jika risiko penularan sengaja makin diperbesar, berapa lama lagi mereka harus berjuang, menahan diri jauh dari keluarga dan ketat melakukan physical distancing demi keamanan?

Selama ini pemerintah memang sudah cenderung abai dari tugasnya mengurus dan melindungi rakyat. Apalagi di saat wabah, pemerintah benar-benar kehilangan akal. Ekonomi amblas, negara seolah tak punya pegangan. Menyerahkan penyelesaian pada mekanisme seleksi alam, jelas merupakan sebesar-besarnya bentuk kezaliman. Demi alasan ekonomi, rakyat dibiarkan bebas tertular. 

Tak heran jika ada yang berpandangan, rezim hari ini sesungguhnya sedang berdiri di sisi kepentingan kapitalisme global. Karena roda ekonomi yang sedang coba kembali diputar hakikatnya adalah roda ekonomi kapitalisme global. Bukan roda ekonomi rakyat yang di situasi wabah semestinya jadi tanggungan pemerintah. Hal ini dikarenakan kita telah tersandra oleh korporasi, lihat saja kekayaan alam milik rakyat yang nyaris seluruhnya dikuasai korporasi lokal dan internasional. Bahkan hajat hidup orang banyak pun habis dibisniskan.
Bagi peradaban kapitalisme, penerapan konsep jahat seperti ini memang sah-sah saja. Karena dalam peradaban ini semua aspek, termasuk aspek kemanusiaan harus tunduk pada kepentingan modal. Itulah kenapa selama ini rakyat banyak selalu menjadi pihak yang dikorbankan. Bahkan di tengah krisis ini pun para kapitalis tetap berusaha meraup sebesar-besar keuntungan. Mulai dari industri farmasi, alat kesehatan, telekomunikasi, industri layanan berbasis online, hingga industri asuransi, infrastruktur, dan yang lainnya. Sedangkan negara hanya hadir sebagai pedagang. Penghubung antara produsen (korporasi) dan konsumen (rakyat). Tidak mampu menjadi regulator.

Tentu semua ini berbeda sekali dengan peradaban Islam. Dalam Islam, urusan nyawa rakyat menjadi hal yang diutamakan. Bahkan keberadaan syariat dan negara dalam Islam (yakni khilafah) salah satunya berfungsi untuk penjagaan nyawa manusia dan penjamin kesejahteraan hidup mereka. Penguasa dalam sistem islam memahami bahwa, amanah kekuasaan tak hanya berdimensi dunia, tapi juga berdimensi akhirat. Maka bisa dipastikan, negara dan penguasanya akan sungguh-sungguh menuaikan kewajiban. Menjadi pengurus umat sekaligus menjadi penjaganya.

Wallahu a’lam bi ash showab.
Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: